Ikuti Jejak Kartini, Amelia Dorong Pendidikan Politik Garnita Malahayati

Ikuti Jejak Kartini, Amelia Dorong Pendidikan Politik Garnita Malahayati
Jakarta, Obsessionnews.com - Setiap tanggal 21 April warga Negara Indonesia khususnya perempuan merayakan hari Kartini. Dalam perayaannya masing-masing daerah berbeda dalam memaknai hari kartini tersebut. Ada yang merayakannya dengan membuat perlombaan dengan berdandan mirip dengan Ibu Kartini. Padahal justru dalam sejarahnya ibu Kartini malah berusaha mendobrak dominasi kaum pria dimana kaum perempuan bisa sekolah setinggi‐tingginya, dan mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Perlombaan seperti itu justru tak berlaku untuk Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem,Amelia Anggraini. Dia mengaku, mempunyai program secara internal di dalam organisasi partai, kalau di hari kartini ini ingin mendorong Garda Wanita Malahayati (Garnita Malahayati) lebih maju dalam pendidikan politiknya. “Nah garda wanita itu kita mau poles lagi pendidikan politik untuk perempuan, itu program kami,” ujar Amelia kepada Obsessionnews.com di Jakarta, Kamis (20/4/2017). Menurutnya, minat perempuan dalam berpolitik di Indonesia sangat kurang. Padahal politik ini merupakan salah satu karir yang cukup menjanjikan. Dia menginginkan jumlah kursi perempuan di Parlemen mendatang ini jumlahnya bertambah untuk keterwakilan perempuan di dalam parlemen. Sehingga bisa bersuara, bisa mengangkat isu-isu yang mengedepankan kepentingan perempuan, itu bisa dibawa parlemen ke Undang-undang. “Itu yang sedang saya lakukan, jadi pemberdayaan politik untuk perempuan,” ungkap Amelia. ‘Kedepannya kita ingin membuka kesadaran para politisi, bahwa perempuan ini harus diberi kesempatan atau ruang. Jadi jangan ada diskriminasi di dalam politik,” tambahnya. Kadang-kadang perempuan masih dipandang sebelah mata. “Bisa apasih dia, paling bisa hanya dandan saja. Selalu ada pandangan seperti itu,” katanya. Untuk itu, Amelia ingin merubah paradikma seperti itu, tidak hanya sekedar merubah. Namun dibuktikan, bahwa perempuan itu harus mengisi dirinya dengan pengetahuan dan skill yang cukup, juga prestasi. “Sehingga itu pembuktian, jadi orang tahu bahwa perempuan juga bisa dengan menunjukan dia berkapasitas,” tegasnya.   Amelia melihat, ada juga perempuan diberbagai lini berhasil. Ada yang jadi pilot, itukan salah satu profesi yang tak pernah dibayangkan oleh perempuan pada jaman dulu. Kemudian perempuan yang berprofesi maskulin. Jadi, lanjut dia, perempuan di Parlemen tidak hanya memperoleh kursi hanya dikarenakan perempuan itu merupakan istri Bupati dan Gubernur. Untuk itu dia menghimbau, kalau perempuan punya kesempatan, punya profesi, kemudian mempunyai suporting politik yang bisa mendorong untuk duduk sebagai anggota DPR, maka dia harus buktikan punya kapasita, tidak sekedar mendapatkan kursi. “Karena di parlemen kita dipaksa untuk bicara, tapi bicara yang kita sampaikan atau ide gagasan yang kita sampaikan harus ada isinya, harus ada manfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Ketika disinggung tentang cita-cita Kartini yang masih diterapkan di Indonesia, Amelia dengan gambling menjawab. “Semua cita-cita kartini masih diterapkan, tidak dimakan oleh jaman. Karena pada jaman itu dia pernah bilang 'tubuh boleh terpasung namun pikiran kita harus bebas'. Maknanya, perempuan harus dituntut mempunyai cita-cita setinggi-tingginya,” katanya. Hal itu pun ditekankan di keluarganya, khususnya kepada anak-anak dia. Dia berpendapat baginya anak-anaknya tidak cukup kalau pendidikan hanya S1, anaknya harus meraih pendidikan setinggi-tingginya. “Karena semakin cukup ilmu kamu, maka bekal ilmu semakin sempurna. Itu bekal untuk dirinya dia. Dan itu yang dilakukan oleh kartini kepada perempuan-perempuan disekitarnya,” ungkapnya. Selain itu, Amelia juga ingin menularkan pengalamannya kepada orang-orang terdekatnya dulu, kepada sesama perempuan, agar dirinya menjadi motifator bagi mereka, bahwa ini karir yang menjanjikan. “Dari level DPRD, provinsi sampai dengan DPR RI. Tidak hanya sekedar menjadi anggota DPR. Jadi suara kita buktikan di parlemen, karena semua kebijakan pekerjaan politik adanya didalam parlemen,” katanya. Dia juga memaparkan ada banyak sosok perempuan yang mewakili kartini di Indonesia, bahkan diapun mengagumi tokoh-tokoh perempuan yang dinilainya telah berhasil menjadi sosok kartini. “Ada banyak ya, saya sangat salut dengan perempuan-perempuan yang mempunyai keberanian. Mempunyai keberanian idialisme pada prinsip-prinsip yang tentu mengedepankan kepentingan orang-orang banyak, masyarakat tentunya dalam hal ini,” ungkapnya. Tokoh perempuan yang dikagumi oleh Amelia yakni salah satunya Kristine Hakim. “Saya juga kagum kepada aktifis perempuan lain, yang ngak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya juga kagum kepada ibu Srimulyani,” paparnya. Jadi, lanjut Amelia, itu tokoh-tokoh yang bisa menjadi inspirasi faktor bagi kaum perempuan. Bahwa sekarang hidup bukan lagi memperjuangkan emansipasi dan persamaan gendre, itu sudah merupakan cerita puluhan tahun yang lalu. “Nah sekarang ini tinggal pembuktian bahwa kita bisa. Karena perempuan berkesempatan sekolah setinggi-tingginya banyak. Pilihan ada di kita sendiri, kita mau diam atau kita mau mengukir prestasi untuk diri kita dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Selain berkarir, perempuan penting juga mengurus rumah tangga. karena pengetahuan seorang anak kedepannya itu ditangan seorang ibu. Jadi kualitas manusia kedepan, mau berkualitas atau tidak itu ada di seorang ibu. Mulai dari dalam kandungan sampai ibu melahirkan, sampai anaknya dibesarkan. “Jadi saya ngak boleh melupakan kodrat saya sebagai perempuan. Tugas dirumah, saya sebagai ibu dan istri. Tugas saya yang lain adalah menunjukan kapasitas dan prestasi pada diri sendiri, itu merupakan kebanggaan buat saya,” tutur Amelia. Bagi dirinya hidup itu harus seimbang, apa yang ingin dicapai tanpa harus melupakan kewajiban-kewajibannya terhadap keluarga. Jadi, dia harus memberikan pemahaman-pemahaman juga kepada suami dan anak-anaknya. “Kalau nga ada suport dari mereka saya tidak akan jadi seperti yang sekarang,” ujarnya. Kedepan, Amelia ingin sekali Indonesia mempunyai Presiden perempuan lagi. Setidaknya ada kompetisi di pemilihan mendatang. “Memang berat, tapi kalau kita tidak mencoba nga akan ada,” tutupnya sambil tersenyum. (Purnomo)