Ini Kisah Penjual Gorengan Jadi Gubernur

Jakarta, Obsessionnews.com - Keterbatasan ekonomi ternyata tak bisa membendung cita-cita seseorang yang ingin menggapai ilmu setinggi mungkin. Seperti yang dikisahkan oleh istri Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher), yakni Netty Prasetiyani, kepada anak-anaknya soal cerita ‘Asep Penjual Gorengan’. Cerita ini menarik sekali untuk dijadikan panutan bagi kita semua. Aher lahir dari kalangan miskin di daerah Sukabumi, Jabar, merupakan anak kampung yang menjadi ulama dan umaro yang amanah, soleh, dan berprestasi. Asep, yakni panggilan kecil Aher sewaktu duduk di bangku SD. Asep tinggal bersama neneknya dari kalangan yang kurang mampu. Setiap berangkat sekolah tak beralas kaki, Asep menyempatkan dirinya untuk berjualan gorengan. Hal tersebut dilakukan Asep karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, dan rasa malu pun sudah tak dihiraukan lagi. Terkenal dengan kutu bukunya, di luar waktu sekolah, Asep mengisi waktu luangnya dengan belajar dan membaca buku. Sering sekali ia membaca buku dengan semangat di atas pohon, padahal di bawah dekat pohon itu ada kuburan. Saat suasana mulai gelap, barulah ia turun dari pohon tersebut. selain membaca buku Asep juga sering membaca Al-Qur’an di masjid. Selain gemar mendapatkan ilmu umum di sekolah, ia pun senang belajar ilmu-ilmu agama Islam. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, serta seiringnya waktu berjalan Asep bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Pada saat SMA, minat dan semangatnya terkait agama menyebabkan Asep aktif di rohis (kerohanian Islam). Keilmuan Asep di bidang agama pun mulai diakui oleh masyarakat. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah sering menjadi ustadz muda yang diminta berceramah dari satu kampung ke kampung lainnya. Dalam menyampaikan ceramahnya, Asep menggunakan bahasa yang sistematis dan jelas. Para hadirin pun terpesona dengan penjelasan Asep yang sederhana dan mudah dipahami. Di kesempatan yang sama, ada seorang wanita yang matanya terlihat sembap ketika mendengarkan ceramah dari Asep, air mata pun mengalir membasahi pipi. Tetesan air mata wanita itu merupakan bentuk rasa syukurnya kepada Allah, karena Asep diberi karunia ilmu agama dan dipercaya oleh masyarakat. Ternyata, wanita yang menangis itu adalah ibunda Asep yang saat itu ikut hadir dalam acara tersebut. Setelah lulus SMA, Asep diterima kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Namun, dengan berat hati ia tidak dapat melanjutkan kuliahnya tersebut, karena Asep sedang memprioritaskan adik-adiknya yang masih sekolah dan perlu biaya yang banyak. Ia pun sempat diterima di IAIN Sunan Gunung Djati (sekarang UIN Sunang Gunung Djati). Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Asep berusaha mencari beasiswa. Alhamdulillah, pada saat itu ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud Saudi Arabia cabang Asia Tenggara. Asep mendaftar dan lulus dengan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Arab dan ilmu syariah di universitas tersebut. Asep belajar dengan tekun sehingga berhasil lulus kuliah. Setelah lulus, Asep terus aktif dalam dunia dakwah. Ia pun dikenal oleh masyarakat sebagai salah seorang da‘I yang juga aktif dalam bidang pendidikan dan politik. “Nah, Asep yang dulu penjual gorengan itu sekarang ada di rumah kita,” pungkas Bu Netty sambil tersenyum mengakhiri cerita kepada anak-anaknya. “Oh, jadi Asep penjual gorengan itu Bapak, ya?” Itulah ungkapan yang muncul dari anak-anak saat pertama kali mendengar cerita ‘Asep Penjual Gorengan’,” tambah Bu Netty. Ini adalah kisah nyata Gubernur Jawa Barat saat masih kecil, di daerah Sukabumi. Asep itu adalah panggilan Pak Ahmad Heryawan waktu kecil. Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud cabang Asia Tenggara itu bernama LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang bertempat di Jakarta dan merupakan kampus tempat Pak Ahmad Heryawan dahulu berkuliah dan menimba ilmu bahasa Arab dan keislaman. (Poy)





























