NKRI Butuh Pemimpin Besar, Visi Besar dan Berjiwa Besar. Bukan yang Hobby Pencitraan

NKRI Butuh Pemimpin Besar, Visi Besar dan Berjiwa Besar. Bukan yang Hobby Pencitraan
Oleh: Pradipa Yoedhanegara Publik saat ini di era kepemimpinan Presiden Jokowi sering kali dikejutkan dengan beredarnya informasi saling klaim keberhasilan yang dirilis oleh para pejabat pemerintah, baik dalam sebuah kanal berita online maupun media mainstream lainnya mengenai cerita kesuksesan atau pun kehebatan rezim saat ini dalam membangun infrastruktur secara besar-besaran seolah olah pemerintahan saat ini adalah yang paling berhasil dan efektif dalam memimpin dan membangun negeri ini, dengan kesan mengesampingkan peran pemimpin sebelumnya?! Aneh dan sangatlah tidak elok dan kurang enak untuk di dengar sama sekali jika ada orang ataupun sekelompok orang yang ada didalam pemerintahan yang memiliki hobby melakukan *fait acomply* antara mantan pemimpin sebelumnya dengan pemimpin yang saat ini menjabat tanpa melihat keberhasilan pemimpin sebelumnya dan mengabaikan seluruh pekerjaan pendahulunya saat itu dengan cara mengaburkan sejarah pembangunan para pemimpin yang menjadi pendahulunya. Pasang Surut dalam hubungan dan komunikasi politik dan disertai gelombang yang terjadi saat ini merupakan dinamika politik sekaligus merupakan sebuah proses panjang dalam pendewasan politik ditengah masyarakat kita saat ini, namun hal tersebut hendaknya janganlah membuat kegaduhan ataupun konflik maupun polemik yang berkepanjangan sebab akan menjadi contoh buruk dalam demokrasi yang sedang kita bangun saat ini dengan susah payah. Seharusnya Polemik maupun Konflik yang terjadi di dalam pemerintahan saat ini dengan pemerintahan sebelumnya dapat menghasilkan konsensus bagi masyarakat banyak dan dapat dijadikan sebagai alat untuk bisa saling *INTROSPEKSI* diri bagi para pemimpin politik di negeri ini serta dapat dijadikan sebagai bahan renungan agar hidup berbangsa dan bernegara menjadi lebih *HUMANIS dan DINAMIS*, tidak lagi mencekam seperti yang terjadi saat ini terkesan damai namun sangat mencekam. Proses *DIALEKTIKA POLITIK* yang terjadi antara para pemimpin politik dinegeri ini serta para pemangku kebijakan lainnya selayaknya bisa menjadi sesuatu yang *TERUKUR* agar dapat di pahami dengan bijak oleh semua share holder dibidang politik maupun masyarakat luas sebagai suatu proses politik yang begitu DINAMIS menyangkut hubungan para pemimpin dengan para pendahulunya karena *DISPARITAS* yang terjadi adalah merupakan sesuatu yang *RAHMATAN LIL ALAMIEN* karena datangnya dari sang khaliq. Para pemimpin dan para pemangku kebijakan yang ada dinegeri kita ini boleh saja bersinggungan dan berbeda dalam PARADIGMA berfikir menyangkut metodelogi untuk mensejahterakan rakyat banyak namun hal tersebut harusnya dapat di mengerti oleh masyarakat secara luas kalau hal tersebut merupakan sebagai bagian Proses Pendewasaan Berfikir para pemimpin kita yang sangat LINEAR dalam membangun komunikasi yang seharusnya dapat saling komunikatif. Proses pembangunan yang terjadi di Indonesia, tidaklah bisa diklaim hanya faktor dari keberhasilan satu pihak, atau pun secara sepihak oleh rejim yang saat ini berkuasa, karena tidak ada proses pembangunan yang terjadi di Indonesia yang bisa selesai hanya dilakukan dalam kurun waktu 1 sampai 2 tahun saja, karena belum pernah saya menemukannya dinegara manapun juga termasuk dinegara yang sudah maju sekalipun. Saat ini saya ingin mengambilkan sebuah contoh pembangunan yang dilakukan secara berkepanjangan salah satunya yaitu adalah Jalan Tol Trans Sumatera yang saat ini masih terjadi polemik dalam pembebasan lahannya dan itu sudah berlangsung sebelum rezim ini dilantik dan rencana pembangunan tol tersebut juga berlangsung bukan di era kepemimpinan saat ini, begitu juga dengan pembangunan trans papua yang dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus hingga berganti rezim. Secara pribadi saya bukanlah anggota partai demokrat, atau pun menjadi pendukung partai tersebut saat berkuasa, namun saya sangat mengapresiasi dan memberikan penghormatan kepada mantan Presiden SBY ketika masih menjabat sebagai Presiden ketika meresmikan Jembatan *SURAMADU* pada bulan juni 2009 yang dalam sambutannya beliau menjelaskan secara detail dan runtut kepada masyarakat luas bagaimana proses gagasan, ide dan pelaksanaan pembangunan jembatan SURAMADU tersebut sejak Era kepemimpinan Presiden Soekarno, Soeharto dan para pemimpin lainnya hingga sampai pada era kepemimpinan SBY yang akhirnya dapat merampungkan dan menyelesaikan pembangunan Jembatan dengan Bentang Panjang yang terpanjang di ASIA Tenggara saat itu, tanpa adanya klaim dari Presiden SBY maupun klaim dari orang-orang di sekeliling rezim SBY bahwa hal itu adalah hasil kerjaan murni yang dilakukan oleh pemerintahannya. Untuk itu, sebaiknya para pemimpin kita saat ini belajar dari pidato SBY di atas saat meresmikan Jembatan *SURAMADU* dan selayaknya para pemimpin belajar menjadi negarawan yang mau meniru hal-hal yang baik dan bijak yang pernah dilakukan oleh rezim sebelumnya, bukan malah menghasut, atau pun mengadu domba atau pun memprovokasi antara pemimpin saat ini dengan pemimpin sebelumnya dengan menyebarkan keburukan atau saling merusak citra pemimpin lainnya karena hal ini bukanlah pembelajaran politik yang sehat bagi bangsa dan negara kita saat ini. Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan ini selayaknya para pemimpin negeri ini dapat saling bersilaturahmi dan saling merangkul bukan malah saling memukul agar terjadi harmonisasi di tengah masyarakat karena masyarakat akan menjadikan para pemimpin ini sebagai contoh dalam setiap kehidupan sosial yang ada didalam masyarakat. Karena dengan hubungan yang Harmonis antar elit dan para tokoh pemimpin bangsa niscaya tidak akan muncul benih saling mencurigai dan membenci diantara sesama masyarakat di level grass rooth sebab pemimpin tidak lagi saling menghujat dan menjatuhkan nama baik dan martabat pemimpin lainnya agar suasana kebatinan didalam masyarakat kembali normal serta kondusif dan tidak mengalami kekacauan, atau pun permusuhan, maupun ketidakstabilan dan ketidakharmonisan dalam hubungan sosial bermasyarakat dinegeri ini. Sebagai pesan penutup saya ingin memberikan sedikit nasihat bagi rezim yang saat ini berkuasa beserta para pendukungnya agar tidak menjadi baperan dan memiliki kuping yang tebal saat menghadapi kritik dari masyarakat di era keterbukaan ini dan tidak melakukan intimidasi terhadap orang-orang yang kritis dinegeri ini jika kita memang ingin membangun demokrasi yang sehat dan tidak pernah lelah memberikan pelajaran tentang bagaimana berdemokrasi yang sehat dan bijak dinegeri yang kita cintai ini, meski para pemimpin nantinya akan silih berganti untuk memimpin negeri ini, namun masyarakat kita sangat merindukan pemimpin yang mau berfikir besar dan melakukan pekerjaan besar dan bisa berjiwa besar dalam mengayomi 255 juta jiwa rakyat yang hidup dibumi pertiwi ini karena akhirnya NKRI butuh figur negarawan bukan yang hanya sekedar *PENCITRAAN* Karena pemimpin di NKRI seharusnya bisa menjadi alat pemersatu bangsa dan menjadi figur tokoh yang mengayomi dan disegani seluruh warga negaranya dan dapat menjadi simbol kebesaran Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berdaulat di mata dunia serta tidak lagi mengkotak-kotakkan rakyatnya dengan isu-isu yang hanya menghabiskan energi bangsa ini karena banyaknya tantangan ke depan di era revolusi digital saat ini demi menjaga keutuhan kita semua dalam bingkai kebhinekaan dan persatuan nasional. Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,Wassalamualaikum Wr, Wb. PYNTangsel 21 Juni 2017Pukul 00.00