Belajar Ikhlas Berpuasa

Oleh: Agus Mustofa, Penulis buku-buku "Serial Diskusi Tasawuf Modern" Semoga seluruh rangkaian ibadah puasa yang sudah kita jalani beberapa hari ini memperoleh ridha-Nya. Dan lantas menghasilkan dampak baik bagi kesehatan tubuh kita secara lahiriah. Serta, kualitas ketakwaan secara batiniah. Ya, begitulah rasanya, ketika kita melakukan sebuah ibadah dengan penuh keikhlasan. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Yang demikian ini berbeda dengan orang-orang yang tidak ikhlas dalam menjalani ibadahnya. Hari-hari berjalan lambat. Bahkan sangat lambat. Bergantung pada tingkat keterpaksaannya. Semakin terpaksa, semakin terasa lambat. Sehingga di dunia maya pun beredar meme yang mengambarkan betapa masih lamanya hari lebaran tiba. Setiap hari berhitung mundur: Lebaran masih kurang 23 hari. Masih kurang 22 hari. Kurang 21 hari. .. 20 hari ... 19 hari. Oooh, betapa lamanya..! Ini sangat berbeda dengan orang yang melakukan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Bahkan kerinduan. Ia begitu menikmati saat-saat ibadahnya. Sehingga waktu terasa berjalan demikian cepat. Rasanya masih belum terlampiaskan kerinduan hatinya, tiba-tiba Ramadan sudah berjalan seminggu lamanya. Oooh, kok cepat sekali ya? Kualitas keikhlasan dalam beribadah ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas pencapaian. Orang-orang yang menjalankan ibadah dengan terpaksa tidak akan memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Bahkan, sering kali malah terjadi sebaliknya. Katakanlah, orang yang berpuasa dengan cara terpaksa. Bukan kesehatan yang bakal diraih, melainkan malah jatuh sakit. Kenapa? Karena, keterpaksaan itu akan menimbulkan stres. Dan stres bakal memicu ketidakseimbangan sistem homeostasis di dalam dirinya. Hormon-hormon dan neurotransmitternya bakal bekerja secara anomali. Misalnya, orang yang berpuasa dengan terpaksa, asam lambungnya akan keluar lebih banyak dalam waktu yang tidak tepat. Sehingga memicu munculnya atau kambuhnya penyakit mag: mules, kembung, perih, panas, dan boleh jadi luka di dinding ususnya. Bahkan, tidak jarang memunculkan rasa pening, meriang, badan lemas, serta semangat yang melemah. Lantas mengganggu berbagai aktivitas sehari-harinya. Ini berbeda dengan orang yang menikmati puasanya. Rasa ikhlas dan sikap menikmati ibadah itu akan memunculkan mekanisme hormonal yang memicu produksi serotonin dalam tubuhnya. Efeknya, akan membuat kita merasa nyaman dan bahagia. Jauh dari stres. Selain itu, tubuh juga akan memproduksi endorfin yang berfungsi untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit. Dan, tak kalah pentingnya adalah diproduksinya dopamin yang menyebabkan perasaan kita menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan ibadah yang telah kita niatkan, dengan riang gembira. Coba perhatikan betapa pentingnya 'keikhlasan' dalam menjalankan ibadah itu. Dampaknya luar biasa. Bukan hanya secara batiniah, tapi juga lahiriah. Sebuah aktivitas spiritual yang melahirkan keseimbangan hormonal bagi kesehatan: lahir dan batin. Kualitas jiwa bakal berpengaruh pada kualitas tubuh. Demikian pula sebaliknya, kualitas tubuh bakal berpengaruh pada kualitas jiwa. Tapi, ternyata 'jiwa' lebih kuat mempengaruhi tubuh, dibandingkan pengaruh tubuh pada jiwa. Orang yang jiwanya kuat, bisa mengondisikan tubuhnya dengan baik. Namun, orang yang jiwanya lemah, tubuhnya pun bakal sakit-sakitan. Sakit dikarenakan pikiran: psikosomatis. Maka, belajarlah mengikhlaskan perbuatan. Khususnya ibadah. Lebih khusus lagi, saat ini, puasa kita. Mumpung berada di bulan Ramadan. Bulan penuh rahmat yang disediakan Allah untuk memperbaiki kualitas diri kita lahir dan batin. Ternyata, kunci suksesnya berada di dalam jiwa kita sendiri: keikhlasan. Persis seperti diungkapkan Allah di dalam Qs. 2: 184 ~ "...Barangsiapa melakukan kebajikan (ibadah) dengan rela hati (ikhlas), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (*)





























