40 Tahun Bank BTN, Wujudkan Mimpi Rakyat Miliki Rumah

40 Tahun Bank BTN, Wujudkan Mimpi Rakyat Miliki Rumah
  Naskah: Giattri F.P   Selama 4 dekade, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) telah mewujudkan mimpi jutaan rakyat Indonesia untuk memiliki hunian yang layak. Dengan skema kredit pemilikan rumah (KPR) yang menjadi ikon bank mortgage ini, jutaan rakyat telah terbantu meraih harapannya mendapatkan rumah. Terutama bagi keluarga muda yang upah bulanannya tak menyentuh puluhan juta. Sejarah mencatat KPR merupakan skema pembayaran yang dipelopori oleh Bank BTN sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan untuk rakyat. Hal ini membuktikan bank yang dinakhodai Maryono, Sang Direktur Utama Bank BTN ini, hadir tak sekadar untuk membangun rumah, tapi juga memberikan kemudahan bagi rakyat untuk memilikinya. Sejak Surat Menteri Keuangan RI No. B-49/MK/1/1974 dikeluarkan pada 29 Januari 1974, Bank BTN pun mengucurkan KPR pertama pada 1976 untuk 9 unit rumah di Semarang, Jawa Tengah. Lalu disusul 8 unit rumah di Surabaya. Perjalanan waktu menjadikan bank yang berdiri lebih dari 6 dasarwa ini terus bergerak melakukan inovasi dan langkah korporasi mulai dari penerbitan obligasi hingga masuk ke pasar modal dilakukan. Bank dengan kode  emiten BBTN ini terus melangkah untuk menghimpun dana. Program pemberian kredit yang sedianya dilakukan bagi rumah tapak bergerak ke rumah vertikal. Beragam skema pembiayaan juga ditempuh, termasuk pembiayaan syariah. Konsistensi Bank BTN juga teruji saat dinamika ekonomi dan politik terjadi, penyaluran subsidi entitas yang dulunya bernama Bank Tabungan Pos ini tetap terdepan sehingga berdasarkan data kementerian PUPR ,Bank BTN tetap mempertahankan pangsa pasarnya di KPR Subsidi sebesar 97% (data per Juni 2016). Sebagai pemain utama perumahan rakyat, sejak 1976 hingga September 2016, Bank BTN telah mengucurkan KPR Subsidi untuk 2,9 juta unit rumah dengan total kredit mencapai Rp 84,8 triliun. Kiprah Bank BTN untuk menyukseskan program pemerintah tak hanya dalam pelayanan KPR Subsidi, tapi juga program sejuta rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu. Seperti pernah dikemukakan Menteri BUMN Rini Soemarno,  bahwa pemenuhan rumah bagi rakyat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga bank dan pengembang. “Bank BTN sebagai BUMN perbankan yang memiliki keunggulan, terutama dalam digital banking untuk KPR, dan menjadi agen pembangunan, diharapkan terus mendukung Program Satu Juta Rumah,” tutur Rini. Per November 2016, dari target 570 ribu unit rumah, Bank BTN sudah menyalurkan KPR 187.588 unit rumah dengan dukungan kredit konstruksi belum KPR sebesar 361.139 unit rumah. Pencapaian tersebut sudah memenuhi 96% dari target. Untuk mengerjar target, Bank BTN menawarkan sejumlah solusi dan strategi, di antaranya memoles situs www.btnproperti.co.id sehingga memudahkan nasabah meraih properti impiannya. Inovasi lainnya pun terus bergerak cepat. Jika tak ada aral melintang, di tahun 2017 ini Bank BTN juga akan menjalankan Digital Mortgage perseroan.  Sebuah sistem dimana masyarakat bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) secara online. Bank BTN juga mengembangkan Housing Finance Center (HFC) sebagai stimulus percepatan kehadiran pengembang (developer) pemula. Ini langkah BTN memajukan bisnis properti yang tidak hanya berfokus melayani pembiayaan perumahan, seperti kredit kepemilikan rumah (KPR), untuk masyarakat. Namun juga sebagai intregrator dengan memberikan pembiayaan kepada developer. "Sehingga kami membiayai dua sisi. Dengan HFC, kami mengumpulkan para developer pemula," ujar Maryono. HFC merupakan pusat riset, edukasi, dan konsultasi pembiayaan perumahan terdepan yang dikembangkan BTN. Salah satu program unggulannya adalah menyelenggarakan MBA Mini in Property bekerja sama dengan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (ITB) yang telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti dan diharapkan akan meningkat menjadi 1.000 orang pada 2017. Kiprah Bank BTN di bawah kepemimpinan Maryono memperlihatkan prospek yang positif dengan basis efisiensi dan efektivitas. Ke depannya, target proses persetujuan KPR pun bakal dipangkas dari 1:5:1 menjadi 1:3:1. Waktu persetujuan pun dibidik akan dipersingkat menjadi maksimal 24 jam. Semuanya dilakukan guna mendukung harapan pemerintah: menyediakan rumah bagi masyarakat Indonesia sekaligus menjawab angka backlog di Tanah Air terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015, menyebutkan kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 11,4 juta unit. Pada tahun ayam ini juga, sesuai amanat Pemerintah lewat Paket Kebijakan Ekonomi Jilid XIII untuk program rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah atau MBR, sekaligus wujud konsistensi dalam perannya mendukung Program Sejuta Rumah, Bank BTN merilis produk Kredit Pemilikan Rumah baru bertajuk KPR BTN Mikro. Produk anyar ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)  terutama  pekerja di sektor informal yang jumlahnya diprediksi mencapai 6,5 juta orang. “Dengan KPR Mikro, Bank BTN membuka ruang bagi masyarakat yang lebih luas dalam memperoleh akses pembiayaan perumahan,” ungkap Maryono beberapa waktu lalu. Meski menyasar segmen MBR, KPR BTN Mikro bukan bagian dari program bantuan pendanaan program sejuta rumah yang dicanangkan Pemerintah. “Pendanaan KPR Mikro ini murni inisiatif Bank BTN,” jelas Maryono. Pencapaian Bank BTN dalam mendukung program sejuta rumah, tak lepas dari peranan Kementerian BUMN dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam mensinergikan BUMN lain, terutama BUMN Karya. Selain peran pemerintah, Bank BTN juga banyak didukung oleh para pengembang properti yang selama ini menjadi mitra setia Bank BTN, tercatat sebanyak 3.000 pengembang yang telah bekerja sama dengan Bank BTN. (*)