Provokasi Agama dan Kesenjangan Sosial

Provokasi Agama dan Kesenjangan Sosial
Oleh: Ustad Felix Siauw, Pengarang dan Pengemban Dakwah   Bila sedari dulu perkara toleransi tidak pernah menjadi masalah bagi umat Muslim, lalu mengapa sekarang seolah-olah hal ini jadi masalah yang ramai dibicarakan?
Artinya ada yang berubah di negeri ini. Lihat saja proses pilkada Jakarta, semua problem ini dimulai ketika ada kelompok yang berusaha berkuasa, lalu menista agama. Di sinilah sebenarnya letak masalahnya, bukan intoleransi tapi provokasi kepada umat Muslim. Ketika agama Islam dinista dan umat bergerak, lalu dilabeli intoleran. Lalu apakah toleransi itu berarti kita diam saat agama kita dinista dan dihina? Saat kita dipaksa menerima bahwa semua agama itu sama, justru itu yang intoleran. Muslim meyakini bahwa Islam itu yang tertinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Lantas bagaimana meyakini hal itu dianggap sebagai tindakan intoleran? Bila kaum Muslim yang 'toleran' itu seolah yang harus diam saat agamanya dihina, menerima konsep pluralisme, bukankah justru ini tindakan intoleran? Memaksakan pendapat? Padahal sedari dulu, dari masa Rasulullah tak pernah ada kasus intoleransi. Berarti seharusnya penguasa introspeksi, jangan-jangan yang selama ini membela provokator. Selain provokasi, masalah negeri ini adalah kesenjangan yang sangat nyata, ketidakmerataan ekonomi. Tidak hanya di negeri ini, di manapun kesenjangan menimbulkan masalah Di USA, ada gerakan 'We Are 99%' untuk melawan kesenjangan ekonomi yang begitu tinggi antara kaya-miskin. Tak jarang hal itu menimbulkan gesekan sosial bahkan kerusuhan. Jadi jangan dinisbatkan semuanya pada Islam, seolah-olah ketika seseorang menjadi makin Islami lantas ia makin intoleran, provokasi dan kesenjangan itulah masalahnya. Jangan sampai salah menganalisis justru menjadikan teman sebagai lawan. Ulama lebih diburu dari penista, umat Muslim didera sementara kapitalis dirangkul mesra.