Saya Tidak Membenci Ahok

Oleh: Canny Watae (Aktivis Tionghoa) Apabila saya membenci Ahok karena ia Tionghoa, maka itu berarti saya benci juga pada tante saya yang orang Tionghoa asli, seorang pendeta dengan ribuan jemaat di Jember, Jawa Timur. Berarti, saya juga benci pada kakak-kakak sepupu saya di sana. Saya tidak membenci Ahok karena ketionghaannya. Apabila saya membenci Ahok karena ia Tionghoa, maka itu berarti saya benci juga pada seorang kemenakan saya, yang ber-ibu seorang Tionghoa. Saya tidak membenci Ahok karena ketionghaannya. Apabila saya membenci Ahok karena ia Tionghoa, maka itu berarti saya benci juga pada istri ipar saya, yang orang Tionghoa asli. Saya tidak membenci Ahok karena ketionghaannya. Apabila saya membenci Ahok karena ia Tionghoa, maka itu berarti saya benci juga pada kawan saya semasa SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, rekan bisnis, tetangga, teman facebook, yang banyak sekali orang atau peranakan Tionghoa. Saya tidak membenci Ahok karena ia Tionghoa. Apabila saya membenci Ahok karena ia Tionghoa, maka itu berarti saya benci juga pada dosen yang dulu membimbing penulisan skripsi saya yang adalah orang Tionghoa asli. Saya tidak membenci Ahok karena ia Tionghoa. Saya bahkan tidak membenci Ahok atas dasar apa pun. Bahwa saya bukan pendukung Ahok, jawabannya adalah IYA. Saya tidak mendukung Ahok bukan karena ia Tionghoa. Silahkan telusur wall FB saya mengapa saya tidak mendukung dia. Saya ulangi: bukan karena Ahok Tionghoa. Saya menyesalkan orang-orang yang 3 tahun terakhir ini memaksakan definisi BENCI. Mengkritisi pihak tertentu disebut membenci. Pengkritisan dengan mengajukan data pun dikatakan membenci. Dibawakan perbandingan "before & after" dari berbagai janji yang tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya, kita-kita ini langsung divonis membenci. Atas dasar benci. Masyarakat luas pun diberi edukasi buruk untuk memandang pengkritisan sebagai kebencian. Sekarang, siapa pun yang tidak bersimpati pada nasib Ahok dipandang sebagai akibat dari perasaan benci kepada Ahok. Apakah karena rumpun etnikalnya atau karena agama yang dianutnya, atau karena kedua-duanya. Masyarakat awam juga banyak yang terhanyutkan dengan upaya masif "pensucian" Ahok. Ahok sebagai kebenaran mutlak. Beberapa contoh: Serapan anggaran DKI di bawah kegubernuran Ahok rendah. Itu bahasa akuntansinya. Arti yang lebih umum adalah: banyak uang belanja pemerintah tidak terpakai. Bahasa terus terangnya adalah: Pemprov DKI kurang bekerja! Opini yang dibangun adalah: daripada digarong maling anggaran, daripada dikorupsi. Ahok menjaga duit rakyat. Dalam hal serapan rendah ini, Ahok tidak punya andil kesalahan apa pun, malah, dia menjaga duit rakyat. Yang benar adalah Ahok. Ya, ampuuuuunnn... Perkara ada maling anggaran, ada koruptor dalam tubuh birokrasi pemerintahan, sehingga anggaran rawan digasak, itu larinya ke inspektorat dan berbagai instansi dalam tubuh pemerintahan DKI sendiri yang memiliki fungsi pencegahan, pencatatan aset, pengelolaan keuangan, yang mana Ahok sendiri sebagai Gubernur bertanggung jawab sebagai dirigen-nya. Adalah tanggung jawab dia sebagai GOVERNOR untuk meng-GOVERN semua yang menyangkut pelaksanaan anggaran sedemikian rupa, dalam koridor aturan yang ada, sehingga anggaran dapat tergunakan sebagaimana plafon anggaran yang direncanakan. Semakin dekat plafon semakin bagus. Mencapai plafon itu namanya Perfect. Kalau ada yang melakukan penyimpangan anggaran di luar koridor aturan, itu sudah ada sistem hukuman yang akan menjadi muaranya. Bukan tugas Ahok sebagai Gubernur untuk merondai duit rakyat dalam APBD siang malam. Masyarakat banyak yang dibikin percaya: dalam hal serapan anggaran rendah, itu lebih baik ketimbang duitnya dikorupsi. Ahok yang benar. Ya ampuuun? Pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Audit investigasi BPK secara tegas menyatakan ada KERUGIAN Negara. Jumlahnya pun sangat besar. Ratusan milyar. Sekian banyak pejabat pemerintahan diseret ke pengadilan dan mendapat vonis bersalah dengan bukti audit BPK. Pada Ahok, hal itu tidak terjadi. Opini penyucian Ahok untuk kasus ini adalah: tidak ada niat jahat (!). Ya ampuuun?? Masyarakat pun banyak lagi yang dibikin percaya: Ahok yang benar. Bahkan transaksi keuangannya janggal sekalipun, percaya saja. Bahwa obyek yang dibayar itu tidak serta-merta langsung dikosongkan bekas pemiliknya pun, percaya saja. Ya ampun? Dua contoh saja, ya. Masih ada beberapa contoh lagi tentang "pensucian" Ahok. Juga ada beberapa hal tentang bagaimana Ahok menempatkan prasangkanya sendiri sebagai sebuah kebenaran, lalu berdasar prasangka yang belum tentu benar itu ia menuduh-nuduh orang lain. Saya lewati bagian itu karena saya ingin masuk ke ranah agama. Yang mana, agama yang Ahok anut sama dengan agama yang saya anut: Kristen Protestan. Paragraf setelah ini lebih tepat untuk dibaca sesama penganut Kristen. Saya melihat banyak orang Kristen yang terhanyutkan dengan upaya amalgamasi (persenyawaan) antara nasib Ahok dengan agama Kristen yang dianutnya. Bahwa, karena ia seorang Kristen maka nasibnya menjadi seperti sekarang ini: didakwa menista agama lain, kalah dalam Pilgub, dan divonis bersalah sebagai penista. Semuanya karena ia Kristen. Lalu, banyak orang Kristen merasa perlu mempertanyakan lebih lanjut kepada Negara di mana makna kebhinekaan, pluralitas, dan keadilan bagi kaum minoritas. Ini namanya terhanyut amalgamasi Ahok-Kristen. Ahok dan (agama) Kristen adalah amalgam. Nasib Ahok menjadi sama dengan nasib Kristen dan umat yang menganutnya. Hei, tunggu dulu. Bahwa sebuah individu yang menganut kekristenan dituntut untuk amalgam dengan buah-buah ajaran Kristen itu sendiri, itu benar. Orang Kristen harus bersenyawa dengan ajaran Kristus. Orang-orang Kristen adalah tubuh Kristus itu sendiri. Kalau orang Kristen secara pribadi gagal atau belum berhasil beramalgam dengan ajaran Kristus: tidak menunjukkan buah-buah roh berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri, maka...... Ingatkan orang itu. Dia belum berhasil bersenyawa dengan ajaran Kristus. Jangan justru bikin bikin pembenaran: biar kasar asal tidak korupsi. Amalgamitas Ahok-Kristen itu harus dimaknai sebagai menyatunya praktik-praktik kehidupan Ahok sebagai individu dengan ajaran Kristus. Menyatu, nggak? Ujilah segala sesuatunya. Itu pesan Alkitab, lho. Jangan menerjemahkan nasib Ahok sebagai terpidana sebagai nasib agama Kristen di Indonesia. Itu pemaksaan namanya. Anda termakan amalgamasi Ahok-Kristen. Tapi saya tidak menyalahkan Anda karena upaya amalgamasi itu ada, dan nyata. Bahkan oleh Ahok sendiri. Ahok menjual wacana bahwa ia dobel minoritas. Minoritas sebagai orang Kristen dibawanya ke permukaan, bersama dengan minoritasnya sebagai orang Tionghoa. Dia menjualnya September 2014. Padahal, tidak ada yang menanyakan perihal itu. Dalam berbagai kesempatan rapat yang direkam video dan disebarkan kepada publik ia berulangkali menyitir agama yang ia anut, yang "laku" menarik simpati kalangan pemirsa Kristen pada umumnya. Padahal, tidak ada yang menanyakan perihal agama(nya Ahok). Apa yang diucapkan Ahok adalah "cerita" keimanan dia. BUKAN praktek keimanan. Di sebuah program TV punya Nyonya Najwa, Ahok juga bercerita keimanan. Itu bukan praktek keimanan. Dalam sebuah wawancara radio Jakarta yang dipancarulangkan sebuah radio di Makassar saya mendengar langsung Ahok bercerita keimanan. Itu bukan praktek keimanan. Seseorang bisa saja mengatakan "siap mati demi sesuatu yang diimani". Itu cerita, namanya. Bukan praktek. Prakteknya belum tentu seindah cerita. Ingat Petrus yang menyatakan imannya tidak akan goncang langsung di depan Yesus sendiri? Untung saja Yesus sudah tahu duluan, kan, apa yang bakalan terjadi? "Sebelum ayam berkokok 2 kali, kamu telah menyangkal AKU 3 kali". Diberi tahu begitu, Petrus makin bersungguh-sungguh: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Ternyata, ia pula yang menyangkal Yesus hanya beberapa jam setelah ngomong begitu, kan? Tiga kali. Persis yang dikatakan Yesus. Alih-alih memberi "tips" bagaimana menghadapi cobaan, Yesus lebih mengarahkan murid-muridNYA untuk berharap agar tidak dibawa ke dalam pencobaan. Cobalah ucapkan doa Bapa Kami sekarang. Anda pasti akan menyebut "dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" di dalam doa itu. Ahok sebaliknya, justru menciptakan sendiri momen pencobaan untuk dirinya. Dalam beberapa kesempatan saya mendapat berbagai postingan medsos dari sesama orang Kristen yang pada intinya adalah "cerita" keimanan Ahok. Benar-tidaknya isi postingan itu adalah topik tersendiri. Namun, material itu dengan sendirinya menjadi bukti adanya upaya amalgamasi Ahok-Kristen. Upaya amalgamasi itu berhasil. Setidaknya, yang saya alami sendiri hasilnya. Tiga, atau bahkan sudah 4 kali ibadah yang saya ikuti menyelipkan nama Ahok dalam doa. Tuhan, ampuni saya. Saya langsung buka mata. Jumlah itu belum termasuk topik-topik "terancamnya" kebhinekaan yang entah sudah berapa kali saya dengar dalam ibadah dan lingkungan gereja. (Topik terancamnya kebhinnekaan ini kasat mata adalah sesuatu yang dimunculkan bersamaan dengan bergulirnya kasus penistaan yang dilakukan Ahok yang sifatnya hendak menandingi gerakan yang menuntut Ahok dihukum. Parade ini-itu mengangkat thema kebhinnekaan sangat jelas merupakan sesuatu "yang digerakkan", bukan sebuah spontanitas). Secara empiris, gereja sebagai organisasi tampak ikut-ikutan merasa penghukuman kepada Ahok sebagai penghukuman kepada (agama) Kristen. Ahok sukses membajak kekristenan menjadi tameng kepentingannya sendiri (!) Ia berhasil membuat banyak sekali orang Kristen ikut merasa bahwa kasus yang dihadapinya adalah masalah bersama. Apakah Ahok dihukum karena iman kristennya? TIDAK. Ahok dihukum karena perbuatannya secara pribadi yang melawan hukum negara. Suka atau tidak, menodai ajaran agama (yang diakui di Indonesia) adalah pelanggaran hukum. Soal bahwa keberadaan pasal hukum yang mengatur tentang penodaan agama ini bersifat pasal karet (dan karenanya harus dihapus) itu lain perkara. Setahu saya, Yesus menganjurkan murid-muridnya untuk taat pada hukum negara. Jika menginginkan pasal penodaan agama dihapus, bawa ke dalam doa. Dan gugat ke Mahkamah Konstitusi. Ada atau tidak orang yang bernama Buni Yani, perkataan Ahok yang bersifat menodai agama itu jelas videonya ada dan dibuat oleh instansi di bawah Pemprov DKI sendiri. Buni Yani malah tampak menjadi semacam bentuk peng"obyek"an sasaran penyebab mengapa Ahok harus menjalani persidangan. Tampak bahwa ada upaya memindahkan kesalahan kepada Buni Yani. Dengan lain kalimat: Ahok tidak melakukan pelanggaran karena Buni Yani yang salah. Orang Kristen semestinya malu dengan upaya seperti itu. Situasi pun jadi berputar-putar membahas makna sebuah kalimat dengan ada kata "pakai" di dalamnya dengan tanpa kata "pakai". Padahal, digunakan atau tidak digunakannya kata "pakai" dalam kalimat yang dilontarkan Ahok, sifat menodai ajaran agama yang mendapat perlindungan hukum sangat jelas terdengar. Satu-satunya cara agar Ahok terbebas dari tuduhan penodaan adalah ia sama sekali tidak bicara hal itu. Ahok gagal menjaga lidahnya. Alkitab berkali-kali menyitir agar kita menjaga lidah dengan baik. Ahok mengikuti ajang pertarungan politik yang selama ribuan tahun dipenuhi intrik yang ia sebagai peserta harus siap menghadapi dengan baik. Tidak "cengeng" dengan menjual keminoritasan yang disandangnya. Alkitab banyak menggambarkan "resiko-resiko" politik yang semestinya Ahok tahu: Habel yang persembahannya diterima Allah disingkirkan Kain dengan cara dibunuh, Esau kehilangan hak kesulungan karena diakalin Yakub adiknya, Daud jadi pelarian dikejar Saul yang khawatir tahtanya lepas, Ratu Wasti dipecat karena konsideran memberatkan dari hulubalang raja, Yohanes Pembaptis yang disingkirkan nyawanya dengan politik aji mumpung dari orang mendendamnya (putri si pendendam tariannya sangat menyenangkan Raja, Raja mempersilahkan minta hadiah apa saja, dan si pendendam membisiki anaknya untuk minta kepala Yohanes!), dan banyak banyak lagi. Mendapat predikat "kafir" dari umat beragama lain Ahok semestinya terima saja. Wong itu pandangan umat agama lain terhadap orang di luar agama itu? Nyaris sama saja, kok, dalam Alkitab juga tersirat di luar dari yang percaya pada Allah adalah kafir. Ahok, dengan berbagai cerita keimanan yang pernah dia tonjolkan mengenai dirinya, semestinya bisa cerdas secara iman menghadapi ucapan "kafir" yang ditujukan kepadanya dari umat beragama lain. Terima saja. Toh persyaratan mendaftar cagub tidak mempersoalkan itu. Sistem dalam negara kita TIDAK mendiskriminir Ahok, kan? Sesuai "prosedur" orang Kristen, Ahok bawa saja semuanya dalam doa, tanpa perlu menjualnya di depan publik. Lain soal kalau yang bilang Ahok kafir itu adalah umat Kristen sendiri. Lapor ke (lembaga) gereja. Alkitab menyiratkan begitu. Itu pun, toh tidak menghalangi Ahok jadi cagub juga, kan? Menjadi orang Kristen itu berarti memikul salib masing-masing. Salib yang sudah berat itu jangan lagi ditambah-tambahi dengan pencobaan kreasi sendiri. Perempuan-perempuan Yerusalem yang meratapi Yesus dalam perjalanan salibnya ke Golgota mendapat respon Yesus: "Jangan tangisi diriku. Tangisilah dirimu dan anak-anakmu". Yesus tidak pernah mengasosiasikan penderitaanNYA sebagai dampak dari penyebaran kabar baik dariNYA dengan komunitas dan simpatisan yang terbentuk selama 3 tahun ia berdakwah di tanah Israel. Sampai mati pun, tidak! Pada akhirnya ingin saya tegaskan, pada segenap orang Kristen, jangan memandang mutlak bahwa Ahok-Kristen itu adalah amalgamitas. Jangan terbawa romantisme atas kesamaan iman belaka, terlebih sampai terhanyutkan oleh cerita-cerita keimanan yang sebagian besar sumbernya adalah Ahok sendiri. Ujilah segala sesuatunya terlebih dahulu. (***)





























