Pencapresan Jokowi

Pencapresan Jokowi
Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif The Global Future Institue   Pencapresan Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 lebih awal oleh PDI-P membuat Jusuf Kalla (JK) sulit memainkan kartu-kartu politiknya dalam skema kerja samanya dengan Jokowi dan Megawati. Sebaliknya kalau JK keluar dari skema kerja saama dengan Mega dan Jokowi, maka JK belum tentu bisa mengarahkan dinamika politiknyang berlangsung nanti. Sebagai orang yang merasa ikut memotori pencalonan Anies sebagai gubernur DKI Jakarta, JK bermaksud memainkan Anies sebagai alat tawar buat kepentingannya sendiri pada 2019 nanti. Namun, ketika manuver mendadak Mega mencapreskan Jokowi, maka berbagai elemen internal PDI-P termasuk JK berikut koalisi parpol yang melekat pada dirinya (PKB, Nasdem, dan Hanura). tiba tiba mati langkah. Sekarang tinggal menunggu langkah kuda JK, melawan skema rancangan Mega dan PDI-P ini, dengan menggalang formasi baru di luar skema Mega-Jokowi. Atau terima nasib aja. Ini menarik. Karena dampak ikutanya juga bisa mengimbas pada Golkar. Meski Airlanga sebagai ketum partai beringin juga atas restu JK, amun hal itu merupakan buah kesepakatan taktis antara JK dengan Ginandjar Kartasasmita dan Luhut Panjaitan. Menariknya lagi. Sekjen Golkar Loedewik sejatinya merupakan orang titipannya Hendropriyono dan orang dekat Moeldoko. Artinya. Golkar pun yang notabene merupakan basis dan habitat JK, kali ini bukan medan yang sepenuhnya JK  kuasai. Menurut saya, satu-satunya opsi JK yang masih terbuka yakni mendorong formasj baru atas dasar skema kerja sama Prabowo-Anies. . Atau lebih indah lagi kalau JK dan Prabowo Subianto sama-sama sepakat jadi king maker memunculkan sosok- sosok baru yang berkualitas dan berintegritas tinggi sebagai pimpinan nasional.