Inilah Catatan Akhir Tahun Ketua Komisi I DPR RI di Tahun 2017

Inilah Catatan Akhir Tahun Ketua Komisi I DPR RI di Tahun 2017
Jakarta, Obsessionnews.com -  Menjelang pengujung tahun 2017, Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari  memiliki beberapa cacatan penting.  Anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyoroti persoalan legislasi Undang-Undang (UU), TNI,  perbatasan negara, persoalan luar negeri, dan kasus-kasus di kancah Internasional.   Baca Juga:FOTO Ketua Komisi I DPR Makan Bersama WartawanDonald Trump Harus Cabut Pernyataannya Soal Yerusalem!   “Selama tahun 2017 ini, sebagai Ketua Komisi I DPR ada satu kebanggaan tersendiri, yaitu kita memiliki kekompakan dan kebersamaan yang kuat bersama seluruh anggota DPR Komisi I. Hanya memang di 2017 ada yang kurang, yaitu persoalan draf UU Penyiaran yang dari awal Februari 2017 hingga sekarang masih di Baleg (Badan Legislasi) DPR, belum selesai proses harmonisasi. Kita akan kirimkan surat kepada pimpinan DPR, agar draf yang sudah hampir satu tahun ini bisa segera dibahas lebih lanjut,” ucap Kharis di Kawasan Senayan, Jakarta, Senin (11/12/2017). Dalam siaran pers yang diterima Obsessionnews.com, Selasa (12/12), pria yang memiliki hobi bersepeda ini juga menyoroti persoalan perbatasan antara negara Indonesia dengan tetangga negaranya, seperti Malaysia. “Kita (Komisi I DPR) juga telah melihat langsung titik perbatasan antar negara di tengah laut, dengan melihat langsung koordinat batas Indonesia dan Singapura. Bahkan saat ini, masih ada 4.000 pulau yang belum kita berikan nama, agar tak diambil atau diakui oleh negara lain,” tutur Kharis yang merupakan putra daerah asal Purworejo, Jawa Tengah, ini. Tak hanya itu, wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah V ini juga menyoroti persoalan masih kurangnya rumah dinas untuk anggota TNI. Saat ini jumlah TNI mencapai 500 ribu personil lebih, sedangkan rumah dinas mereka hanya mencapai 200 ribu. “Ini juga menjadi sorotan kita. Kita harapkan kepada Panglima TNI yang baru ini dapat memberikan solusi. Apalagi kita banyak menerima aduan dari masyarakat soal sengketa tanah yang diklaim milik TNI. Hal itu harus segera terselesaikan,” tandas Kharis. Lebih lanjut,  katanya,  salah satu solusi terbaik untuk rumah dinas TNI adalah rumah susun. ”Karena tanah yang tersedia memang belum mencukupi,”  kata Kharis. Sedangkan untuk kasus Internasional, dia  menyindir sikap Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump yang mengklaim secara sepihak bahwa Yerussalem adalah ibukota Israel. “Yang jelas, seluruh dunia mengecam hal tersebut. Dan secara lansung dan terang terangan dia membuat berantakan upaya perdamaian dunia yang sudah diperjuangkan sekian puluh tahun. Kita di DPR juga sudah lakukan interupsi. Trump harus mencabut statemenya,” tegasnya.  (arh)