Teror ke Novel untuk Beri Peringatan Agar KPK Tak Sentuh Polri

Oleh: Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi III/Hukum DPR RI) Bisa jadi ada kebenaran pernyataan penyidik senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan bahwa ada konspirasi terhadap teror yang dialaminya. Yakni, teror itu sebagai pesan agar KPK tidak menyentuh polisi? Untuk diketahui, rekrutmen Komisioner KPK sejak awal sudah mengalami kekeliruan. Oleh karena itu, diragukan nyali para Komisioner KPK memerangi kasus-kasus korupsi secara sungguh-sungguh. Mengapa Novel harus mengalami teror disiram air keras hingga merusak matanya? Agaknya teror ke Novel untuk beri peringatan agar KPK tak menyentuh Polri dan sekondennya. Polri telah menjadi faktor determinasi KPK. Wajar, karena komisioner KPK sejak awal sudah ketakutan. Mengapa orang-orang ketakutan ini nyasar ke KPK ya? Saya kira di situ salahnya. Salah rekrut. Untuk komisioner KPK, hanya 20% ilmu hukum, 80% adalah nyali. Kalau dibalik, cocok untuk balai lelang. Jadinya, orang tak punya nyali nyasar ke sarang harimau dan bermimpi jadi harimau. Saran saya, komisioner yang ketakutan, mundur saja supaya bisa diganti orang yang punya nyali. KPK bukan tempat ayam sayur. Jika komisioner ditersangkakan oleh Polri, ia harus off dari KPK. Tak seorang pun yang mampu menolong komisioner dari UU KPK. Mundur saja. Terutama komisioner yang punya masalah hukum di masa lalu. Kasihan KPK nya. Akibatnya, diteror terus. Saya yakin apa yang dikemukakan Novel kepada Tempo. Ada jenderal, ada konspirasi, ada detournament di pavoir penyidik. Itu kejahatan dan kejahatan harus dilawan. Saya lihat Brigadir Jenderal Pol Rikwanto (Humas Mabes Polri) sudah menjawab di televisi. Dan, seolah menyalahkan Novel. Mestinya kata Rikwanto, penjelasan Novel ke BAP, bukan ke pers. Lho, Rikwanto telmi. Bukti dari Novel sudah disampaikan kepada penyidik, difrezing. Budaya standar, itu di mana-mana dan tak terkendali. Makanya Novel bicara ke pers. Toh, tak mengubah keadaan. Adanya tanggapan telmi. Semakin takutlah komisioner. Saking takutnya, mereka minta perlindungan ke Presiden Jokowi. Tapi tematiknya diambil soal hak angket DPR, bukan soal Novel. Sukses besar teroris! (*)





























