PWI Beri Penghargaan Anggota DPR Peduli Infrastruktur

Indramayu, Obsessionnews.com– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Kabupaten Indramayu memberikan penghargaan kepada Anggota Komisi V DPR RI, Drs Yoseph Umarhadi MSi MA karena dianggap telah membantu dan perduli terhadap pembangunan infrastruktur, terutama di daerah pemilihannya Jabar VIII yaitu daerah Indramayu dan Cirebon. PWI menilai sosok Yoseph layak untuk diberikan penghargaan, karena telah menaruh perhatian dan memberikan banyak kontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Indramayu. Dari perjuangannya itu kini manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat. “Yoseph Umarhadi, adalah salah satu diantara sejumlah tokoh yang mendapatkan penghargaan dari PWI. Penilaian tersebut didasarkan pada dari kontribusi yang diberikan beliau terhadap pembangunan di Kabupaten Indramayu, khususnya dibidang pembangunan infrastruktur. Penghargaan ini sebagai bentuk terima kasih kami sebagai masyarakat Indramayu dalam hal ini para wartawan melalui wadah organisasi PWI,” kata Agung pada acara pemberian reward di malam puncak perayaan HPN 2018, di gedung Wisma Dharma, Indramayu, Senin (26/2/2018). Pada kesempatan itu, Yoseph Umarhadi, mengaku bersyukur atas penghargaan dari PWI Indramayu. Kendati demikian, penghargaan tersebut tidak memberikan dirinya merasa puas, akan tetapi dituntut untuk terus berkarya dan berjuang membantu masyarakat. Sebagai wakil rakyat dirinya wajib membantu memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya daerah pemilihannya. ” Menurut saya, ini (penghargaan red) merupakan amanat, agar kita bekerja untuk rakyat bisa lebih baik lagi. Terutama dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, khususnya pada bidang infrastruktur. Karena saya di Komisi V yang membidangi pembangunan infrastruktur, perhubungan dan perumahan rakyat serta pembangunan daerah tertinggal,” ujarnya. Yoseph, merasa bersyukur, karena dari upaya perjuangannya membawa dan mengawal aspirasi masyarakat didapilnya, seperti di Kabupaten Indramayu banyak yang terealisasi. Seperti pembangunan bendungan Waledan, Kecamatan Cantigi, revitalisasi bendungan Sumur Watu, Terisi, embung Desa Loyang, waduk Cipancuh, Embung Sidadadi, Haurgeulis dan pengembalian fungsi dan normalisasi sungai di Desa Anjatan Utara, serta infrastruktur lainnya. “Alhamdulillah pada tahun 2017 hingga sekarang dibangun bendungan karet sekaligus normalisasi Kali Perawan, Kandanghaur. Sebelumnya, normalisi dan membangun jembatan Kali Perawan perbatasan Kecamatan Kandanghaur dengan Bongas,” imbuhnya. Pembangunan infrastruktur tersebut tentunya upaya Pemerintah dalam menanggulangi kekeringan dan banjir. Karena di Kabupaten Indramayu ini, merupakan daerah penghasil pangan terbesar dari pertanian. Kabupaten Indramayu ini perlu kiranya diperhatikan dengan membangun atau memperbaiki sarana penunjangnya. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu yang terus berupaya meningkatkan produksi hasil pertanian,” terangnya.
Atasi Banjir di Cirebon Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harus turun melihat kondisi Sungai Cisanggurang pasca banjir bandang di wilayah timur Cirebon belum lama ini. Mereka perlu menyusuri sungai itu mulai dari hulu sampai ke hilirnya. “Untuk melihat betapa masifnya industri batu bata merah yang tidak berijin di sana,” kata Anggota Komisi V DPR Yoseph Umarhadi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/3). Yoseph menyatakan, tiga hari sesudah banjir bandang di wilayah Cirebon itu, Minggu (4/2/2019), dirinya langsung turun ke lokasi, persis dipertigaan Sungai Cisanggurang dan Sungai Cijangkelak. Dia ingin memastikan penyebab banjir bandang yang melanda 5 kecamatan. Sebelumnya Yoseph sudah menerima laporan dari masyarakat banjir yang melanda pemukiman penduduk diakibatkan tanggul sungai jebol. “Ternyata benar, tanggul jebol, sehingga ketika malam harinya hujan deras , debit air sungai sudah diatas normal, mencapai 1200 m3/detik,” kata Yoseph. Sebetulnya, tanggul masih mampu menahan luapan air hujan yang begitu deras. Tetapi kata politisi senior PDI Perjuangan ini, kondisi tanggul sudah kritis. Dari penelusurannya, ternyata di sana ada aktivitas masyarakat membuat batu bata merah dengan mengambil tanah dari tanggul untuk bahan pembuatan batu bata tersebut. “Jadi tanggul Sungai Cisanggurang jebol karena kondisinya sudah kritis, tidak mampu menahan luapan air. Ini tidak pernah dilaporkan sehingga tidak ditangani,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII ini. Dari pantauannya di lapangan, ternyata ada 600 titik yang kritis ditanggul sungai itu. Yoseph mengingatkan, tidak boleh ada kegiatan atau aktivitas disepanjang tanggul sungai, apalagi sampai memproduksi batu bata. Tanggul kata dia untuk keselamatan jiwa manusia. “Kalau masih ada aktivitas masyarakat disepanjang tanggul, itu akan jadi bom waktu yang bisa menimbulkan kerugian besar termasuk korban jiwa . Ketika kritis, tak bisa ditangani,” tandas Yoseph sembari menuturkan, aktivitas di tanggul sungai harus dihentikan supaya banjir tidak terulang lagi. (Red)
Atasi Banjir di Cirebon Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harus turun melihat kondisi Sungai Cisanggurang pasca banjir bandang di wilayah timur Cirebon belum lama ini. Mereka perlu menyusuri sungai itu mulai dari hulu sampai ke hilirnya. “Untuk melihat betapa masifnya industri batu bata merah yang tidak berijin di sana,” kata Anggota Komisi V DPR Yoseph Umarhadi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/3). Yoseph menyatakan, tiga hari sesudah banjir bandang di wilayah Cirebon itu, Minggu (4/2/2019), dirinya langsung turun ke lokasi, persis dipertigaan Sungai Cisanggurang dan Sungai Cijangkelak. Dia ingin memastikan penyebab banjir bandang yang melanda 5 kecamatan. Sebelumnya Yoseph sudah menerima laporan dari masyarakat banjir yang melanda pemukiman penduduk diakibatkan tanggul sungai jebol. “Ternyata benar, tanggul jebol, sehingga ketika malam harinya hujan deras , debit air sungai sudah diatas normal, mencapai 1200 m3/detik,” kata Yoseph. Sebetulnya, tanggul masih mampu menahan luapan air hujan yang begitu deras. Tetapi kata politisi senior PDI Perjuangan ini, kondisi tanggul sudah kritis. Dari penelusurannya, ternyata di sana ada aktivitas masyarakat membuat batu bata merah dengan mengambil tanah dari tanggul untuk bahan pembuatan batu bata tersebut. “Jadi tanggul Sungai Cisanggurang jebol karena kondisinya sudah kritis, tidak mampu menahan luapan air. Ini tidak pernah dilaporkan sehingga tidak ditangani,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII ini. Dari pantauannya di lapangan, ternyata ada 600 titik yang kritis ditanggul sungai itu. Yoseph mengingatkan, tidak boleh ada kegiatan atau aktivitas disepanjang tanggul sungai, apalagi sampai memproduksi batu bata. Tanggul kata dia untuk keselamatan jiwa manusia. “Kalau masih ada aktivitas masyarakat disepanjang tanggul, itu akan jadi bom waktu yang bisa menimbulkan kerugian besar termasuk korban jiwa . Ketika kritis, tak bisa ditangani,” tandas Yoseph sembari menuturkan, aktivitas di tanggul sungai harus dihentikan supaya banjir tidak terulang lagi. (Red) 




























