Reaksi Keras Bangsa Palestina atas Brutalitas Israel

Reaksi Keras Bangsa Palestina atas Brutalitas Israel
Berbagai berita dari Palestina menunjukkan eskalasi protes anti Zionis di berbagai wilayah Palestina pada hari Jumat (21/7). Hari Jumat di Palestina ditetapkan sebagai hari kemarahan, untuk menyuarakan kemarahan bangsa Palestina kepada dunia atas aksi-aksi hegemoni Israel terhadap Masjid al-Aqsa. Hari kemarahan digelar sebagai protes atas aksi Zionis alat pendeteksi keamanan dan kamera pengawas di Masjid al-Aqsa. Untuk menumpas lebih banyak warga Palestina, militer Israel Jumat pagi juga memasang pagar besi di pintu masuk Bab al-Asbat Masjid al-Aqsa. Berbagai berita menunjukkan polisi Israel menempatkan ribuan personil keamanan di al-Quds pendudukan dan mencegah masuknya warga berusia kurang dari 50 tahun ke Masjid al-Aqsa. Tindakan ini sama halnya menjadikan al-Quds sebagai pangkalan militer Israel sejak 14 Juli 2017 dan menyusul bentrokan sengit dengan warga Palestina di Masjid al-Aqsa, mulai meningkatkan aksi penumpasannya dan di antaranya adalah menerapkan pembatasan keras terhadap warga Palestina untuk memasuki masjid ini. Muhammad Mustafa Shahin, analis Mesir terkait hal ini mengatakan, "Setelah pendudukan bumi Palestina oleh rezim Zionis, bangsa Palestina dengan berbagai metode berusaha merebut kembali hak-hak mereka yang dirampas dan dengan ucapan serta tindakan, mereka berusaha mengusir penjajah." Aksi provokatif Israel di Masjid al-Aqsa yang mayoritasnya dilakukan dalam bentuk pelecehan terhadap tempat suci ini menuai reaksi keras dari bangsa Palestina dan protes publik umum. Tak diragukan lagi selama beberapa bulan lalu, dan setelah meningkatnya dukungan pejabat Amerika terhadap kebijakan hegemoni dan ekspansif Israel di berbagai wilayah Palestina khususnya Baitul Maqdis, arogansi rezim penjajah ini menigkat drastis. Israel dengan menguasai total Baitul Maqdis, dan memberikan citra Yahudi ke wilayah ini berusaha menjadikan al-Quds sebagai ibukotanya. Oleh karena itu, seiring dengan provokasi Israel untuk memaksa masyarakat dunia mengakui dirinya sebagai pemerintahan Yahudi, aksi Tel Aviv mencaplok berbagai wilayah Palestina khususnya Baitul Maqdis dan pencitraan Yahudi untuk kawasan ini semakin meningkat. Baitul Maqdis memiliki posisi istimewa di kebijakan hegemoni Israel. Rezim Tel Aviv secara mengerikan dan bertahap berusaha memajukan kebijakannya di wilayah ini dan merealisasikan ambisinya melalui aksi-aksi perusakan dan memberikan identitas Yahudi atau mengubah simbol-simbol di Masjid al-Aqsa. Namun begitu, reaksi bangsa Palestina terhadap arogansi Israel di al-Quds senantiasa menjadi titik balik di sejarah perjuangan rakyat Palestina dan al-Quds serta Masjid al-Aqsa senantiasa diakui sebagai simbol identitas intifada. Meletusnya intifada Masjid al-Aqsa di tahun 2000 serta intifada al-Quds pada Oktober 2015 menunjukkan perjalanan perjuangan bangsa Palestina melawan rezim penjajah Israel. Sementara itu, eskalasi protes warga Palestina selama beberapa pekan terakhir juga menunjukan semakin membaranya intifada al-Quds. Hal ini tentu saja membuat petinggi rezim Zionis semakin khawatir. Mohammed Abu Tarboush, ketua bidang penerangan organisasi internasional Qods seraya mengisyaratkan gerakan kampanye media Quds Urat Nadi Intifada menyatakan, tujuan utama kampanye ini adalah membesarkan isu al-Quds di wacana politik dan media serta mendorong berbagai bangsa Arab serta Islam memberikan dukungan spiritual dan material kepada Baitul Maqdis. Kebangkitan rakyat Palestina melawan Israel dan penyelenggaraan protes besar-besaran anti Tel Aviv di berbagai moment, menunjukkan bahwa kebangkitan rakya Palestina tidak akan pernah padam, namun setiap hari malah menemukan dimensinya yang lebih luas. Kondisi ini telah berhasil merusak seluruh pertimbangan rezim Zionis dan secara praktis rezim ini menjadi rezim tak berdaya dan kebingungan. (ParsToday)