Buku Terbaru Rhenald Kasali: Self Disruption 

Buku Terbaru Rhenald Kasali: Self Disruption 
Jakarta, Obsessionnews.com - Prof.  Rhenald  Kasali  kembali  hadir  dengan  karya  terbarunya,  Self  Disruption.  Buku  ini masih  mengangkat  tema  yang  senada  dengan  buku  sebelumnya  yang  best-seller,  yaitu disruption, isu yang saat ini sedang marak dalam bisnis. Kali  ini  Rhenald  mengajak  kita  untuk  melihat  dampak  disruption  pada  tiap-tiap industri.  Mereka  yang  berada  di  dalam  bisnis  high-tech  sudah  menjadi  Digital  Master. Demikian pula, walaupun tak setinggi high-tech company, sektor retail dan perbankan wajib menjalankan self-disruption. Industri ini tengah dipimpin pemain-pemain baru yang bekerja dengan  cara-cara  baru  dan  pemain-pemain  lama  yang  revolusioner ,  sedangkan  yang  tak berubah  hanya  bisa  meratap  dan  menangis  bak  anak  kecil  yang  diambil  mainannya. Sekarang,  kita  jadi  paham  mengapa  sektor  retail  Indonesia  mengalami  guncangan  yang besar sepanjang tahun 2017–2018? Selain tidak memiliki visi digital, rata-rata retail business Indonesia  juga  kurang  memiliki  digital  leadership  yang  mampu  mengarahkan  mereka  ke masa depan baru. Tak ada visi yang kuat, apalagi menerjemahkannya ke dalam dunia baru. Lantas bagaimana dengan sektor lainnya? Industri lainnya yang terlena, antara lain adalah sektor manufaktur dan tambang. Untuk sementara mereka merasa nyaman. Demikian pula pemerintah  yang “buta” yang  tak membaca  peta perubahan.  Ini berbeda  dengan  negara-negara  kecil  yang  adaptif  yang  justru  menjadi  digital  master.  Tambang,  manufaktur,  dan farmasi benar-benar terlena. Padahal, tentu saja terjadi perubahan-perubahan mendasar di dalamnya. Self-Disruption: Instropeksi untuk Aksi Ketika tanda-tanda era disrupsi semakin nyata, masih banyak yang berpikir semua itu terjadi “di  luar  sana”  dan  “masih  jauh”.  Mereka  terpaku  pada  “faktor  eksternal”,  bukan  melihat kedalam diri (faktor internal), lalu melakukan self-disruption. Mereka masih berpikir segala yang  berubah  itu  karena  terjadi  perlambatan  ekonomi,  melemahnya  daya  beli,  dan seterusnya. Ironisnya, ekonom konvensional pun mengaburkan kebenaran-kebenaran baru yang tak mereka lihat karena mereka semua menyangkalnya. Sikap Anda dan perusahaan Anda terhadap fenomena disrupsi yang semakin nyata ini, akan menentukan  apakah  kita  bertipe  konservatif  atau  mastery.  Dan  ketika  kita  salah menempatkan  diri  bakal  menghadapi  serangan-serangan  besar  dari  para  disruptor.  Oleh karena itu, self-disruption menjadi amat penting. Lantas,  bagaimana  caranya  agar  kita  dan  bisnis  kita  tidak  terdisrupsi?  Lagi-lagi  pilihannya hanya  satu,  yakni  Anda  harus  berani  mendisrupsi  diri  dan  bisnis  Anda  sendiri  terlebih dahulu. Harus berani melakukan  self-disruption! Be disruptive, or you will be disrupted. Melalui buku Self-Disruption ini, kita bisa mendapatkan fakta dan inspirasi penting dalam mengarungi samudera disrupsi, sekaligus menjadi pemenang. Buku Self Disruption diterbitkan oleh Mizan dan saat ini sudah bisa didapatkan di toko-toko buku di Indonesia. [red/arh]