Dinakhodai Suprajarto, BRI Semakin Ciamik!

Jakarta, Obsessionnews.com - Seseorang yang menduduki kursi Chief Executive Officer (CEO) atau Pejabat Eksekutif Tertinggi di sebuah perusahaan, tentu bukan orang sembarangan. Seorang CEO memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Selain itu juga bertanggung jawab besar dalam menakhodai perusahaan agar semakin berkembang. Tahun 2017 terjadi suksesi kepemimpinan di tubuh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BRI yang digelar di Jakarta, Rabu (15/3/2017), mengangkat Suprajarto sebagai Direktur Utama (Dirut). Suprajarto menggantikan Asmawi Syam yang habis masa jabatannya pada Maret 2017. Sebelum diangkat menjadi CEO BRI, Suprajarto menjabat sebagai Wakil Direktur Utama BNI. Suprajarto bukan orang baru di BRI. Pria kelahiran 1956 yang mendapatkan gelar S1-S3 dari Universitas Padjadjaran (Unpad) itu sempat menjabat sebagai Direktur Jaringan dan Layanan BRI pada 2007-2015. Selain itu, juga sempat menjadi Pemimpin Wilayah Jakarta- Kantor Wilayah Jakarta 1 BRI pada 2006-2007 dan Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan BRI pada 2005-2006. Sejak dipercaya menjadi Dirut bank milik pemerintah tersebut Suprajarto bekerja ekstra keras. Belum setahun menduduki kursi Dirut BRI, Suprajarto mampu membuat BUMN ini semakin ciamik! Bukti keberhasilan kepemimpinan Suprajarto adalah BRI mencatatkan kinerja cemerlang di sepanjang tahun buku 2017. BRI mampu meraih laba bersih secara konsolidasi senilai Rp.29,04 Triliun atau tumbuh 10,7% year on year. Hal ini disampaikan pada Press Conference Laporan Keuangan Bank BRI Triwulan IV tahun 2017 di Jakarta, Rabu (24/1/2018). Perolehan laba tersebut ini tak lepas dari penyaluran kredit BRI yang tumbuh double digit dan berada di atas rata rata industri perbankan nasional. Tercatat penyaluran kredit BRI secara konsolidasi hingga akhir Desember 2017 sebesar Rp.739,3 Triliun atau tumbuh 11,4% dibandingkan penyaluran kredit pada posisi akhir Desember 2016 yang mencapai Rp.663,4 Triliun. Penyaluran kredit BRI masih didominasi oleh kredit kepada segmen UMKM yang mencapai 74,6% dari total portofolio kredit BRI. Ini selaras dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo, dimana perbankan diharapkan menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik dan terus memberdayakan para pelaku usaha mikro dan kecil. BRI juga menargetkan porfotolio kredit UMKM terus meningkat hingga mencapai 80% dari total keseluruhan kredit BRI. Loan to deposit ratio (LDR) konsolidasian BRI pun berada di kisaran angka yang ideal, yakni sebesar 87,8%. Penyaluran kredit BRI secara konsolidasi sebesar Rp.739,3 Triliun masih didominasi oleh penyaluran kredit mikro yakni sebesar Rp.239,5 Triliun, kredit konsumer Rp.114,6 Triliun, kredit ritel dan menengah 197,8 Triliun dan kredit korporasi Rp.187,4 Triliun. Bank BRI juga tetap prudent, dengan mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkan.Hal itu tercermin dari rasio NPL gross konsolidasian pada akhir Desember 2017 sebesar 2,2% atau dibawah rata rata industri perbankan nasional. Bank BRI juga berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp.69,4 Triliun kepada lebih dari 3,7 juta debitur baru selama periode Januari hingga Desember 2017. Dari jumlah KUR yang telah disalurkan tersebut, sebesar 41% telah digunakan untuk sektor produktif. Apabila dihitung mundur sejak KUR skema baru diluncurkan pada Agustus 2015, BRI telah berhasil menyalurkan KUR skema baru senilai Rp.155 Triliun kepada lebih dari 8,6 juta debitur. Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut dapat tercapai selaras dengan kinerja penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga tumbuh mencapai double digit. Tercatat, per akhir Desember 2017 DPK BRI secara konsolidasi sebesar Rp.841,7 Triliun atau tumbuh 11,5% yoy. Dana murah (CASA) pun masih mendominasi DPK BRI dengan proporsi mencapai 59%. Ini sejalan dengan strategi perseroan dimana memang BRI fokus untuk menghimpun dana dana murah sehingga mampu menekan biaya operasional dan dapat memberikan suku bunga yang kompetitif bagi masyarakat. Aset perseroan secara konsolidasi pun ikut terkerek naik dari Rp.1.003,6 triliun di akhir 2016 menjadi Rp.1.126,2 Triliun di akhir 2017 atau tumbuh sebesar 12,2%. BRI optimistis di tahun 2018 kredit mampu tumbuh sebesar 10-12% dengan fokus utama tetap pada pemberdayaan UMKM sehingga BRI mampu menjadi salah satu motor penggerak untuk menunjang pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi lebih berkualitas. Faktor lain yang mendorong kinerja Bank BRI yakni perolehan fee based income (FBI) yang tumbuh 13,2% yoy, dari Rp.9,2 triliun di akhir 2016 menjadi Rp.10,4 Triliun di akhir 2017. Bank BRI terus meningkatkan porsi sumber sumber pendapatan baru d lluar pendapatan bunga, karena trennya suku bunga ke depan akan semakin menurun. Salah satu strateginya yakni dengan memperkuat transaction banking serta pemanfaatan digital banking. (arh)





























