Titiek Soeharto Ajak Masyarakat Hadiri Peringatan ke-51 Super Semar

Jakarta, Obsessionnews.com - Tentu semua masih ingat dengan mantan Presiden ke-2 RI, Soeharto, yang sukses menjalankan tugas Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar). Tepatnya pada tanggal 11 Maret 1966 di Istana Bogor, Soekarno atau Bung Karno sebagai Presiden yang sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan Pemimpin Besar Revolusi dan Mandataris MPRS, mengeluarkan sebuah surat perintah harian yang kita kenal saat ini dengan sebutan Super Semar. Dalam surat perintah tersebut menugaskan Menteri/Pangad yang juga merangkap Pangkopkamtib Letnan Jenderal (Letjen) Soeharto untuk ‘mengambil segala tindakan yang dianggap perlu’ dengan maksud terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Pada 11 Maret tersebut Kabinet Dwikora mengadakan sidang paripurna di Istana Negara, Jakarta, tetapi sidang tidak berlangsung lama karena Presiden Soekarno dengan pertimbangan keamanan segera meninggalkan sidang. Tindakan itu diikuti oleh Waperdam 1 Dr. Soebandrio, dan Waperdam III, Dr. Chaerul Saleh yang bersama-sama Presiden segera menuju ke Bogor dengan helikopter. Sidang kemudian ditutup oleh Waperdam II, Dr. J. Leimena, yang kemudian juga menyusul ke Bogor dengan menggunakan kendaraan. Sementara itu tiga orang perwira tinggi TNI AD, yaitu Mayjen TNI Basuki Rachmat (Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi), Brigjen TNI M. Jusuf (Menteri Perindustrian), dan Brigjen TNI Amirmachmud (Pangdam V/Djakarta, yang atas perintah lisan Soekarno berada dalam ruang Sidang Paripurna Kabinet), sepakat untuk menyusul Soekarno ke Bogor. Maksud kunjungan mereka kepada Soekarno adalah agar tidak merasa terpencil dan supaya yakin bahwa ABRI, khususnya TNI-AD, tidak ada masalah dengan Soekarno. Sebelum berangkat, ketiga perwira tinggi itu meminta izin kepada Soeharto yang yang waktu itu sedang sakit dan diharuskan beristirahat di kediamannya. Niat ketiga perwira tinggi tersebut untuk menyusul Soekarno ke Bogor disetujuinya. Ketika Basuki Rachmat bertanya, bahwa apakah ada pesan khusus dari beliau untuk Presiden Soekarno, Soeharto menjawab,"Sampaikan saja bahwa saya tetap pada kesanggupan saya, beliau akan mengerti.” Latar belakang ucapan itu ialah bahwa sejak tanggal 2 Oktober 1965, setelah terjadinya pemberontakan Gerakan 30 September, antara Soekarno dan Soeharto sering dilakukan pembicaraan mengenai apa kunci bagi usaha meredakan pergolakan pada waktu itu. Menurut Soeharto, pergolakan rakyat tidak akan reda sebelum rasa keadilan bagi rakyat terpenuhi dan rasa ketakutan rakyat dihilangkan, yaitu dengan jalan membubarkan PKI yang telah melakukan pemberontakan. Sebaliknya Soekarno menyatakan tidak mungkin membubarkan PKI, sebab hal itu dianggap mengingkari doktrin Nasakom yang telah disuarakan ke seluruh dunia. Dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan, perbedaan pemikiran tersebut selalu muncul. Pada suatu ketika Soeharto menyatakan bersedia menjadi bumper (tameng) dalam membubarkan PKI untuk meredakan pergolakan, asal diberi kebebasan bertindak oleh Presiden. Pesan Soeharto yang disampaikan kepada ketiga perwira tinggi yang akan berangkat ke Bogor itu pada dasarnya berkaitan dengan kesanggupan tersebut. Di Istana Bogor, setelah membahas situasi bersama dengan ketiga perwira tinggi tersebut, serta bagaimana cara mengatasinya, Soekarno memerintahkan Brigjen TNI Sabur, dan Men Tjakrabirawa, untuk membuat konsep surat perintah bagi Soeharto. Soekarno yang didampingi Waperdam I Dr. Soebandrio, Waperdam II Dr. J. Leimana dan Waperdam III Dr. Chaerul Saleh, bersama empat perwira tinggi tersebut kemudian mengadakan pembahasan terhadap konsep yang telah disusun. Setelah mereka sepakat, Soekarno menandatangani konsep itu menjadi Surat Perintah kepada Soeharto. Karena dikeluarkan pada tanggal 11 Maret 1966, surat perintah itu dikenal dengan sebutan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau disingkat Super Semar. Adapun isi Super Semar tersebut antara lain adalah agar Soeharto atas nama Presiden/Pangti mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan dan ketertiban serta kestabilan jalannya pemerintahan dan revolusi Indonesia. Menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Soekarno demi keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dengan mengadakan koordinasi bersama Panglima Angkatan lainya. Berdasarkan kewenangan yang bersumber pada Super Semar, dengan mempertimbangkan masih adanya kegiatan sisa-sisa G-30-S/PKI serta memperhatikan hasil-hasil pengadilan dan keputusan Mahkamah Militer Luar Biasa terhadap tokoh-tokoh G-30-S/PKI. Pada tanggal 12 Maret 1966 Soeharto atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Mandataris MPRS/PBR No.1/3/1966 yaitu pembubaran PKI dan organisasi-organisasi yang bernaung dan berlindung di bawahnya serta menyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan Negara Republik Indonesia.
Untuk mengenang jasa Soeharto atas tugas Super Semar itu, Titiek Soeharto selaku anaknya akan memperingati ke-51 Super Semar. Acara tersebut dikemas dalam bentuk dzikir dan shalawat di Masjid Agung At Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017) mulai magrib sampai selesai. Di acara peringatan Super Semar tersebut akan hadir empat orang pemuka agama yang menjadi pembicara, yakni Habib Syech Assegaf, Habib Rizieq Syihab, KH M Arifin Ilham dan KH A Gymnastiar atau Aa Gym. Titiek juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menghadiri acara itu. Hal itu tertuang di dalam akun Twitternya. “Yang berkenan hadir dipersilahkan hadir,” kicau Titiek di akun Twitternya, @TitiekSoeharto, Jakarta, Jumat (3/3/2017). (Purnomo)
Untuk mengenang jasa Soeharto atas tugas Super Semar itu, Titiek Soeharto selaku anaknya akan memperingati ke-51 Super Semar. Acara tersebut dikemas dalam bentuk dzikir dan shalawat di Masjid Agung At Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017) mulai magrib sampai selesai. Di acara peringatan Super Semar tersebut akan hadir empat orang pemuka agama yang menjadi pembicara, yakni Habib Syech Assegaf, Habib Rizieq Syihab, KH M Arifin Ilham dan KH A Gymnastiar atau Aa Gym. Titiek juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menghadiri acara itu. Hal itu tertuang di dalam akun Twitternya. “Yang berkenan hadir dipersilahkan hadir,” kicau Titiek di akun Twitternya, @TitiekSoeharto, Jakarta, Jumat (3/3/2017). (Purnomo) 




























