Menguji Kesetiakawanan Prabowo dengan PKS

Menguji Kesetiakawanan Prabowo dengan PKS
Jakarta, Obsessionnews.com - Banyak pihak yang mengatakan, PKS adalah sekutu paling setia Partai Gerindra. Pasalnya kedua partai ini sama-sama menyatakan berdiri sebagai partai oposisi pasca kalah bertarung melawan Joko Widodo (Jokowi) -Jusuf Kalla (JK) di Pilpres 2014 lalu. Keduanya bahkan dalam beberapa kesempatan kerap berkoalisi mengusung calon kepala daerah, seperti di Pilkada DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Namun, mendekati pendaftaran calon presiden dan wakil presiden tampaknya kesetiakawanan Gerindra terhadap PKS diuji. Pasalnya setelah lama membangun kemesraan, usaha PKS untuk mengusung kadernya sendiri sebagai cawapres mendampingi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto terancam gagal, menyusul bergabungnya Partai Demokrat yang mendukung Prabowo dengan mengajukan nama cawapres Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Gerindra sudah memberikan sinyal 95% cawapres Prabowo AHY. "AHY si boncel anak ajaib, 95 persen akan jadi cawapresnya Prabowo," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono kepada wartawan, Rabu (8/8/2018). Sementara dalam sidang Istimewa Majelis Syuro PKS yang digelar di Kantor DPP PKS, Jakarta, Selasa (7/8) malam memutuskan tiga poin penting yang sepertinya akan menentukan masa depan koalisi pendukung Prabowo. Tiga keputusan rapat Majelis Syuro PKS menegaskan, kukuhnya partai dakwah itu menginginkan posisi cawapres dengan mengawal keputusan ijtima ulama. Selain Abdul Somad rekomendasi Ijtima' GNPF Ulama juga mengusung kader PKS yakni Salim Segaf Aljufri. "Kami apresiasi, menyetujui dan mengawal hasil rekomendasi Ijtima' Ulama GNPF Ulama yang menetapkan dua paslon capres dan cawapres 2019-2024," kata Presiden PKS Sohibul Iman. PKS tak goyah untuk mengawal hasil ijtima ulama. Majelis Syuro PKS memberikan mandat kepada Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) yang merupakan Badan Pekerja Majelis Syuro untuk membangun komunikasi poltik dalam rangka pembentukan koalisi bersama mitra koalisi. Sampai saat ini pun PKS masih menunggu kejelasan Prabowo untuk menentukan cawapres dengan terus melakukan komunikasi. Prabowo Rabu (8/8) akhirnya bertemu dengan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al Jufri, di kediaman Salim di Pejaten Jakarta Selatan. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyatakan, pertemuan Prabowo dengan Salim tidak lain untuk mengajak PKS agar tetap bergabung dengan dalam koalisi bersama Gerindra. "Ya bisa juga begitu. Kami punya limit waktu untuk menetapkan segera pasangan yang akan berpasangan dengan cawapres Pak Prabowo. Sehingga dalam waktu dekat komunikasi intens harus dikomunikasikan kepada partai-partai yang kiranya bisa berkolalisi dengan Gerindra," kata Dasco. Sedangkan Sohibul sudah lebih mengingatkan, koalisi parpol bisa buyar bila Prabowo tidak memilih satu dari dua nama cawapres yang direkomendasikan Ijtima' GNPF Ulama, yakni Salim Segaf Aljufri atau Abdul Somad. "Begitu tidak dipilih hasil ijtima' ulama, maka konstelasi koalisi bukan mengerucut, tapi makin buyar. Nah, di situlah cawapres PKS yang sembilan tentu tetap bisa hidup," kata Sohibul. Sementara itu Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyakini PKS akan tetap bersama Gerindra, meski kemungkinan PKS membentuk poros ketiga masih ada. "Saya kira apa yang menjadi keputusan majelis syuro hari ini ya kita hormati. Insya Allah, pasti ada titik temu," ujar Muzani seusai rapat internal dengan Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Kertanegara, Jakarta, Selasa (7/8). (Albar)