Airlangga Hartarto Paling Kuat Gantikan Setnov

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute Menyusul ditersangkakannya Setya Novanto (Setnov), Golkar menjadi medan tempur yang seru. Para pemain lama alias veteran politik Orde Baru bakal turun gunung. Mereka antara lain Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Bakrie dan Agung Laksono. Titipan Jokowi melalui Luhut, Airlangga Hartarto, jadi opsi paling kuat untuk menggantikan Setnov. Tinggal siapa yang diplot jadi Sekjen, masih terjadi tarik-menarik. Erwin Aksa, keponakan Jusuf Kalla, diplot jadi salah satu calon sekjen. Opsi lain tidak tertutup kemungkinan Bakrie kembali jadi Ketua Umum Golkar. Jokowi terbetik kabar inginnya duet Airlangga Hartrto-Ahmad Doli. Tapi bisa juga kompromi, sehingga yang didorong adalah duet Airlangga-Erwin Aksa. Kuncinya adalah di titik temu Bakrie-JK. Yang krusial di balik pertarungan Golkar sekarang, tidak adanya titik temu antara Ginanjar Kartasasmita dan Bakrie-JK. Sehingga ketika Airlangga bisa disepakati jadi ketua umum Golkar, maka siapa jadi sekretaris jenderal bakal jadi pemicu konflik antar elite Golkar. Pada tataran ini, peran Akbar Tandjung yang sudah sepuh dan sering sakit-sakitan masih tetap penting. Karena Akbar akan jadi tumpuan dari beberapa kroni Ginanjar seperti Fahmi Idris, MS Hidayat dan Marzuki Darusman untuk dimainkan sebagai pelobi tingkat tinggi. Celakanya, Bakrie dan JK menolak skema Ginanjar dan Luhut yang diwakili oleh dua operator politiknya: Marzuki Darusman dan MS Hidayat. Manakala skema JK-Bakrie yang menang, Jokowi akan sepenuhnya dalam genggaman kekuasaan Mega-JK yang didukung oleh skema koalisi PKB-Hanura-Nasdem-PDIP. Luhut sebagai representasi kepentingan Ginanjar dan kroni pengusaha minyak seperti Arifin Panigoro akan "mati langkah." Apalagi sebelumnya sudah diungkap adanya dana sebesar Rp 90 miliar yang digelontorkan KPK kepada Indonesia Corruption Watch (ICW). Yang tentunya sasaran tembak bukan saja Teten Masduki yang merupakan eksponen ICW yang sekarang Kepala Kantor Staf Kepresidenan. Melainkan orang orang di belakang ICW selama ini termasuk Arifin Panigoro, yang tentunya kalau bicara Arifin, termasuk juga Ginandjar Kartasasmita. Kasak-kusuk pertarungan Golkar ini akan semakin diperpanas dengan digulirkannya Hak Angket KPK oleh DPR yang bermuara pada desakan membubarkan KPK. Berarti ditersangkakannya Setnov, sejatinya bukan perhadapan antara presiden dan DPR. Namun cermin pertarungan belakang layar antara dua kartel politik ini. Dalam konstalasi politik yang demikian, Jokowi hanya sekadar ring tinju atau papan catur. Jika begitu, arah dari kegaduhan soal e-KTP dan kemungkinan pergolakan internal di Golkar pasca Setnov jadi tersangka, bukan untuk menggusur Jokowi. Melainkan untuk menciptakan pergeseran kekuasaan di lingkar dalam istana. Maka seiring dengan kemungkinan seperti itu, jadi masuk akal jika selentingan mengabarkan Rini Soemarno yang sekarang Menteri BUMN, akan diplot menggantikan Teten Masduki sebagai Kepal Staf Kepresidenan. Berarti ini penanda bahwa JK dan Mega semakin solid menguasai arah kebijakan Presiden Jokowi. Sebab, Rini selama ini merupakan sabuk pengaman bersatunya Mega dan JK. Bukan sekadar Menteri BUMN. Dalam skenario seperti itu, mata-rantai Luhut dan Teten berikut jejaring politiknya yang bermarkas di Kantor Staf Kepresidenan, akan berakhir sudah. Akan muncul aktor-aktor baru hasil rekrutan Rini Soemarno. Dan menggeser orang orang rekrutan Luhut, termasuk yang para lulusan Universitas Harvard itu. Jadi, kejadian yang menimpa Setnov, pergolakan di internal Golkar, dan Hak Angket DPR yang tujuan akhirnya adalah membubarkan KPK, bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Namun saling berkaitan. (*)





























