Cara (Tidak) Mensyukuri Kemerdekaan

Oleh: Ustadz Felix Siauw,Pengarang dan Pengemban Dakwah Maksud itu letaknya di dalam hati, tak diketahui kecuali oleh kata yang dilisankan atau oleh amal perbuatan. Dari situlah kita jadi paham makna sesuatu bagi seseorang. Karena kita tak bisa mengintip isi hati, tak pula bisa tahu apa yang ada di dalam dada orang lain. Maka yang bisa dijadikan indikasi ya hanya lisan dan perbuatan. Pilihan-pilihan yang kita lakukan selalu menunjukkan apa yang ada dalam hati kita, sejauh mana pemahaman kita, dan apa yang menghuni akal dan hati kita. Misal, ada teman saya memperingati hari lahirnya. Di situ ulama diundang memberi kajian pada hadirin. Di situ kita bisa tahu isi hatinya, dia ingin lakukan syiar agama. Lain lagi dengan kenalan saya. Pesta pernikahan anaknya sampai 2 miliar. Saya jadi tahu dia mementingkan anggapan orang lain, bahwa mewah itu penting baginya. Dulu dosen saya ada yang menghiasi rumahnya dengan pernak-pernik Jepang, mulai desain interior sampai detail aksesorisnya. dia ingin tunjukkan dia menyukai semua itu. Dengan analogi yang sama, yang mencintai Allah akan sering menyebut Allah, yang mencintai Islam ke mana-mana akan berdakwah Islam, dan begitu seterusnya. Nah, pada Hari Kemerdekaan ke-72 Indonesia ke-72, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), berencana mengundang girl band Korea. Apa maknanya dan apa maksudnya? Dari situ kita bisa tahu, mengapa rencana ini ada, apa yang diinginkan dengan itu semua, dan ke mana arahan penguasa akan negeri ini. Yng pasti bukan ke arah Islami. Sesuaikah alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa", kemudian tampillah girl band seksi dengn aurat menari-nari. Lalu di mana jatidiri yang selama ini digembar-gemborkan? Inikah yang dikatakan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa? Jelas tidak. Kemerdekaan harusnya disyukuri dengan cara yang diinginkan oleh Sang Pemberinya, yakni Allah. Bagaimana yang Allah inginkan? Tanyalah pada ulama, bukan girl band. Bagi kita Muslim Indonesia, rencana ini wajib kita tolak, sebab ini bukan hanya cara salah mensyukuri kemerdekaan, tapi juga penghancuran akhlak dan pola pikir generasi muda.





























