Ingin Nonton Ludruk, Malah Disuruh Main

LUDRUK adalah kesenian khas asal Jawa Timur (Jatim) yang menyuguhkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Untuk mencegah agar kekayaan seni budaya Indonesia ini jangan sampai punah, maka Kumpulan atau Komunitas Ludruk Jakarta (KLJ) bertekad untuk menjadikan Ludruk go nasional bahkan go internasional. Seperti masa silam, ludruk sudah pernah manggung di luar negeri. Selain melakukan regenerasi pemain ludruk, KLJ berusaha keras untuk menjaring penonton dari generasi muda. “Kami akan pentas ludruk keliling Jakarta untuk menjaring generasi muda agar menggemari kesenian Indonesia ini. KLJ mengadakan Diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII yang diperuntukkan bagi remaja tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa. Kesenian ludruk ini dikolaborasikan dengan seni-seni modern dan cerita-cerita rakyat terkini,” tutur Ketua KLJ, Dr Andreas Eno Tirtakusuma SH MH alias Cak Eno kepada Obsessionnews.com, saat mengawasi latihan pentas KLJ di TMII, Kamis malam (3/8). [caption id="attachment_202929" align="aligncenter" width="640"]
Cak Suryo ikut latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII Jakarta, Kamis malam (3/8/2017).[/caption] Ludruk yang ditopang para pelawak, seniman, artis sinetron dan penyanyi sebagai anggota KLJ ini, segera dimulai manggung dengan lakon “Cak Durasim Pendekar Ludruk” di Anjungan Jatim TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta pada Minggu (6/8/2017) pukul 14.30 WIB. Ludruk KLJ juga bakal tampil di Jakarta pada 10 November nanti dalam momen Hari Pahlawan. Pelawak yang ikut berperan dalam Ludruk ini adalah Cak Bathin, Tarzan Srimulat, Polo, Doyok, Kadir, Gogon, Nurbuat, Isa Nglantur, Tessy, Lupus, Cak Bagong, Ninik Chandra Srimulat, Ganis Pete dan segudang pelawak lagi. Nampaknya, banyak yang sudah gandrung dengan kesenian khas Jawa Timuran ini, diantaranya Cak Suryo Arbanat. Begitu mendengar Ludruk KLJ akan manggung di Ibu Kota, Arek Suroboyo ini langsung berangkat ke Jakarta hanya untuk sekadar ingin menontonnya. “Mendengar kabar bahwa Ludruk KLJ akan mengadakan pertunjukan di TMII, spontan timbul rasa kerinduan di hati saya untuk bisa kembali menonton dan menikmati seni tradisional yang sudah melekat dalam hati ini,” aku Cak Suryo, musisi yang sehari-harinya bermain Biola di tempat tempat hiburan di Kota Dewata. [caption id="attachment_202607" align="aligncenter" width="640"]
Cak Andreas Eno Tirtakusuma[/caption] Akhirnya, lanjut Cak Suryo, kuputusan untuk berangkat ke Jakarta hanya sekedar bisa menonton pertunjukan tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata, begitu di Jakarta dirinya malah diberikan kesempatan bermain dan bergabung dengan KLJ oleh Panitia. “Salah satu panitia kebetulan adalah teman saya. Thanks a lot for God. Semoga Ludruk selalu ada dan semakin berkembang selaras dengan perkembangan jaman. Amiin…,” syukurnya. Sementara Herra Rossa, salah satu pemain Ludruk KLJ mengaku pula, dirinya sejak kecil sangat gemar dengan kesenian ludruk. Kini, Ning Herra malah bisa bermain ludruk yang diikuti dengan latihan rutin di Anjungan Jatim Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. “Saya dulu sering nonton ludruk sampe terkagum-kagum sama pemainnya cantik-cantik dan ganteng. Pingin banget bisa ikut main tapi waktu itu saya masih SMP. Dagelannya jorono jogelo lucu, namun sekarang saya ikut bermain Ludruk KLJ,” ucapnya sembari tersenyum. [caption id="attachment_202927" align="aligncenter" width="640"]
Herra Rosa dan Astrada Basukiyono[/caption] Ikut aktif berperan dalam menghidupkan Ludruk KLJ, adalah Cak Herry Takariono yang sehari-hari dinas aktif di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pegiat seni asal Surabaya yang dikenal gaul ini meluangkan tenaga dengan bekerja keras untuk bisa mengumpulkan para pekerja seni ludruk tersebut. Ia tak pernah berhenti mengontak dan ‘mengobrak-obrak’ para anggota KLJ untuk rajin latihan rutin. Bahkan Cak Herry membanting tulang guna mengumpulkan dana untuk kegiatan Ludruk KLJ. Kepengurusan KLJ diketuai Cak Andreas Eno yang sehari-hari berprofesi sebagai advokad dan dosen Pascasarjana sebuah universitas di Jakarta. Sebagai Sekretaris KLJ adalah Lusie Baya, pemain sinetron dan penyanyi asal Suroboyo. Bertindak selaku Bendahara KLJ adalah Dewi Katayana. [caption id="attachment_201218" align="aligncenter" width="482"]
Lusie Baya[/caption] Lakon “Durasim Pendekar Ludruk” disutradarai Cak Tatok 'Koplak' Pranadi yang juga tim kreatif Cak Lontong. Lakon ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang menjajah Indonesia dengan bengis dan keji menyiksa rakyat, bahkan membunuhnya secara kejam bagi yang melawan. Namun, Durasim melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan cerita yang dimainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang. Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk. [caption id="attachment_202924" align="aligncenter" width="493"]
Penampilan Cak Suryo Arbanat dalam latihan kamis malam (3/8) di Anjungan Jatim TMII Jakarta.[/caption] Basukiyono selaku Astrada pendamping sutradara Tatok ‘Koplak’ Pranadi, mengatakan Ludruk asli Jatim harus tetap ada karena peninggalan para leluhur. Kesenian Ludruk diharapkan bisa bertahan dengan ke-khas-an-nya yang menampilkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Karena itu, kalangan artis dan pekerja seni yang tergabung dalam KLJ di bawah Komando Cak Bathin Mulyono, aktif melakukan latihan ludruk di Pendopo Anjungan Jatim TMII. Diharapkan, generasi muda menyukai kesenian tradisional Ludruk dengan adanya Diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII yang diperuntukkan bagi remaja tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa. Diklat dibagi dengan 3 kategori yakni Pengrawit (Pemusik Tradisional), Penari Remo dan Pemeran Ludruk dengan tujuan dapat melahirkan generasi baru pecinta kesenian Ludruk. (Red)
Cak Suryo ikut latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII Jakarta, Kamis malam (3/8/2017).[/caption] Ludruk yang ditopang para pelawak, seniman, artis sinetron dan penyanyi sebagai anggota KLJ ini, segera dimulai manggung dengan lakon “Cak Durasim Pendekar Ludruk” di Anjungan Jatim TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta pada Minggu (6/8/2017) pukul 14.30 WIB. Ludruk KLJ juga bakal tampil di Jakarta pada 10 November nanti dalam momen Hari Pahlawan. Pelawak yang ikut berperan dalam Ludruk ini adalah Cak Bathin, Tarzan Srimulat, Polo, Doyok, Kadir, Gogon, Nurbuat, Isa Nglantur, Tessy, Lupus, Cak Bagong, Ninik Chandra Srimulat, Ganis Pete dan segudang pelawak lagi. Nampaknya, banyak yang sudah gandrung dengan kesenian khas Jawa Timuran ini, diantaranya Cak Suryo Arbanat. Begitu mendengar Ludruk KLJ akan manggung di Ibu Kota, Arek Suroboyo ini langsung berangkat ke Jakarta hanya untuk sekadar ingin menontonnya. “Mendengar kabar bahwa Ludruk KLJ akan mengadakan pertunjukan di TMII, spontan timbul rasa kerinduan di hati saya untuk bisa kembali menonton dan menikmati seni tradisional yang sudah melekat dalam hati ini,” aku Cak Suryo, musisi yang sehari-harinya bermain Biola di tempat tempat hiburan di Kota Dewata. [caption id="attachment_202607" align="aligncenter" width="640"]
Cak Andreas Eno Tirtakusuma[/caption] Akhirnya, lanjut Cak Suryo, kuputusan untuk berangkat ke Jakarta hanya sekedar bisa menonton pertunjukan tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata, begitu di Jakarta dirinya malah diberikan kesempatan bermain dan bergabung dengan KLJ oleh Panitia. “Salah satu panitia kebetulan adalah teman saya. Thanks a lot for God. Semoga Ludruk selalu ada dan semakin berkembang selaras dengan perkembangan jaman. Amiin…,” syukurnya. Sementara Herra Rossa, salah satu pemain Ludruk KLJ mengaku pula, dirinya sejak kecil sangat gemar dengan kesenian ludruk. Kini, Ning Herra malah bisa bermain ludruk yang diikuti dengan latihan rutin di Anjungan Jatim Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. “Saya dulu sering nonton ludruk sampe terkagum-kagum sama pemainnya cantik-cantik dan ganteng. Pingin banget bisa ikut main tapi waktu itu saya masih SMP. Dagelannya jorono jogelo lucu, namun sekarang saya ikut bermain Ludruk KLJ,” ucapnya sembari tersenyum. [caption id="attachment_202927" align="aligncenter" width="640"]
Herra Rosa dan Astrada Basukiyono[/caption] Ikut aktif berperan dalam menghidupkan Ludruk KLJ, adalah Cak Herry Takariono yang sehari-hari dinas aktif di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pegiat seni asal Surabaya yang dikenal gaul ini meluangkan tenaga dengan bekerja keras untuk bisa mengumpulkan para pekerja seni ludruk tersebut. Ia tak pernah berhenti mengontak dan ‘mengobrak-obrak’ para anggota KLJ untuk rajin latihan rutin. Bahkan Cak Herry membanting tulang guna mengumpulkan dana untuk kegiatan Ludruk KLJ. Kepengurusan KLJ diketuai Cak Andreas Eno yang sehari-hari berprofesi sebagai advokad dan dosen Pascasarjana sebuah universitas di Jakarta. Sebagai Sekretaris KLJ adalah Lusie Baya, pemain sinetron dan penyanyi asal Suroboyo. Bertindak selaku Bendahara KLJ adalah Dewi Katayana. [caption id="attachment_201218" align="aligncenter" width="482"]
Lusie Baya[/caption] Lakon “Durasim Pendekar Ludruk” disutradarai Cak Tatok 'Koplak' Pranadi yang juga tim kreatif Cak Lontong. Lakon ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang menjajah Indonesia dengan bengis dan keji menyiksa rakyat, bahkan membunuhnya secara kejam bagi yang melawan. Namun, Durasim melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan cerita yang dimainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang. Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk. [caption id="attachment_202924" align="aligncenter" width="493"]
Penampilan Cak Suryo Arbanat dalam latihan kamis malam (3/8) di Anjungan Jatim TMII Jakarta.[/caption] Basukiyono selaku Astrada pendamping sutradara Tatok ‘Koplak’ Pranadi, mengatakan Ludruk asli Jatim harus tetap ada karena peninggalan para leluhur. Kesenian Ludruk diharapkan bisa bertahan dengan ke-khas-an-nya yang menampilkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Karena itu, kalangan artis dan pekerja seni yang tergabung dalam KLJ di bawah Komando Cak Bathin Mulyono, aktif melakukan latihan ludruk di Pendopo Anjungan Jatim TMII. Diharapkan, generasi muda menyukai kesenian tradisional Ludruk dengan adanya Diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII yang diperuntukkan bagi remaja tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa. Diklat dibagi dengan 3 kategori yakni Pengrawit (Pemusik Tradisional), Penari Remo dan Pemeran Ludruk dengan tujuan dapat melahirkan generasi baru pecinta kesenian Ludruk. (Red) 




























