Maraton Dakwah

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengarang dan Pengemban Dakwah Kadang bukan tentang yang lebih cepat, bukan juga tentang yang lebih hebat. Tapi tentang siapa yang bertahan lebih lama. Selamat datang dalam maraton dakwah. Ashabul Kahfi tak punya senjata untuk melawan, juga kalah dalam jumlah, apalagi dalam hal harta dan kekuasaan. Tapi dalam maraton dakwah itu, mereka punya Allah. Sebab keimanan mereka, dan lantangnya mereka di atas kebenaran, Allah tidurkan mereka ratusan tahun lamanya. Allah simpan mereka hingga kedzaliman habis nafasnya. Dalam maraton dakwah, kita berujar terus-menerus pada diri kita sendiri, "Mari, bertahan sehari lagi di atas jalan dakwah." Berdoa agar dapat mengemban dakwah sehari lagi Yakinlah, mereka yang menghadang dakwah juga punya rasa lelah, bosan, futur, dan punya keterbatasan. Bahkan yang mereka rasa bisa jadi lebih buruk dari kita. Sebab kita berdakwah karena cinta. Ia alamiahnya siapapun yang menghamba pada Allah, ini dunia kita. Ibarat ikan yang berenang di air, dakwah ini menghidupkan ruh kita. Tapi bagi mereka yang menghadang dakwah, mereka bekerja keras membohongi hati nurani, membelakangi kebenaran, menutup telinga dan mata dari kebaikan. Taat itu melelahkan, namun ada kenikmatan setelahnya. Maksiat itu bisa jadi nikmat, namun pelakunya pasti terganggu jiwanya. Sebab maksiat itu pasti mengkhawatirkan. Dakwah di tengah penguasa dzalim itu urusan siapa yang bisa bertahan lebih lama, kemaksiatan atau ketaatan. Bedanya kita punya Allah, sementara mereka punya fatamorgana. Ayo, kuatkan kaki-kaki, tatap dan ingat tujuan kita, yakinkan sebab Allah kita bergerak, siapkan yang terbaik di jalan dakwah. Dan tanamkan pada jiwamu, bertahan "satu hari lagi di jalan dakwah".





























