Bertentangan Namun Beriringan

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah Kita takkan utuh tanpa kerasnya tulang, kita juga takkan bisa bergerak kecuali dengan fleksibelnya otot. Keduanya tak bisa dipisah, sebab itu yang jadikan kita manusia. Filsafat Cina menyebutnya Yin dan Yang, dua kekuatan yang bertentangan yang saling melengkapi. Di dalam Islam konsep itu jauh lebih matang dan lebih sempurna.
Dalam dakwah, kekuatan dan kelembutan itu pun diperlukan, keras dan fleksibel itu dimainkan. Kapan dan bagaimana dua hal itu dikombinasikan, itu perlu ilmu yang lain lagi. Itulah di mana kebijaksanaan menjadi penting. Al-Hikmah yang hanya Allah berikan pada mereka yang Allah mampukan secara presisi menentukan cara terbaik dalam berdakwah. Mampu lembut dalam mengubah kemaksiatan tanpa melepas hak hukum syariat padanya, dan mampu menerap syariat dengan cara yang paling sedikit penolakannya. Siapa yang Allah beri hikmah, maka dia dicintai oleh manusia, tapi juga disebut-sebut oleh penduduk langit. Dia tak hanya menegakkan kebaikan tapi juga disegani pemaksiat. Menyampaikan kebenaran itu mudah, yang sulit itu mengajak manusia untuk berada di jalan kebenaran. Di situ perlu cinta dan pendekatan, narasi dan tutur rayuan. Tapi kita tak hendak pula ingin mengubah haluan dakwah yang Rasulullah berikan pada kita. Sebab beliaulah contoh yang Allah berikan padanya hikmah yang paling baik. Menjadikan seluruh tubuh sebagai tulang ya salah. Menjadikan semuanya otot juga tak benar. Mintalah pada Allah agar kita dititipkan keduanya dalam berdakwah. Tegas sekaligus fleksibel, presisi dalam lisan dan amalan, memenangkan hati sekaligus akal. Dan ikhlas dalam kesemua itu hingga Allah pun ridha pada kita.





























