Tujuh Belas Agusus

Tujuh Belas Agusus
Oleh: Denny JA,  Pendiri LSI   Ada apa dengan bendera merah putih? Para cerdik pandai terpaku terpana Warna merahnya tak segarang biasa Warna putihnya tak sesuci dulu Bendera memang berkibar gagah Melambai di balai kota, di kantor lurah, di desa, bahkan di istana Tapi lihatlah Puluhan lintah bergerombol di warna merah bendera. Berlomba menghisap darah. Lihatlah warna bendera itu tak lagi merah. Oh, merahnya begitu pucat. Tapi pandanglah Puluhan jamur merayap di warna putih bendera. Berlomba mencemarinya Menebar warna kotornya Lihatlah warna putihnya tak seputih dulu. Hilangkah kesuciannya? Ramai ramai diturunkan satu bendera. Meraka teliti di labolatorium. Lintah itu dikeker dengan mikroskop. Astaga! Di mata lintah itu Nampak puluhan kepala daerah dipenjara. Gubernur, walikota, bupati terpidana karena korupsi. Menteri, wakil rakyat, aparat hukum Sedang terbahak-bahak di penjara. Mereka tak peduli amanah Yang penting kaya raya Jamur itu mereka pelajari di ruang bedah Diteliti dengan kaca pembesar Wow! Dari akar jamur itu Nampak kental rasa benci tumbuh di masyarakat Benci karena beda agama Benci karena beda paham Benci karena beda sudut pandang Benci karena beda cara berpikir Ya Tuhan, lihatlah Mereka ingin saling memusnahkan Tak lagi peduli satu tanah air Satu bangsa, satu bahasa Yang penting hanya alam berpikir mereka Yang sesempit batok kelapa Berita itu meluas, Oh, ternyata Oh kiranya Korupsi pejabat dari Sabang hingga Merauke Sudah menyatukan mereka. Rasa benci dari Aceh hingga Papua Kini menjadi tali batin mereka. Namun tak kurang jumlahnya Mereka yang cinta tanah air Berlomba mereka menyumbangkan darah Ada yang mengambil darah dari jarinya Ada yang menyemprotkan darah dari pahanya Ada pula yang teteskan darah dari kepalanya Mereka koor bersama Wahai para pemimpin Yang masih peduli kemajuan Ini darah kami Kami kucurkan dari kami punya diri Merahkan kembali bendera dengan darah kami Garangkan kembali merah bendera dengan merah kami Namun tak terkira banyaknya Mereka yang masih cinta ini negara Berlomba mereka teteskan air mata Air mata kesedihan Air mata derita Air mata cinta Tetes demi tetes Mereka tabung itu air mata Merekapun koor bersama Wahai para pemberani Yang masih cinta ini negeri Gunakanlah tetes air mata kami Bersihkan warna putih bendera dengan air mata kami Sucikan kembali putih bendera dengan putih kami Hari itu Hari proklamasi Hari tujuh belas agustus Para pemimpin yang masih peduli berseru: Wahai rakyat seluruh negeri. Periksa bendera merah putih di lacimu. Buanglah lintah yang menggerombol di warna merahnya Singkirkan jamur yang mencemari warna putihnya. Mari bersama kita indonesiakan kembali Indonesia. Agustus 2017