Menpar Canangkan Tahun 2019 Dibangun 100 Ribu Homestay

Jakarta, Obsessionnews.com - Indonesia memiliki alam yang mempesona. Sayang kalau tidak dikelola dengan baik. Perlu sarana dan prasarana agar alam nan indah ini dapat banyak dikunjungi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara (wisman). Selain untuk tempat destinasi menghilangkan kepenatan, keindahan alam tersebut juga berpotensi menghasilkan devisa negara yang akan menyejahterakan masyarakat luas. Itu yang menjadi target dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dirinya menginginkan Indonesia menjadi tempat wisata favorit di dunia. Tentu mencapai semua itu melalui beberapa tahap. Perlu kerja keras dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Saat ini, kata Arief Yahya, ada tiga prioritas utama dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). "Yaitu digital tourism, homestay desa wisata dan aksebilitas," ucap Arief Yahya saat dialog dan silaturahmi wartawan pariwisata (Forwarpar) di Bakmi Naga, Kelapa Gading Walk, Jakarta Utara, Selasa (20/6/2017). Aksebilitas tersebut adalah, ucap Yahya, yang dilaksanakan tahun ini dalam upaya mencapai target pengunjung 15 juta wisman dan 20 juta pada 2019. Semua terkoneksi. Apalagi saat ini zamannya digital. Dari bangun tidur yang dicari pertama adalah handphone. Berbagai kebutuhan dicari dalam alat yang terkoneksi dengan jaringan internet ini. Handphone yang telah menjadi digital lifestyle ini telah mengubah perilaku para wisatawan (traveler), karena mempunyai keutamaan yaitu Mobile, personal dan interactive. "Hasil kajian menunjukkan 70 % traveler melakukan search dan share menggunakan media digital," kata Arief. Mengenai program homestay desa wisata, kata Arief melanjutkan, nanti akan dibangun 100 ribu homestay pada tahun 2019. Minimal 10 Bali baru atau 10 destinasi prioritas dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sepuluh destinasi yang akan dibangun homestay tersebut adalah, Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borubudur Jawa Tengah, Bromo Jawa Timur, Mandalalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara. Ttarget tahun 2017 ini dibangun 20 ribu, tahun 2018 30 ribu dan 50 ribu pada tahun 2019. "Homestay ini dikelola secara koorporasi, bukan koperasi. Dengan dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis digital, yang saya sebut tepatnya digital sharing economy," pungkasnya. Selain itu, program homestay ini merupakan kontribusi dukungan Kemenpar terhadap program satu juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat oleh Kementerian PUPR. (Popi)





























