Indonesia Seperti ‘Putri Cantik’ yang Diperebutkan China dan AS

Oleh: Samuel Karwur, Peminat Politik Pertemuan antara Presiden China dan Amerika Serikat (AS) sepanjang sejarah kedua negara, hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja. Pertemuan terakhir terjadi September 2015, ketika Presiden Barrack Obama bertemu pemimpin China Xi Jinping di AS. Waktu itu, baik China maupun AS bekerja dengan sangat keras guna memastikan tidak ada kendala dalam rencana yang telah disusun. Menjadi tajuk utama saat itu adalah bagaimana menjaga dan mengembangkan hubungan antara dua raksasa dunia ini menjadi lebih baik. Implementasi dari hal-hal yang dibicarakan antara Jinping dan Obama, dikawal ketat oleh kedua belah pihak untuk menjamin tidak terganggunya kemesraan yang baru saja terjalin. Seiring kebangkitan China, beberapa aktor di kawasan Asia Pasifik yang sudah lama menjadi pemain utama dalam urusan keamanan kawasan memberikan perhatian khusus terhadap kebangkitan itu. Amerika Serikat selaku negara yang sejak akhir Perang Dunia Kedua telah memberikan payung keamanan terhadap kawasan tidak dapat dipungkiri memiliki kekhawatiran yang besar terhadap kebangkitan China, sebab hal itu dipandang dapat mempengaruhi peran yang telah lama dimainkan. Oleh karena itu, kebijakan politik dan keamanan AS dalam satu dekade terakhir mencurahkan perhatian yang cukup besar terhadap peningkatan peran China pada semua bidang. Dalam pertemuan September 2015 tersebut, kedua negara berkomitmen mempererat hubungan di dalam semua sektor dan tingkat kepemerintahan. Semua isu global dan regional tuntas dibahas dengan atmosfir yang jauh lebih sejuk, dibanding apa yang kerap terjadi di masa lalu. Salah satu persoalan yang sering menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Beijing, adalah masalah semenanjung Peninsula. Untuk hal ini pemerintah Xi Jinping menekankan keseriusan mereka dalam menjaga kondusifitas di wilayah tersebut. China bahkan siap melakukan denuklirisasi kawasan itu. Jika kita melihat lebih jeli terkait dengan perkembangan hubungan AS dan China, maka semua tak terlepas dari visi dan mimpi Presiden Xi Jinping. Kongres Partai Komunis China ke 18, November 2012 membawa figur Xi Jinping bersinar terang dan terpilih menjadi Sekertaris Jenderal Partai. Posisi ini menempatkan Xi bukan hanya pemimpin partai, tetapi juga pemimpin satu miliar penduduk Republik Rakyat China. Di era kepemimpinannya Xi Jinping bertekad untuk menyelesaikan semua tantangan yang selama ini menjadi penghalang China untuk menjadi yang terbesar. Melakukan reformasi sekaligus modernisasi semua sistem pemerintahan, menjadi negara yang terbuka, serta menggalang kekuatan semesta guna mewujudkan mimpi untuk melihat China menjadi yang terbesar. Xi Jinping “membakar” China dan dunia lewat pidato-pidatonya. Ia menawarkan ide, gagasan, mimpi dan pemikiran-pemikiran brilian untuk membawa negeri yang ia pimpin menjadi semakin besar. Filosofi kepemimpinan China sedang berubah di era Xi Jinping. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Oktober 2014, Xi Jinping menerbitkan sebuah buku berjudul “Xi Jinping: The Governance of China”. Inti dari buku ini adalah untuk memperkenalkan China yang baru kepada dunia. Kumpulan dari 79 pidato Xi, semua ide, pemikiran, gagasan, penilaian dan visi, tertuang dalam buku ini. Dan yang paling penting adalah dunia barat dibuat “tertarik” untuk mengetahui apa curahan hati Xi lewat tulisannya. Mata dunia kini sedang mengamati bagaimana peran Partai Komunis China (CPC) dengan 86 juta anggotanya, membuat semua mimpi China menjadi kenyataan. Ini mengingatkan kita akan sosok Bung Karno. Ada kemiripan di antara keduanya yang memiliki mimpi dan visi besar untuk bangsa yang mereka pimpin. Pidato-pidato Bung Karno masyur sampai ke mancanegara. Ideologi Sang Proklamator banyak dipakai oleh pemimpin dunia lain. Meski akhirnya tidak menjadi tuan di negeri sendiri karena dibokong oleh rakusnya ambisi, Sang Pemimpin Besar Revolusi tetap menjadi tambatan hati, bagi sekian banyak anak negeri sampai hari ini. China sedang bergerak ke era baru dan ini ditandai dengan kemauan keras yang dibarengi dengan perencanaan matang untuk melakukan reformasi. Sinergi dengan hal itu, pemerintah China menerapkan kebijakan tangan besi bagi para koruptor dan sangat aktif melakukan diplomasi luar negeri. Ada delapan hal yang oleh pemerintah China dijadikan fokus pelaksanaan reformasi. Hebatnya, kedelapan sektor itu saat ini telah direformasi dengan sempurna. Tak heran oleh media asing – termasuk Barat - China dinilai sedang melakukan reformasi di luar ekspektasi banyak pihak. Pekan depan, kedua pemimpin negara kembali akan menggelar pertemuan. Kali ini tidak ada Obama. Sebaliknya, Donald Trump akan berjumpa dengan Xi Jinping di Florida. Dikabarkan, Trump dan Jinping sudah terlebih dahulu menjalin komunikasi lewat telepon dan surat menyurat. Sangat positif tentunya. Namun ada satu pertanyaan menarik. Bagaimana posisi Indonesia nantinya, menghadapi kebangkitan dalam konteks hubungan dua raksasa dunia, China dan AS ini? Apakah kita akan bisa menjadi bangsa yang berpengaruh atau malahan tenggelam karena tidak lagi masuk dalam hitungan? Hubungan Indonesia-China saat ini dari perspektif kepentingan nasional China, selalu “dikurung” dalam bingkai persaingan AS-China. Pemerintan China menegaskan bahwa Indonesia akan tetap menjadi salah satu prioritas dalam hubungan luar negeri China. Sikap politik Indonesia yang dinilai cukup bersahabat dengan China, menjadi salah satu dasar kuat untuk hal ini. Di sektor ekonomi, investasi China kini membanjiri berbagai sektor pembangunan, khususnya infrastruktur. Tengok saja pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung yang tengah digarap konsorsium Tirai Bambu. Semua sejalan dengan program Presiden Jokowi yang tengah sibuk menggenjot pembangunan di nusantara. Dari bidang politik dan keamanan, China membutuhkan Indonesia untuk menghadapi kebijakan encirclement AS. Sederhananya, bisa dikatakan Indonesia seperti menjadi bumper bagi pemerintahan Xi Jinping dalam persaingan geopolitiknya dengan Amerika. Tidak aneh bila China menyatakan selalu siap membantu Indonesia. Sewaktu pesawat Airbus A320 Air Asia PK-AXC jatuh di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, China merupakan salah satu negara yang langsung menawarkan bantuan pencarian pesawat tersebut. Belum lagi kerja sama di bidang militer. Ingat bahwa Indonesia dan China pernah memiliki hubungan yang demikian mesra di zaman Soekarno. Militer Indonesia saat itu bahkan sangat disegani dunia, kabarnya menjadi negara keenam dengan kekuatan militer terbesar. Hampir semua persenjataan berasal dari China dan Uni Soviet. Dari satu sudut pandang lain, China juga tetap memantau hubungan kerja sama Indonesia-AS di segala sektor. Setiap manuver Amerika di kawasan Asia Pasifik, tak luput dari pengamatan Beijing. Hubungan Indonesia dan Amerika memang sering berjalan di atas jalan terjal dan berbatu. Namun demikian, sejak lahir menjadi sebuah Republik yang merdeka, campur tangan Amerika begitu kental terasa di dalam semua sendi kehidupan berbangsa kita. Tak perlu ulasan panjang lebar, bagaimana AS sering memaksakan kepentingannya masuk ke dalam tata negara republik ini. Dari sisi Poleksosbud, AS jelas memiliki kepentingan atas Indonesia. Kadang hubungan ini masuk ke dalam tahapan benci tapi rindu. Yang jelas, antara Washington dan Jakarta, masing-masing memiliki kepentingan untuk tetap dipertahankan. Melihat hal ini, Indonesia seperti menjadi “putri cantik” yang akan diperebutkan oleh kedua raksasa dunia ini. Bagaimana kita harus bersikap adalah persoalan selanjutnya? Apa peran yang bisa kita lakukan di tengah-tengah kekuatan super kedua negara besar ini? Sudahkah kita memiliki cetak biru untuk ke depan dalam mengantisipasi membaiknya hubungan China dan AS? Jalan satu-satunya untuk Indonesia bisa memanfaatkan kedekatan dengan kedua pilar dunia ini, adalah kembali ke preambule Undang-Undang Dasar 1945 yang asli. Sekali lagi yang asli. Di dalam UUD dasar 1945 tersebut ditetapkan dasar negara Pancasila, sebagai kristalisasi dari jati diri kebangsaan Indonesia. Sayang, sejak reformasi 1998 Pancasila tidak lagi hidup dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila hanya menjadi hiasan di dalam ruangan kantor pemerintahan dan menjadi slogan dalam upacara upacara bendera. Tanyakan saja kepada generasi muda saat ini. Mungkin kita akan kaget, karena banyak yang tidak lagi hafal kelima sila dari Pancasila tersebut. Sistem ekonomi, politik, dan agenda agenda sosial budaya sejak era reformasi merupakan pelaksanaan dari agenda global, dengan IMF menjadi tuan besar yang harus kita ikuti. Neo Liberal dan kapitalisme mejadi paham yang menggantikan Pancasila. Belum lagi dengan upaya-upaya pihak tertentu yang ingin Pancasila terhapus dari lembaran bangsa Indonesia. Amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali sejak 1998 sampai dengan 2003 membuktikan hal ini. Perubahan, perombakan secara besar besaran pun dilaksanakan. Akhirnya, Preambule UUD 1945 yang dikebiri menghasilkan falsafah yang berubah total, mulai dari filosofinya, idiologinya, kelembagaan poltik, kelembagaan ekonominya, dan seluruh aspek yang menyangkut hak dan kewajiban warga negara. Lebih tepat jika undang-undang kitadasar kita berganti nama menjadi UUD Kapitalis dan Liberal ketimbang UUD 1945. Indonesia kini terbelenggu oleh konstitusi UUD 1945 amandemen dan berbagai regulasi turunannya. Ekonomi kita penuh dengan krisis. Bersamaan itu, muncul perpecahan, konflik dan gonjang- ganjing politik di antara kekuatan politik nasional dan konflik yang luas di masyarakat. Belum lagi tikus-tikus koruptor yang berkeliaran di semua level penyelenggara negara. UUD 1945 versi amandemen telah melahirkan konflik yang semakin tajam antara lembaga negara, pemerintah versus parlemen, pemerintah pusat melawan pemerintah daerah, rakyat kontra pemerintah dan yang lebih menakutkan adalah antar elemen masyarakat. Ujung-ujungnya bisa saja terjadi debalkanisasi! Ketika soliditas tidak ada di antara anak bangsa, maka mimpi untuk berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia akan semakin jauh dari kenyataan. Tidak usah dulu berbicara mengenai peran dan kedudukan kita di antara dua raksasa – China dan AS - jika kita tidak kembali kepada falsafah kehidupan berbangsa yaitu Preambule UUD 1945 yang asli, serta Pancasila. Takdir letak geografis Indonesia tetap tidak akan pernah berubah. Dua samudera dan dua benua yang mengapit kita, tidak akan pernah bergeser sampai kapanpun. Selama samudera dan benua itu ada di tempatnya, Indonesia tetap akan menjadi “putri cantik” yang diperebutkan semua negara di dunia ini. Eksotisme Indonesia tidak akan pernah lekang ditelan waktu. Peluang untuk memainkan peranan penting di tengah kebangkitan China dan Amerika terbuka lebar. Tergantung bagaimana kita “memanfaatkannya” saja. Untuk kembali merebut kemerdekaan yang “hilang”, maka tidak ada jalan lain selain kembali kepada nilai-nilai dan falsafah UUD 1945 dan Pancasila. Itu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun pendiri bangsa yang bernama Republik Indonesia. Jangan lupa., Pancasila dan UUD 1945, juga adalah karunia Tuhan terbesar bagi Republik ini! (***)





























