Pemprov DKI Tak Mampu Urus Keamanan Penumpang Wanita dalam Angkot

Jakarta, Obsessionnews.com - Keamanan DKI Jakarta sekarang ini semakin meresahkan. Belum lama ini telah terjadi tindak pidana pencurian dengan kekerasan di dalam angkot KWK T25 jurusan Rawamangun – Pulogadung pada pukul 19.00 ,Minggu (9/4/2017) di Jl Igusti Ngurah Rai TL Fly Over Buaran, Jakarta Timur (Jaktim). Pelaku yang diketahui bernama Hermawan (27) asal Kebumen naik angkot tersebut dari prapatan pertama. Sekitar di depan kantor Prumnas III pelaku mengeluarkan senjata tajam (sajam) dan menodongkan pisau itu kepada seorang korbannya wanita berinisial Isnawati (39) yang duduk di belakang dalam angkot bersama korban Risma Oktaviani (25) yang menggendong balitanya bernama Dafa Ibnu Hafiz. setelah itu, pelaku meminta HP, kalung dan gelang kepada korban. Ketika pas berada di TL Buaran Isnawati berteriak minta tolong, sehingga mengundang perhatian warga sekitar. Berkenaan dengan kejadian tersebut seorang saksi melintas yakni anggota Satlantas Jaktim Aiptu Sunaryanto yang akan berangkat dinas. Setelah saksi berada didepan angkot dan melihat situasi di dalam ternyata pelaku sudah menodongkan pisau ke leher korban, saksi berusaha melakukan negoisasi sekitar ½ jam agar pelaku mengurungkan niatnya. Namun, perkataan saksi tidak didengar oleh pelaku, malah pelaku mengatakan kata-kata kotor kepada saksi. Menunggu waktu lengahnya pelaku, kemudian saksi menembak pelaku dibagian lengan kanan. Saat itu juga saksi langsung membekuk pelaku dengan dibantu oleh masyarakat sekitar. Kemudian sekitar satu jam akhirnya pelaku dapat diamankandi Plsubsektor Klender. Berangkat dari kasus tersebut, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap mengatakan, Pemprov DKI periode 2013-2017 tidak mampu menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban di DKI. Menurut Muchtar, DKI di bawah kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan kota paling tak aman sedunia. Pada awal 2015 CNN Indonesia menyajikan hasil survei Economist Intelligence Unit menempatkan Jakarta sebagai kota paling tak aman sedunia. Survei 50 di dunia memasukkan 40 indikator kuantitatif dan kualitatif, terbagi dalam empat kategori tematik yakni (1) keamanan digital;(2) jaminan kesehatan;(3) infrastruktur;dan. (4) personal. Setiap kategori terbagi lagi ke dalam tiga hingga delapan subindikator, seperti langkah kebijakan dan frekuensi kecelakaan lalu lintas. Sementara itu, pada akhir 2014, Thomson Reuters Fondation, sebuah lembaga survei meneliti keamanan perempuan dalam angkutan umum, dari 16 kota terbesar di dunia, Jakarta berada di peringkat kelima soal ketidakamanan perempuan saat menaiki angkutan umum. Empat peringkat awal adalah Bogota ibukota Kolombia, Mexico City ibukota Meksiko, Lima ibukota Peru, dan Delhi ibukota India. Rata-rata wanita disurvei mengatakan mereka pernah diraba-raba atau dilecehkan secara lisan saat naik transportasi umum. Juga, kebanyakan merasa tidak aman bepergian sendirian di malam hari di Jakarta. “Ahok tak mampu dan gagal mengurus keamanan dan ketertiban masyarakat DKI,” tandas Muchtar saat dihubungi Obsessionnews.com, Jakarta, Senin (10/4). Untuk itu, lanjutnya, gubernur baru harus mampu menjamin keamanan dan ketertiban DKI dengan melibatkan partisipasi masyarakat sebagai kunci menciptakan keamanan dan ketertiban. “Tak boleh hanya bergantung pada kepolisian. Jakarta harus menjadi kota aman dan ramah,” ujar alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986 ini. Dia menambahkan, salah satu program yang layak dilaksanakan oleh gubernur baru adalah audit berkala keamanan dan ketertiban masyarakat dengan melibatkan petugas keamanan lingkungan maupun aparat keamanan. “Ahok tak pernah melaksanakan program audit ini,” katanya. (Purnomo)





























