Bawa Indonesia Harum di Pentas Dunia, Deby Vinski Raih Women’s Obsession Awards 2017

Bawa Indonesia Harum di Pentas Dunia, Deby Vinski Raih Women’s Obsession Awards 2017
Obsessionnews.com – Nama Dr. Deby Vinski, MSCAA, PHD sudah kesohor di dunia kedokteran anti-aging. Kontribusinya pada dunia ini tak sembarangan. Berkat kegigihannya, perkembangan ilmu kedokteran anti-aging Indonesia kini bisa disejajarkan dengan negara-negara maju. Perempuan yang akrab disapa Deby ini juga membawa nama harum Indonesia sebagai dokter preventive & anti-aging medicine dengan prestasi mendunia. Maka sangat pantaslah, jika dia menyandang gelar The Queen of Anti Aging. Dan atas prestasinya itu pula yang mendorong Majalah Women’s Obsession menganugerahinya sebagai Best Achiever in Professionals di ajang Obsession Awards 2017 yang digelar Kamis (30/3/2017). Anti-aging telah kita ketahui menjadi salah satu pembahasan dalam dunia medis yang tak henti-hentinya ditelaah dan dipelajari. Atas dasar itulah, presiden dari World Preventive Regenerative Anti-Aging Medicine (WOCPM)yang beranggotakan 74 negara ini kemudian membangun Vinski Tower gedung megah 10 lantai pada pertengahan tahun lalu sebagai pusat anti-aging dunia di Indonesia yang diresmikan oleh Bapak Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla. Sukses berbisnis di industri ini tak membuat Dr. Deby berpuas diri. Dia memilih untuk memberikan sumbangsih kepada negara dengan menghadirkan Vinski Tower. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas perawatan dan terapi yang didukung oleh dokter-dokter ahli dari berbagai negara di dunia–termasuk dokter ahli para pemimpin negara di dunia. “Sebagai anak bangsa, saya ingin berkontribusi kepada negara lewat kemampuan saya di industri anti-aging. Salah satunya, dengan menjadikan Vinski Tower. Saya berharap pusat anti-aging ini akan menjadikan Indonesia sebagai medical tourism. Termasuk berusaha mengembangkan ilmu preventive medicine dengan mempelajari stemcell dan pembahasan anti-aging lainnya,” ujar Dr. Deby. Dia berharap dengan Vinski Tower, medical tourism di Indonesia makin berkembang, yang pada akhirnya menumbuhkan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Upaya promosi sekaligus komunikasi pun digiatkan olehnya. Antara lain, dengan memperkenalkan Vinski Tower kepada negara-negara lain, termasuk ke 74 negara yang tergabung di WOCPM. Misalnya, menjadi pembicara pakar anti-aging di berbagai perhelatan internasional. Lalu, melancarkan promosi berupa penempatan brosur atau mini katalog Vinski Tower di bandara-bandara di 75 negara–yang oleh pemerintah Indonesia sudah diputuskan bebas visa kunjungan. Dia mengapresiasi kepemimpinan Jokowi-JK, termasuk dengan terobosan bebas visa dan visa on arrival. “Sejak diluncurkan pada Juli 2016, respon pasien mancanegara tercatat positif. Terbukti, belum genap tiga bulan paska diluncurkan, pertumbuhan pasien mancanegara yang datang cukup siginifikan, yakni mencapai 10%,” lanjutnya. Ke depannya, dia menargetkan Vinski Tower akan melakukan sejumlah riset atau penelitian terkait perkembangan ilmu anti-aging, antara lain mengenai stemcell.  Sosok Dr. Deby memang tak pernah berpuas diri. Dia pun tak ragu memilih melanjutkan studi S3 di Saint Petersburg Institute Bioregulation and Gerontology, Rusia. “Saya mengambil disertasi berjudul Study of the Effect of Peptides on the Functional State of Skin Cells. Melalui disertasi tersebut, saya kembali ingin memberikan sumbangsih bagi Indonesia, khususnya industri anti-aging,” terangnya. Tak sia-sia, dia berhasil menyabet predikat Cum Laude dalam meraih gelar Doktor pada September 2016. Dinilai kontribusinya sangat penting dalam ilmu kedokteran preventive medicine di level internasional, Dr. Deby kemudian memperoleh penghargaan Socrates Award dari Oxford UK dan Sinedolore Excellence Awards. The Queen of Anti-Aging dunia kelahiran Makassar ini menerima penghargaan kategori Outstanding Performance dari Efhre International University yang bekerja sama dengan Asociacian Espanola de Pacientes contra el Dolor (Sine Dolore) di Teatro Principal de Mahon, Menorca, Spanyol. Penghargaan tersebut diberikan kepada beberapa kalangan di antaranya para akademisi, profesional ilmiah, budayawan, dan lain-lain. (Elly Simanjuntak)