Pakan Lokal Ternak Perlu Dikembangkan di Indonesia

Purwokerto,Obsessionnews.com - Kebutuhan bahan pakan asal jagung tertinggi ada pada ternak unggas ayam broiler 57% dan ayam petelur 71%. Hal ini tentu menjadi peluang stakeholder peternakan untuk bisa mengembangkan potensi bahan pakan lokal yang bisa dikembangan di Indonesia. Demikian paparan Direktur Pakan Kementerian Pertanian Ir. Rr Sri Widayati MM dalam Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri VI yang bertemakan Pengembangan Sumberdaya Genetik Ternak Lokal Menuju Swasembada Pangan Hewani ASUH yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (7/7/2018). Paparan ini juga dibenarkan oleh Ketua Umum ISPI Prof Dr Ir Ali Agus DAA, DEA yang Dekan Fakultas Peternakan UGM, yang menyatakan bahwa pakan unggas menyerap proporsi 60% di Indonesia. Sehingga potensi-potensi daerah yang semestinya bisa dikembangkan tidak lagi menjadi barang yang dipasok dari luar. Menurutnya, peran serta stakeholder peternakan kian hari semestinya kian meningkat. Kerjasama antara pemerintah, akademisi dan peternak sudah semestinya berjalan beriringan dan bergandengan dengan erat untuk meningkatkan Sumber Daya Genetik ternak lokal Indonesia. Dosen Institut Pertanian Boor (IPB) Prof Dr Ir Muladno Basar MSA yang pernah menjabat sebagai Dirjen Peternakan tahun 2015 menegaskan, karakteristik peternak yang terdiri dari tak terkonsolidasi yaitu tidak bersatu dan berjalan sendiri-sendiri. “Kondisi saat ini yaitu peternak yang lemah dan tidak bersatu yang mengakibatkan ternak lokal tidak terurus,” tandas dia.
Meski demikian, lanjutnya, pemerintah sama saja selalu cenderung sendiri-sendiri yang mengakibatkan tidak kompaknya para stakeholder. Sehingga, seminar ini diharapkan dapat memperkokoh pemahaman pada pemerintah yang turut hadir dan akademisi yang berkecimpung di segala bidang pembelajaran turun beriringan demi peternakan Indonesia yang lebih baik. Seminar ini dihadiri 120 peserta, 71 pemakalah dari 22 institusi dari berbagai universitas yaitu 16 Universitas dan instansi yang sejalur dengan bidang peternakan, seperti BBPKH Cinagara, Bogor, LIPI, Balitnak, Berkah Global Bisnis, dan Direktorat Pakan Dirjen Peternakan. Acara seminar nasional dibuka oleh Rektor baru Unsoed Prof Dr Ir Suwarto MS. Sesi awal yang dimoderatori oleh Dr.Ir.Elly Tugianti,MP berjalan cukup lancar dengan bahasan-bahasan yang cukup up to date pada saat ini. Kenaikan harga nilai tukar dollar saat ini menjadi pemicu naiknya harga bahan pakan ternak yang kian dikeluhkan peternak. Hal ini yang seharusnya menjadi pokok fikir para stakeholder peternakan baik akademisi, instansi pemerintah, dan peternak / petani atau masyarakat lebih umumnya untuk berperan aktif mengurangi angka importasi bahan pakan yang dampaknya akan mengurangi biaya-biaya yang keluar dari bisnis peternakan. (Red)
Meski demikian, lanjutnya, pemerintah sama saja selalu cenderung sendiri-sendiri yang mengakibatkan tidak kompaknya para stakeholder. Sehingga, seminar ini diharapkan dapat memperkokoh pemahaman pada pemerintah yang turut hadir dan akademisi yang berkecimpung di segala bidang pembelajaran turun beriringan demi peternakan Indonesia yang lebih baik. Seminar ini dihadiri 120 peserta, 71 pemakalah dari 22 institusi dari berbagai universitas yaitu 16 Universitas dan instansi yang sejalur dengan bidang peternakan, seperti BBPKH Cinagara, Bogor, LIPI, Balitnak, Berkah Global Bisnis, dan Direktorat Pakan Dirjen Peternakan. Acara seminar nasional dibuka oleh Rektor baru Unsoed Prof Dr Ir Suwarto MS. Sesi awal yang dimoderatori oleh Dr.Ir.Elly Tugianti,MP berjalan cukup lancar dengan bahasan-bahasan yang cukup up to date pada saat ini. Kenaikan harga nilai tukar dollar saat ini menjadi pemicu naiknya harga bahan pakan ternak yang kian dikeluhkan peternak. Hal ini yang seharusnya menjadi pokok fikir para stakeholder peternakan baik akademisi, instansi pemerintah, dan peternak / petani atau masyarakat lebih umumnya untuk berperan aktif mengurangi angka importasi bahan pakan yang dampaknya akan mengurangi biaya-biaya yang keluar dari bisnis peternakan. (Red) 




























