Teror di Hari Raya

Teror di Hari Raya
Teror yang terjadi bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah. Yang terjadi pada pagi hari menjelang akan diadakannya sholat Ied secara serentak di seluruh Indonesia yang menimpa Mapolda Sumatra Utara sangatlah melukai perasaan dan hati publik yang ingin merayakan hari raya karena akan berdampak buruk dan menjadi stigma yang dapat digeneralisir oleh pihak tertentu sebagai perbuatan kelompok radikal yang terkait agama atau kelompok tertentu yang ada di Indonesia, padahal pelaku teror tersebut bukanlah orang yang bisa mewakili kelompok atau agama tertentu yang ada di Republik ini. Sebelum saya memulai penulisan lebih jauh lagi secara pribadi saya ingin mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban teror yang terjadi di mapolda sumut tersebut karena pelaku yang notabene "katanya" berasal dari kelompok ISIS tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan orang yang beragama islam karena islam dalam kitab suci tidak pernah mengajarkan manusia untuk saling membuat kerusakan dimuka bumi ini atau pun mengajarkan saling membunuh karena ajaran nabi besar Muhammad SAW adalah membawa pesan kedamaian bagi seluruh umat manusia yang ada dimuka bumi ini. Doktrin dan ideologi para pelaku teror yang selalu mengatasnamakan ajaran agama adalah sesuatu yang tidak benar dan sangat menyesatkan, karena teroris bukanlah bagian dari ajaran agama apapun yang ada dimuka bumi ini karena perbuatan teror akan berdampak luas dan memberi efek ketakutan pada banyak orang agar tujuan atau motif-motif tertentu para pelaku teror tersebut tercapai, salah satunya yaitu mendeskreditkan ajaran agama islam karena Publik sudah sangat mengetahui kalau ISIS dulunya adalah bentukan para agen CIA (intelegen amerika) yang secara sengaja dibentuk dengan tujuan tertentu yang salah satunya adalah ingin merusak ajaran islam yang selalu membawa pesan kedamaian karena ISIS bukanlah bagian dari ajaran Islam yang benar. Fenomena terjadinya aksi teror yang didalangi oleh kelompok ISIS bentukan CIA menjelang akan dilaksanakannya sholat ied tersebut yang terjadi dan menimpa aparat kepolisian di kota medan tersebut sudah selayaknya membuat rakyat marah terhadap aksi teror kelompok tersebut karena aksi nekat kelompok radikal ISIS itu kini menjadi pemberitaan baik media cetak, elektronik maupun media sosial lainnya sampai menjadi pembicaraan diwarung kopi dan menjadi topik yang begitu hangat selain soal topik pertemuan para ulama yang tergabung dalam GNPF dengan Presiden di istana merdeka dihari yang sama. Teror kelompok ISIS yang terjadi di masyarakat saat ini sudah merupakan sebuah bentuk Penistaan terhadap Hak Azasi Manusia dan merupakan bentuk penghinaan terhadap aturan hukum yang ada di negara ini dan aparatur penegak hukum wajib mencari tahu motif lainnya para pelaku penebar teror ini secara gamblang ke hadapan publik karena teror teror yang terungkap banyak di pahami sebagai kesalahan dalam mengartikulasikan pemahaman yang keliru tentang jihad yang ada di kitab suci dan cenderung hal tersebut mendeskreditkan agama islam karena bisa dianggap sebagai pemahaman yang radikal, padahal Al Qur'an tidak pernah membenarkan adanya perbuatan teror karena kitab suci mengingatkan kita untuk hidup rukun dan damai, saling mencintai, menghargai dan menjaga hubungan baik sesama manusia yang satu dengan manusia yang lainnya meskipun kita berbeda ras, berbeda suku, agama ataupun berbeda keyakinan. Dari kesimpulan diatas sangatlah jelas kalau para pelaku "TERORIS" dikota medan itu bukanlah orang yang memiliki ajaran "AGAMA" karena niatnya ingin membuat resah dan menebar KETAKUTAN kepada masyarakat banyak dihari nan suci ini. Padahal apabila mereka (pelaku teror) adalah orang yang benar sangat mengerti serta memahami ajaran atau nilai dalam agama dengan baik, maka tidak mungkin mereka mau melakukan perbuatan yang merusak, dzolim atau pun menyakiti orang lain secara fisik sampai pada menghilangkan nyawa orang lainnya apalagi hal tersebut dilakukan saat akan dilaksanakannya hari raya idul fitri yang merupakan perayaan keagamaan dan hari yang begitu sakral bagi umat muslim di seluruh dunia. Sudah sangatlah jelas perbuatan teror yang terjadi dikota medan tersebut jika digali lebih dalam lagi bisa bermotif untuk menimbulkan suasana saling mencurigai antar umat beragama, serta membuat kegaduhan yang luar biasa serta bisa berdampak buruk pada terpuruknya sistem perekonomian secara nasional saat ini, jadi secara pribadi saya juga meyakini kalau para pelaku *TERORIS ISIS* saat ini memiliki motif lainnya yaitu ingin mendeskreditkan citra agama islam dan menjatuhkan wibawa polri serta pemerintahan dihadapan publik sebagai akibat dari lemahnya kepemimpinan nasional saat ini. Selain itu saya juga ingin mengkritisi semakin lemahnya fungsi Kordinasi antara Intelegen dibeberapa lembaga negara saat ini dalam hal menangani kasus kasus terkait terorisme ISIS yang ada dinegeri ini karena *TUPOKSI* intelegen dilapangan seperti berada di wilayah _"greey area"_ dalam hal eksukutorial karena terkesan dihadapan publik seringkali kecolongan dengan adanya aksi-aksi teror yang terjadi dinegeri ini karena adanya persoalan eksistensi maupun resistensi diantara lembaga yang memiliki fungsi kordinasi keamanan negara tersebut. Selain itu belum adanya aturan dan benang merah yang jelas dilapangan juga dapat berakibat fungsi kordinasi intelegen itu menjadi sangat membingungkan karena rantai komando yang begitu panjang serta banyaknya pihak yang masih tidak menginginkan keterlibatan TNI untuk ikut serta dalam menangani persoalan teroris ISIS di negeri ini, padahal apabila unsur TNI dapat dilibatkan dalam menanggulangi persoalan teror dinegri ini melalui mekanisme pembuatan payung hukum, maka sudah bisa dipastikan penanganan kasus teror bisa dengan cepat diselesaikan karena TNI memiliki perangkat yang terlatih dan peralatan yang canggih untuk digunakan dalam mengantisipasi aksi-aksi terorisme lainnya yang akan terjadi dimasa mendatang. Untuk itu sudah selayaknya Pemerintah dan Parlemen duduk bersama untuk secepat mungkin melakukan pembahasan RUU anti teror dan membuat regulasi yang dapat mengatur tugas dan fungsi kordinasi intelegen yang ada dilapangan agar tidak tumpang tindah dalam implementasinya nanti dilapangan dan tidak ada keraguan, lagi karena teror teror yang terjadi saat ini sudah sangat menggangu ketertiban masyarakat sipil didalamnya dan kelangsungan hidup manusia dinegeri ini di masa mendatang. Sebagai pesan penutup, semoga saja aksi *Teror* yang terjadi dihari raya nan fitri ini di mapolda sumatra utara menjadi teror yang terakhir terjadi dibumi pertiwi dan berharap kepada pihak aparatur penegak hukum untuk bekerja ekstra cepat dalam mengungkap rencana aksi teror kelompok ISIS tersebut agar tidak ada lagi korban jiwa yang melayang sebagai akibat dari aksi Terorisme sesat yang mengatasnamakan *ISIS* yang merupakan produk propaganda buatan asing tersebut. (Oleh: Pradipa Yoedhanegara, warga Jakarta)