Setan! Militer Myanmar Perkosa Muslimah Rohingya

Myanmar - Tatkala para serdadu mencari para milisi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, akhir Oktober lalu, kaum minoritas Rohingya justru mengalami musibah. Desa-desa mereka dibakar, sejumlah pria dibunuh, dan para perempuan dilecehkan secara seksual. Bahkan, ketika seorang perempuan mengaku diperkosa, dia dituduh berbohong oleh kantor pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, serta dicari oleh para serdadu yang mendendam. Jamalida Begum, nama perempuan itu. Sembari duduk bersila di lantai, perempuan berusia 25 tahun itu menceritakan kejadian setelah suaminya ditembak mati di Desa Pyaung Pyaik, bagian barat laut Myanmar.
Peta Desa Pyaung Pyaik, Myanmar. (BBC)[/caption] Namun anehnya, Aung San Suu Kyi yang katanya sosok pembela HAM Myanmar yang kini berubah menjadi penguasa, malah membantah tudingan-tudingan itu. Bahkan, Suu Kyi berkeras bahwa para serdadu mematuhi hukum. Namun ketika jurnalis independen hendak pergi ke Rakhine guna memverifikasi, dia tidak mengijinkan. Parah! Alih-alih, Suu Kyi membentuk tim investigasi yang tiba di Pyaung Pyaik pada 11 Desember 2016. Nampaknya Suu Kyi malah menutup-nutupi kejahatan milter Myanmar terhadap muslim Rohingya. Meski awalnya ragu, Jamalida dibujuk untuk berbicara dengan satu-satunya perempuan dalam tim investigasi itu, Dr Thet Thet Zin, ketua Federasi Urusan Perempuan Myanmar. "Dia berkata, kami tidak akan mencelakai Anda, bawa ke mari para perempuan yang diperkosa dan disiksa. Jadi saya pergi ke sana dan menceritakan segalanya dan mereka merekamnya." Interaksi Jamalida dengan tim investigasi direkam dan beberapa menit rekaman videonya ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah Myanmar. Tayangan itu luar biasa dalam artian tidak hanya Jamalida diintimidasi oleh para penerjemah, tapi juga stasiun televisi pemerintah tidak menerjemahkan perkataan Jamalida dalam bahasa Rohingya kepada tim investigasi. Dalam terjemahan yang benar, jelas bahwa Jamalida merinci bukti-bukti tentang insiden pemerkosaan. Dia mengatakan telah melihat tiga perempuan Rohingya dibawa ke semak-semak oleh sejumlah serdadu. "Apakah Anda melihat para perempuan itu diperkosa atau tidak?" tanya penerjemah. "Saya tidak melihat," jawab Jamalida. "Jadi tidak benar mereka diperkosa," balas penerjemah. "Ya dan tidak. Darah mereka mengalir dari sini," tunjuk Jamalida ke arah paha. "Jangan katakan itu, jangan katakan itu, jangan katakan mereka berdarah, katakan saja apakah kamu melihat mereka diperkosa atau tidak," sergah penerjemah. Kemudian, penerjemah mengatakan kepada para penyelidik bahwa Jamalida tidak melihat ketiga perempuan itu diperkosa. (*/BBC/Red) Baca Juga:
- Utusan khusus PBB tuduh militer Myanmar lakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan"
- Ko Ni, penasihat hukum Aung San Suu Kyi dimakamkan
- Rohingya di Myanmar: Kebenaran, kebohongan dan Aung San Suu Kyi
Peta Desa Pyaung Pyaik, Myanmar. (BBC)[/caption] Namun anehnya, Aung San Suu Kyi yang katanya sosok pembela HAM Myanmar yang kini berubah menjadi penguasa, malah membantah tudingan-tudingan itu. Bahkan, Suu Kyi berkeras bahwa para serdadu mematuhi hukum. Namun ketika jurnalis independen hendak pergi ke Rakhine guna memverifikasi, dia tidak mengijinkan. Parah! Alih-alih, Suu Kyi membentuk tim investigasi yang tiba di Pyaung Pyaik pada 11 Desember 2016. Nampaknya Suu Kyi malah menutup-nutupi kejahatan milter Myanmar terhadap muslim Rohingya. Meski awalnya ragu, Jamalida dibujuk untuk berbicara dengan satu-satunya perempuan dalam tim investigasi itu, Dr Thet Thet Zin, ketua Federasi Urusan Perempuan Myanmar. "Dia berkata, kami tidak akan mencelakai Anda, bawa ke mari para perempuan yang diperkosa dan disiksa. Jadi saya pergi ke sana dan menceritakan segalanya dan mereka merekamnya." Interaksi Jamalida dengan tim investigasi direkam dan beberapa menit rekaman videonya ditayangkan oleh stasiun televisi pemerintah Myanmar. Tayangan itu luar biasa dalam artian tidak hanya Jamalida diintimidasi oleh para penerjemah, tapi juga stasiun televisi pemerintah tidak menerjemahkan perkataan Jamalida dalam bahasa Rohingya kepada tim investigasi. Dalam terjemahan yang benar, jelas bahwa Jamalida merinci bukti-bukti tentang insiden pemerkosaan. Dia mengatakan telah melihat tiga perempuan Rohingya dibawa ke semak-semak oleh sejumlah serdadu. "Apakah Anda melihat para perempuan itu diperkosa atau tidak?" tanya penerjemah. "Saya tidak melihat," jawab Jamalida. "Jadi tidak benar mereka diperkosa," balas penerjemah. "Ya dan tidak. Darah mereka mengalir dari sini," tunjuk Jamalida ke arah paha. "Jangan katakan itu, jangan katakan itu, jangan katakan mereka berdarah, katakan saja apakah kamu melihat mereka diperkosa atau tidak," sergah penerjemah. Kemudian, penerjemah mengatakan kepada para penyelidik bahwa Jamalida tidak melihat ketiga perempuan itu diperkosa. (*/BBC/Red) Baca Juga:- PBB: 1.000 orang Rohingya tewas selama operasi militer Myanmar
- Utusan khusus PBB sebut militer Myanmar lakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan"
- Video Myanmar tangkap polisi yang muncul dalam rekaman video pemukulan warga Rohingya
- PBB: Pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Rohingya 'sama dengan kejahatan kemanusiaan'





























