Pilpres 2019 dalam Persaingan AS-Cina

[caption id="attachment_178211" align="alignleft" width="248"]
Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986[/caption] Pada tahun 2019 mendatang akan dilaksanakan sekaligus Pilpres dan Pileg. Khusus Pilpres 2019, akan dipengaruhi persaingan AS-Cina. Penyelenggaraan Pilpres 2019 dalam persaingan AS-Cina sebagai adikuasa, dan masing-masing berupaya membantu memenangkan pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden. Tentu saja maksud dan tujuan negara adikuasa mendukung masing paslon agar pihak pemenang mendukung dan memenuhi kepentingan nasional dan motif kekuasaan negara adikuasa tersebut di Indonesia. Dinamika politik ekonomi di Asia Tenggara ditentukan persaingan AS-Cina. Persaingan AS-Cina dipengaruhi "kepentingan nasional" masing-masing negara adikuasa tersebut. Secara geopolitik persaingan global antar negara adikuasa, AS, Cina, dan Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan. Artinya, Asia Pasifik menjadi “medan perang” baru berbagai kepentingan negara adikuasa seperti AS, Cina dan Rusia. Indonesia sebagai suatu negara bangsa di kawasan Asia Tenggara otomatis akan menjadi “sasaran arena persaingan” negara adikuasa. Untuk memperkuat kehadiran militer di kawasan, AS akan kembali mempengaruhi penguasa negara Indonesia dengan mendukung kekuatan-kekuatan politik pro AS dan anti Cina di Indonesia. Yakni:
Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986[/caption] Pada tahun 2019 mendatang akan dilaksanakan sekaligus Pilpres dan Pileg. Khusus Pilpres 2019, akan dipengaruhi persaingan AS-Cina. Penyelenggaraan Pilpres 2019 dalam persaingan AS-Cina sebagai adikuasa, dan masing-masing berupaya membantu memenangkan pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden. Tentu saja maksud dan tujuan negara adikuasa mendukung masing paslon agar pihak pemenang mendukung dan memenuhi kepentingan nasional dan motif kekuasaan negara adikuasa tersebut di Indonesia. Dinamika politik ekonomi di Asia Tenggara ditentukan persaingan AS-Cina. Persaingan AS-Cina dipengaruhi "kepentingan nasional" masing-masing negara adikuasa tersebut. Secara geopolitik persaingan global antar negara adikuasa, AS, Cina, dan Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara dan Laut Cina Selatan. Artinya, Asia Pasifik menjadi “medan perang” baru berbagai kepentingan negara adikuasa seperti AS, Cina dan Rusia. Indonesia sebagai suatu negara bangsa di kawasan Asia Tenggara otomatis akan menjadi “sasaran arena persaingan” negara adikuasa. Untuk memperkuat kehadiran militer di kawasan, AS akan kembali mempengaruhi penguasa negara Indonesia dengan mendukung kekuatan-kekuatan politik pro AS dan anti Cina di Indonesia. Yakni: - Kelompok pensiunan perwira tinggi militer seperti grup SBY (perwira militer pensiunan), grup Prabowo (perwira militer pensiunan), grup Cendana (keluarga dan pendukung mantan Presiden Soeharto)
- TNI/Polri.
- Islam politik umumnya turunan dari Partai Masyumi (era Orde Lama).
- Kelompok politisi parpol non aliran Islam dan Marhaenisme turunan Partai Golongan Golkar (era Orde Baru).
- Kaum terpelajar didikan Barat khususnya AS, dan lain-lain.





























