Lisan yang Mukmin

Lisan yang Mukmin
Oleh: Ustadz  Felix Siauw, Pengarang dan Pengemban Dakwah   Lisan yang buruk takkan pernah membawa kebaikan, sampai kapanpun. Karena itulah Rasulullah senantiasa mengingatkan perihal lisan, hati-hati dengan lisan. Dua perkara yang banyak menggelincirkan manusia ke neraka ialah lisan dan kemaluan. Akan tetapi kemaluan kita senantiasa kita jaga, kita tutup berlapis, tidak dengan lisan. Karenanya lisan sungguh jauh lebih berbahaya, mudah sekali dilontarkan dan tak pernah dapat ditarik kembali. Sekali dusta akan berbekas, sekali kasar lukanya tetap. Dan lisan adalah cerminan jiwa, bagian yang paling mudah jadi indikasi baik atau buruknya akal. Dan yang akalnya rusak, pasti lisannya kasar, banyak mencela dan melaknat. Memang belum tentu yang lembut lisan lantas baik akalnya, tapi yang baik akalnya akan santun lisannya. Apalagi yang beriman, ia terikat pesan Rasulullah atas lisannya. Menjaga lisan adalah bagian dari memperbaiki akhlak. Dengan kita memperbaiki yang lahir, maka Allah akan memperbaiki yang batin, melembutkan hati dan perangai kita. Tapi bila sudah berjumpa dengan yang buruk dan kasar lisan, apalagi perangainya  yang kita tak tahu? Di depan saja sudah menunjukkan kepongahan, apalagi di belakang. Karena itulah Al-Quran, mukjizat yang diberikan kepada Nabi kita berisi tentang kata-kata penuh hikmah, sarat kebaikan, dan pelajaran yang tak ada habis-habisnya. Bagaimana mungkin seseorang mendaras Al-Quran sementara dia masih memiliki perbendaharaan kata-kata kotor menyakiti? Itu sama sekali bertentangan satu dengan lain. Ingatlah perumpamaan yang diberikan Rasulullah bagi para mukmin yang membaca Al-Quran, layaknya buah utrujah, yang wangi semerbak lagi sedap disantap Jaga lisanmu, jauhkan dari cela, dusta atau menista, insyaAllah dengan itu kita dekatkan surga dan jauhkan neraka. Jaga lisan kecuali hanya pada yang baik, atau lebih baik diam. (*)