Alat Penggemukan Sapi Berbasiskan Internet Of Things

Alat Penggemukan Sapi Berbasiskan Internet Of Things
Sapi sebagai komoditas utama penghasil daging di Indonesia memiliki pangsa pasar yang strategis. Data terbaru April, Mei, dan Juni 2017 Kementerian Pertanian menargetkan mengimpor daging sapi maupun sapi bakalan setara daging sebesar 55.218 ton, dengan rincian impor terbesar yang masuk yakni pada bulan April yang sebagian besar merupakan sapi bakalan untuk digemukkan selama 3 bulan, sebanyak 32.944 ton, Mei 11.931 ton, dan Juni 10.343 ton. Total impor daging sapi beku yang dibutuhkan yakni sebesar 110.896 ton, dan sapi bakalan setara daging sapi 139.300 ton. Total kebutuhan selama 2017 ditetapkan sebanyak 604.966 ton, dengan perkiraan produksi daging sapi lokal 354.770 ton. Salah satu solusi untuk menekan impor daging sapi adalah dengan memberdayakan peternak sapi lokal untuk dapat dengan efektif menggemukan sapi dalam waktu yang terukur serta biaya yang paling ekonomis. Penggunaan komposit pakan sebagai tambahan dalam pakan ternak sudah lazim digunakan oleh para peternak, permasalahan yang sering dihadapi adalah komposit yang digunakan adalah komposit pabrikan yang telah diracik dan memiliki harga tertentu. Peternak juga masih banyak yang awam bagaimana mencapai berat yang diinginkan dengan kebutuhan komposit yang akan diberikan.’ [caption id="attachment_209893" align="aligncenter" width="640"] SIKAPAT 2. Sikapat alat penyusun komposit sapi berbasiskan internet of things.[/caption] Berangkat dari permasalahan tersebut, Bangun Wijayanto,ST.,M.Cs. salah seorang dosen di Teknik Informatika (TI) Fakultas Teknik  (FT) Universitas Jenderal Soedirman(Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah berinisiatif mengembangkan sebuah alat penyusun pakan komposit sapi. Alat yang diberi nama SIKAPAT (Sistem Komputerisasi Pakan Ternak) tersebut  mampu melakukan penyusunan komposit pakan ternak berdasarkan target berat ternak yang diinginkan serta pertimbangan harga pakan. Cara kerja alat tersebut adalah sebagai berikut pertama tama sikapat akan mengambil harga harga bahan pakan ternak di internet, data harga tersebut kemudian dengan algoritma tertentu diolah bersama data berat dan target berat sapi serta kandungan nutrisi dan protein bahan pakan untuk kemudian system akan secara otomatis mengeluarkan komposit pakan dengan hasil harga termurah serta memenuhi kandungan nutrisi dan protein penggemukan. Uniknya, data-data sapi tidak dimasukan manual oleh peternak tetapi menggunakan sebuah kartu RFID dimana peternak cukup mendekatkan kartu RFID dari masing masing sapi ke alat SIKAPAT dengan sebelumnya data target dan identitas sapi telah dimasukan ke tiap kartu yang di gantungkan ke sapi. https://youtu.be/g2F43dMVRZs Untuk saat ini, sistem tersebut menggunakan 3 (tiga) bahan baku utama yakni dedak, onggok, dan bungkil, hal tersebut didasarkan hasil wawancara dengan Dosen Fakutas Peternakan Unsoed Prof.Dr.Ir.Wardhana Suryapratama,MS. (bidang ilmu Bahan Makanan Ternak), Bangun mengungkapkan bahwa alat tersebut juga dapat digunakan untuk proses penggemukan hewan lainnya bergantung pengetahuan mengenai komposit yang ditanamkan. Sebagai sebuah prototype alat tersebut memiliki keterbatasan yakni hanya mampu menangani berat bahan komposit maksimum 9 Kg kedepan akan dikembangkan agar mampu membuat komposit yang lebih besar. Saat ini demo dari alat tersebut dapat dilihat pada situs http://percobaan.id , http://percobaan.id/membuat-alat-penggemuk-sapi-internet-of-things/ , https://www.youtube.com/watch?v=g2F43dMVRZs&t=164s.