Prihatin

Prihatin
Surat Pembaca: Aku prihatin Indonesia sudah merdeka 72 tahun, katanya. Tapi secara ekonomi sangat menyakitkan. Kesenjangan hidup sangat mencolok. Ada 4 orang kekayaannya setara 100 juta orang miskin. Aku tidak mau nyinyir lebih panjang soal ini, karena lama lama dituduh rasis. Secara politik kita tidak mandiri dan berdaulat. Sudah jadi rahasia umum, jabatan paling kunci dan pejabat penting strategis serta lembaga lembaga strategis diatur atur atas persekongkolan Taipan dan pemodal global. Aku juga tak berani nyinyir bicara rinci soal ini, karena dg mudah aku bisa dikriminalisasi. Aku prihatin dan sedih. Negeri yg begini damai dan ramah tapi dituduh banyak teroris , padahal demo jutaan orang tanpa sebuah mercon pun meletus. Aku juga gak berani jelasin soal ini karena salah omong dikira pembela teroris. Aku prihatin dan sedih. Banyak orang terdidik. Cerdik pandai bergelar banyak dan berpangkat tinggi, tapi lebih cinta uang recehan, mau terima sogokan murahan untuk membela kepentingan asing yg merugikan negaranya. Tak dapat pula kurinci tentang hal ini, karena bisa bisa aku dicap provokator atau radikalis intolerans. Terlalu banyak keprihatinan dan kesedihanku jelang peringatan kemerdekaan 72 tahun ini. Tentang prilaku gadis gadis muda cantik yg menjajakan dirinya secara vulgar di medsos, tentang anak SD yg membunuh temannya, tentang anak yg menuntut Ibunya di pengadilan, dan sejuta kisah tragis lainnya di negeri ini. Aku ingin ada solusi dari pemimpin bangsa ini. Tapi jangankan mereka bisa beri solusi. Mereka justru penuh dengan masalah. Mereka bagian dari masalah bangsa ini. Hampir semua tersandera dan saling sandera. Karena itu aku tak bisa berharap lagi dari mereka. Ya aku cuma bisa ngelus dada. Berdoa pada yg Maha Kuasa semoga ada solusi dariNya. Agar rakyat dan bangsa ini tidak terus prihatin, menderita, sengsara selamanya. Jakarta, 12 Agustus 2017Ramadhan Berkah - Jakarta