7 dari 8 Lembaga Survei Menangkan Anies-Sandi

Jakarta, Obsessionnews.com – Hasil survei yang dilakukan 7 lembaga survei memenangkan pasangan calon (paslon) Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua yang digelar Rabu (19/4). Sedangkan paslon Ahok-Djarot hanya dimenangkan oleh sebuah lembaga survei. Adapun kedelapan lembaga survei tersebut adalah Campaignesia Network (CN), Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Ja, Sinergi Data Indonesia (SDI), Media Survei Nasional (Median), Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), PolMark, Indikator, dan Charta Politika memenangkan Ahok-Djarot. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama)) CN merilis hasil surveinya pada Senin (17/4) yang menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi sebesar 58,1 persen, dan Ahok-Djarot berada pada posisi 39,2 persen. Sedangkan yang belum menentukan pilihan ada 2,7 persen. Survei dilakukan pada tanggal 9-15 April 2017 dengan responden sebanyak 525, dengan teknik multistage random sampling. Hasil survei yang dilakukan LSI Denny JA yang dilakukan pada 7-10 April 2017 menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi mencapai 51,4%, Ahok-Djarot 42,7%, dan yang belum memutuskan memilih 5,9%. Hasil survei SDI yang dilakukan pada 10-17 Maret 2017 menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi 49,2%, Ahok-Djarot 42,2%, dan yang belum menentukan pilihan 8,6%. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama)) Sementara itu hasil survei yang dilakukan Median menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi 49,0% dan Ahok-Djarot 47,1%, dan yang belum memutuskan memilih 3,9%. Survei dilakukan 13-14 April 2017. Hasil survei SMRC menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi 47,9%, Ahok-Djarot 46,9%, dan yang belum memutuskan memilih 5,2%. Survei dilakukan pada tanggal 31 Maret-5 April 2017. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Kedua)) Hasil survei PolMark menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi 49,1%, Ahok-Djarot 41,1%, dan yang belum menentukan pilihan 9,8%. Survei dilakukan pada akhir Maret 2017. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Ketiga)) Hasil survei Indikator yang dilakukan Indikator pada tanggal 12-14 April 2017 menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi 48,2%, Ahok-Djarot 47,4%, dan yang belum memutuskan memilih 4,4%. Hasil survei yang dilakukan Charta Politika yang dilakukan pada tanggal 7-12 April 2017 menunjukkan Ahok-Djarot 47,3%, Anies-Sandi 44,8%, dan yang belum memutuskan memilih 7,9%. Dipandang Sebelah Mata Seperti diketahui kolaborasi Partai Gerindra dan PKS paling akhir mengumumkan pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur (wagub) DKI Jakarta 2017. Secara mengejutkan Gerinda dan PKS mendeklaraskan duet Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Jumat (23/9/2016) sekitar pukul 13.30 WIB. Disebut kejutan, karena sebelumnya nama Anies tak pernah disebut-sebut. Sebelumnya yang santer beredar adalah kader Gerindra, Sandiaga, sebagai cagub, sedangkan cawagubnya adalah kader PKS, Mardani Ali Sera. Namun, di detik-detik terakhir menjelang penutupan pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi DKI, terjadi perubahan peta politik. Nama Anies dipasang sebagai cagub, sedangkan Sandi sebagai wakilnya. Dengan demikian Mardani tersingkir. Anies mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Jokowi. Mantan Rektor Universitas Paramidana ini tak berlatar belakang politik. Ia tak menjadi kader parpol apapun. Sebelumnya yang terlebih dahulu mendeklarasikan paslon adalah PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura pada Selasa (20/9/2016). Keempat parpol tersebut mengusung gubernur dan wagub petahana DKI, yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat. Ahok tidak menjadi kader parpol apapun setelah angkat kaki dari Gerindra pada 2014. Sementara Djarot merupakan kader PDI-P yang pernah menjadi Wali Kota Blitar, Jawa Timur. Selanjutnya koalisi Partai Demokrat, PPP, PAN dan PKB mendeklaraskan paslon Agus Yudhoyono Harimurti-Sylviana Murni pada Jumat (23/9/2016) dini hari. Agus putra sulung Presiden keenam RI yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena resmi menjadi cagub, Agus mengundurkan diri dari TNI AD dengan pangkat mayor. Sementara itu Sylvi adalah mantan Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan. Menjelang Pilkada 15 Februari 2017 sejumlah pihak memandang sebelah mata pada Anies-Sandi. Hal ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei yang menempatkan elektabilitas mereka di tempat buncit. Sedangkan Agus-Sylvi berada di peringkat pertama, dan Ahok-Djarot di posisi kedua. Ketika itu diprediksi Anies-Sandi tak bakalan mengikuti pilkada putaran kedua. Namun, hasil survei tersebut berbeda dengan kenyataan di lapangan. KPU DKI Senin (27/2/2017) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi yang bernomor urut 1 memperoleh 937.955 suara atau 17,05%, Ahok-Djarot (nomor urut 2) mendapat 2.364.577 (42,99%} dan Anies-Sandi (nomor urut 3) memperoleh 2.197.333 ( 39,95%). Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada Rabu (19/4). (arh)Baca Juga:Elektabilitas Anies-Sandi Ungguli Ahok-Djarot di Survei IndikatorPengamat: Hanya Kecurangan yang Bisa Kalahkan Anies-SandiTEMPO Ungkap Ahok Terima Uang e-KTPKasus e-KTP , Nama Ahok Ada di Nomor 30Gubernur Baru DKI Jangan Tiru Ahok yang Kering Inovasi





























