Antara Towaf dan Tahun Baru

Oleh: Habil Marati, Anggota DPR RI periode 1999-2009 Berapa banyak orang mampu secara duit tidak mampu melakukan perjalanan Umroh dan Haji. Demikian juga berapa banyak orang tidak cukup memiliki duit tapi mampu melakukan perjalanan Umroh dan Haji. Alangkah rugi besarnya bagi orang orang yang ber duit tapi tidak ada getaran hati untuk melakukan ibadah Umroh dan Haji. Sementara itu berapa banyak orang orang tidak cukup duit tapi hatinya bergetar untuk memenuhi panggilan hatinya untuk melakukan ibadah Umroh dan Haji dengan cara menjual tanahnya, bahkan menabumg puluhan tahun untuk membiayai ibadah Umrohnya maupun Hajinya. Kenyataannya, manusia tidak hanya bicara antara orang kaya dan orang miskin, tidak juga hanya bicara berduit dan tidak berduit, dan juga tidak hanya bicara antara orang berjabatan dan tidak berjabatan, akan tetapi juga berbicara terpanggil oleh Allah dan tidak terpanggil oleh Allah. Demikian juga antara manusia yang dalam dirinya hadir ada kehendak Allah dan yang dalam dirinya tidak ada kehendak Allah. TOWAF adalah bukan ritual untuk belanja materialistik, Towaf bukan juga untuk memperbanyak jabatan dan kekuasaan, Demikian juga Towaf bukan untuk mengukukuhkan hawa napsu, kesombongan, kemunafikan, keangkuhan dan hedonisme. Akan tetapi Towaf memiliki fungsi untuk menarik kembali manusia kepusaran kemutlakan kekuasaan Allah pada manusia. Towaf tidak hanya memiliki makna simbolik tapi juga memiliki makna akan situasi manusia di Alam setelah mati. Towaf juga memiliki fungsi yaitu manusia yang hadir untuk bertowaf bertujuan membersihkan diri dari sifat sifat kesombongan, keangkuhan,perasaan super dengan harta dan jabatan dan kekuasaannya, rakus, Tamak, materialisme dan hedonisme. Dengan kata lain Towaf adalah membersihkan diri dari sifat sifat kebinatangan. Di dalam Towaf terkandung derajat kejujuran yang sangat tinggi yaitu manusia sama satu sama lain, apapun pangkatmu, apapun jabatanmu, apapun status sosialmu, berapun jumlah tabungan dan depositomu di Bank dan seberapa luas dan besarnya rumahmu, ketika kamu hadir bertowaf di masdjid Haram didepan Kabah, suka atau tidak suka kamu hanya diperbolehkan menggunakan kain Kafan ihram tanpa design tanpa jahitan dan ini berlaku untuk semua kelas manusia. Semua simbol simbol dan pernik pernik status sosialmu ketika kamu ber towaf kamu menguburnya sedalam dalamnya. Demikian juga halnya bagi wanita praktek hijab wajib di gunakan di sini, bagi wanita kematian itu tidak menggugurkan kewajiban menutup aurat. Disamping itu Towaf juga mengandung ilmu toleransi murni tanpa skat skat Ras, Suku, Agama dan idiologi, Suku apa saja dan Ras apa saja menyatu pada pusaran dan putaran kekuasaan Allah SWT, hakikat untuk ber toleransi itu faktanya dasarnya adalah harus ber Islam. Oleh karena itu jangan ajarkan pada Umat Islam tentang ber toleransi, sebab Towaf itu sendiri mengandung ajaran toleransi secara alamiah dan bersifar kemanusian. Dengan kata lain Towaf itu mepraktek toleransi pada semua Ras dan Suku Suku. Towaf adalah kegiatan exclusive dari Allah pada umat Islan yang tidak akan pernah terjadi pada Agama agama lain di muka bumi ini. Sementara itu, Perayaan Tahun Baru adalah pertarungan antara orang kaya dan orang miskin. Bagi orang kaya biaya yang di keluarkan untuk merayakan pergantian Tahun baru cukup besar, biaya untuk menginap di hotel hotel mewah, bahkan disertai mabuk mabukan. Hal ini di dorong oleh napsu hedonisme, kesombongan diri, persaingan status sosial, pertarungan keunggulan status sosial, perasaan angkuh dan individualisme dan materialismi, akan tetapi bagi orang orang miskin tidak akan menjual hartanya atau menguras tabungannya hanya untuk membiayai merayakan tahun baru. Ini bedanya substansial terhadap hadirnya Allah pada manusia dan tidak hadirnya Allah pada diri manusia. Selanjutnya bahwa perayaan tahun baru adalah pertarungan Status sosial, napsu, kesombongan, sexy dan mengumbar aurat serta pertarungan materialisme, hura hura dan pemborosan. Disamping itu perayaan tahun baru cenderung tidak tolerans dan merusak cosmopolitan. Perayaan tahun baru mempetontonkan ketimpangan sosial serta tidak memiliki nilai tambah bagi Kehidupan sosial. Di samping itu perayaan tahun baru juga mengedukasi pada generasi muda Bangsa Indonesia untuk berprilaku hedonisme, materialisme, kesombongan serta persaingan status sosial antar Ras dan suku, yang pada akhirnya memperlebar kesenjangan sosial. Orang miskin menabung bertahun tahun dan menjual hartanya untuk memenuhi panggilan Rabnya ber Haji dan ber Umroh, sementara orang orang kaya mennggu pergantian tahun baru untuk memenuhi panggilan Status sosialnya dan egoismenya dan melupakan siapa yang menciptakan mereka untuk pertama kalinya. (***)





























