Krisis Mentor

Krisis Mentor
Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute   Sehabis mengisi acara di School of Writers yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Syarif Hidayatullah beberapa waktu lalu, saya sempat makan malam sambil ngobrol-ngobrol dengan Fajar Iman Hasanie, junior saya di Unas. Dan Dimas, aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Pertanyaan Fajar yang menggugah sempat mengagetkan saya."Bang, gimana ya orang macam Bung Karno dan teman teman sezamannya bisa begitu hebat. Bukan sekadar pintar dan cerdas. Pasti ada polanya." Saya sendiri rada kaget dengan pertanyaan sederhana tapi begitu tiba tiba. Terus terang saya juga nggak bisa menjawab. Jadi saya alihkan ke topik obrolan lain. Namun di tengah-tengah itu, saya tiba-tiba ingat pernah baca cerita Bung Karno waktu masih mahasiswa di Bandung sekitar 1920-an. Waktu itu, Bung Karno sempat bergabung dengan sebuah surat kabar lokal yang namanya rada aneh, yakni Sama Tengahan. Waktu itu Bung Karno memang banyak berkecimpung menulis di beberapa koran seperti Fajar Asia milik HOS Coktroaminoto. Bahkan waktu itu Kartosuwiryo yang belakangan merupakan pimpinan Darul Islam, juga bergabung bareng Bung Karno mengelola Fajar Asia. Tapi kembali ke cerita soal surat kabar Sama Tengahan tadi. Tiba- tiba setelah beberapa lama bergaung, Bung Karno dipanggil Dr Ciptomangunkusumo. Waktu itu Cipto selain dikenal sebagai senior pergerakan, juga usianya jauh lebih tua dari generasi Bung Karno, Bung Hatta dan Muhammad Yamin. "He Sukarno, kamu sudah gila ya," bentak Pak Cipto begitu Bung Karno menghadap. "Saya dengar kamu gabung di sebuah surat kabar namanya Sama Tengahan ya." Bung Karno merasa tak ada yang salah kontan menjawab,"Betul sekali,Pak. Sejauh ini sih oke-oke saja." Mendengar jawaban Bung Karno tersebut, kontan CIpto meradang lagi. "Kamu sudah gila ya Sukarno. Dalam pergerakan itu nggak ada yang namanya kaum tengahan. Yang ada itu hitam putih. Kamu menentang kolonialisme dan imperialisme atau ikut kelompok mereka. Nggak ada itu posisi di tengah-tengah," katanya.. Lanjut Pak Cipto sambil menguliahi Bung Karno,"Lagi pula kamu itu kan murid saya toh, masak setuju dengan yang tengahan. Kamu gila Sukarno." Setelah mendengar uraian dan kemarahan Cipto, Bung Karno kontan sadar di mana salahnya dia sampai bergabung di sebuah koran yang namnya Sama Tengahan. Maka seperti pengakuan BK sendiri di kemudian hari, gara gara dimarahi Cipto, tanpa pikir dua kali langsung berhenti bergabung dengan surat kabar itu. Namun kembali ke pertanyaan Fajar tadi, cerita Bung Karno itu tiba -tiba melintas kembali dalam ingatan saya, bukan soal Bung Karno bergabung dengab surat kabar Sama Tengahan. Justru cerita tersiratnya itu yang jadi hikmah maha penting. Termasuk untuk menjawab pertanyaan Fajar tadi. Yang mungkin juga pertanyaan banyak anak muda di tanah air sekarang ini. Bahwa kehebatan generasi era Sukarno dan teman sezamannya adalah mereka bukan sekadar punya senior dalam kancah pergerakan maupun organisasi. Melainkan juga punya mentor pembimbing. Mentor yang tahu apa keunggulan dan kelemahan murid yang dia mentori. Sekaligus menegur kalau si murid atau junior berpotensi keluar dari rel idealisme dan cita-cita pergerakan. Episode yang dikisahkan Bung Karno ketika ditegur Cipto soal bergabungnya dia dengan surat kabar yang dari namanya saja sudah aneh dan mencerminkan ideologi yang tak jelas, sebagai mentor politik dan pergerakan, Cipto kontan meluruskan Bung Karno sebelum bertindak terlalu jauh dan keblinger. Bung Karno tak mungkin begitu takzim mendengar dan menyerap amarah Cipto, kalau dia tidak memandang Cipto sebagai mentor politik dan pegerakannnya. *** Cerita lain adalah tentang Chairul Saleh, mantan Wakil Perdana Menteri III di era Bung Karno. Meskipun belakangan Chairul Saleh lebih dianggap mewakili pengikut Tan Malaka dan Partai Murba, Chairul sejatinya adalah murid Muhammad Yamin. Yaminlah mentor pergerakan dan politik di mata Chairul. Baru yang lain-lainnnya. Sampai sampai begitu kagumnya pada Yamin, Chairul yang waktu itu adalah mahasiswa fakultas hukum di era penjajahan Belanda, rela untuk membolos kuliah. Hanya supaya bisa menyimak pidato atau ceramah Yamin di berbagai forum pertemuan. Kesadaran dan wawasan politik maupun kondisi kebangsaan dekade 1930-an kala itu, didapat Chairul dari berguru dengan Yamin. Seperti halnya Bung Karno berguru pada HOS Cokroaminoto, Danudirjo Setiabudi dan Ciptomangunkusumo. Maka pertanyaan Fajar dan mungkin anak anak muda sekarang terjawab sudah. selain memang memupuk sendiri wawasannya dengan banyak membaca, juga berguru pada mentor dan seniornya yang sreg bukan saja di pemikiran tapi juga jiwa si pembelajar. Boleh jadi yang tersirat dari pertanyaan Fajar dan kawan kawannya yang sedang gelisah saat ini adalah ada begitu banyak senior di organ-organ kemahasiswaan maupun kepemudaan, tapi langka adanya peran dari para senior yang berkualitas seorang mentor. Kalau kita nonton film-film epik atau persilatan zaman dulu, dalam kelahiran para pahlawan, selalu didahului kehadiran mentor yang mencetak kemunculan sosok-sosok pembuat sejarah, yang kelak orang mengakuinya sebagai pahlawan. Karena sekarang kita lagi krisis mentor, makanya kita pun sekarang krisis kepahlawanan. Bukan saja tidak punya sosok hero di segala bidang, tapi juga hilangnya nilai nilai kepahlawanan. (*)