Allan Nairn dan Kudeta

Allan Nairn dan Kudeta
OIeh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute Saya sudah baca artikel Allan Nairn. Seperti saya duga, dia memanfaatkan 30 persen fakta kebenaran yang sebenarnya bukan saja benar, tapi sudah jadi rahasia umum. Namun kemudian dia bingkai dan jahit menjadi sebuah konstruksi cerita mengenai adanya rencana kudeta. Kesamaan visi antara SBY, Prabowo, Hari Tanoe, bahkan Jusuf Kalla, saya kira itu sudah jadi rahasia umum. Dan kalaupun itu mengarah pada perbedaan pandangan tentang kebijakan maupun gaya kepemimpinan Jokowi, tidak otomatis secara konspiratif jadi sebuah rencana kudeta. Ada banyak hal yang ganjil dari cara Allan merajut fakta-fakta dan informasi dari beberapa sumber, yang kemudian dia simpulkan jadi sebuah cerita tentang adanya rencana kudeta. Mari saya urai dari beberapa narasumber yang jadi landasan dia pada kesimpulan tersebut. Untuk cerita soal kudeta ini dia mengandalkan Kivlan Zein, Usamah Hisyam dan Sulaeman Pontoh. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Allan ketika menyerap informasi dari ketiganya. Misal Kivlan Zein, ada saat memang dia orang dekat Prabowo ketika mantan capres 2014 ini pada 1998 jadi Pangkostrad, dan Kivlan jadi Kepala Staf Kostrad. Namun entah Allan tahu atau tidak, belakangan Kivlan itu malah lebih dekat kepada Wiranto ketimbang Prabowo. Malah ucapan-ucapannyanya semasa pilpres lalu isinya blunder melulu dan merugikan citra Prabowo. Di dalam keterangannya kepada Allan, sejauh yang diklaim Allan sendiri, Kivlan seakan banyak obral informasi yang memang kemudian Allan menjadikannya sebagai informasi bahwa ada pertautan antara Prabowo, SBY dan beberapa elemen angkatan darat bermaksud menggoyang Jokowi. Namun Allan sebagai wartawan yang katanya kawakan dalam investigasi jurnalistik, harusnya menyadari bahwa rangkaian ucapan Kivlan itu, andaikan memang benar persis seperti yang dikutip Allan dalam tulisannya, menurut saya malah terkesan kayak pamer atau jangan-jangan ngasih bocoran untuk membangun suatu kesan tertentu. Jadi seperti ada kongkalingkong dan saling memanfaatkan antara Kivlan dan Allan yang entah apa agenda tersembunyinya. Saya dapat kesan, melalui beberapa kutipan Allan, Kivlan lebih cenderung memuji-muji Wranto sebagai kelompok yang mencoba menengahi antara yang pro Aksi Bela Islam dan pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, sadar atau tidak Kivlan malah memojokkan Prabowo sebagai bagian dari rencana kudeta tersebut. Dalam bahasa Kivlan kalau tidak salah, Prabowo lebih baik di belakang layar, daripada terang terangan mendukung gerakan. Lantas keterangan dari Sulaeman Pontoh. Ini memang perlu dapat catatan tersendiri, mengingat latar belakang Pontoh adalah lama di Badan Intelijen Strategis (BAIS). Sulaeman,seperti keterangan yang berhasil dihimpun Allan, memang lebih banyak menyorot pertautan SBY dengan gerakan yang mau dijahit oleh Allan melalui tulisannya. Namun yang saya pandang paling aneh adalah informasi Usamah Hisyam, yang notabene di tanah air dikenal sebagai penulis buku biografi SBY, yang terbit pada menjelang pilpres 2004. Sebab kalau dari keterangan Usamah yang diolah oleh Allan, malah seperti pamer bahwa memang ada persekongkolan untuk ke arah apa yang dinamakan kudeta. Tapi lagi lagi ya itu tadi, apa ini sekadar pamer untuk menonjolkan perannya atau ingin mengesankan membocorkan sesuatu atas dasar tujuan membangun suatu opini tertentu. Selain itu, Usamah Hisyam terlepas dia pernah jadi penulis biografi SBY, sejak dulu memang cukup dekat dengan dengan lingkaran militer angkatan darat, ketika aktif di Yayasan Dharmapena. Jadi memang afiliasi politiknya tidak mesti ke SBY. Tapi juga ke para petinggi TNI lainnya. Karena itu kalau Allan kemudian sangat mengandalkan Usamah dalam memperoleh informasi dan keterangan, saya kira belum bisa dipandang kredibel. Artikel Allan, di awal atau prolog tulisan, terus terang berhasil menggiring minat pembaca untuk melihat adanya cerita tentang kudeta. Namun ketika Allan mencoba menjabarkan hal itu melalui rajutan data dan informasi dari berbagai narasumber, mulai terlihat kesimpulan yang dipaksakan. Malah terkesan mengada-ada dalam mencari faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Misal ketika Allan menggambarkan adanya kegelisahan di kalangan tentara mengenai Komunis Gaya Baru (KGB), namun ketika itu dia coba rajut untuk kesimpulan tulisannya, malah jadi mentah. Sebab kalau tentara alergi sama komunis, itu sudah bukan hal baru dan aneh. Tapi kalau dia coba rajut dan jahit buat menyimpulkan hal itu sebagai faktor pemantik gerakan menggoyang kekuasaan, saya kira dia terlalu berfantasi. Kalau tidak mau dikatakan mengarang bebas. (***)