Anthony Salim: Pebisnis Sejati di Tengah Krisis

Anthony Salim: Pebisnis Sejati di Tengah Krisis
Mampu melewati krisis berkali-kali, tak membuat Anthony Salim berhenti. Ia justru tetap maju membawa PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk (Indofood) dalam jajaran perusahaan makanan paling berpengaruh di Indonesia. Beragam produk berlogo Indofood bertengger hampir di seluruh tempat. Baik supermarket, minimarket, hingga warung eceran. Boleh dibilang Anthony, Sang CEO, adalah pebisnis sejati di tengah krisis. Berkat kegigihannya, produk yang dihasilkan oleh Indofood telah dipasarkan tidak hanya di Asia, tapi juga merambah Australia dan Eropa. Sempat mengalami kesulitan di masa krisis moneter tahun 1998, tak lantas membuat Anthony menyerah. Dampak yang timbul dari krisis tersebut tidaklah main-main. Salim Grup harus menanggung hutang sebesar Rp52 triliun yang membuatnya harus melepaskan beberapa perusahaan. Meski harus melepas perusahaan miliknya, Anthony yang dipercaya menggantikan ayahnya, Sudono Salim, tetap berusaha memberikan hasil terbaik bagi perusahaan yang masih ia kelola. Krisis yang dilewati Anthony tak hanya saat krisis moneter. Tapi juga krisis ekonomi global tahun 2008 yang membuat harga berbagai komoditas menurun. Pengaruh yang paling dirasakan adalah menurunnya harga tepung yang memengaruhi penjualan produknya. Kerja kerasnya membangun Indofood membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Pria kelahiran 25 Oktober 1949, ini berhasil membawa Indonesia menjadi salah satu produsen mie instan terbesar di dunia. Ia juga dinobatkan sebagai salah seorang terkaya di Indonesia. Perusahaan yang dinahkodai oleh Anthony ini telah menjadi salah satu produsen produk makanan di Indonesia selama 27 tahun. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari makanan ringan, susu, minuman, bumbu racik, hingga tepung dan pasta. Tidak cukup sampai di situ, ia menggerakkan Indofood terus menghasilkan produk terbaru. Inovasi yang unggul dan berbeda dengan perusahaan lain juga terus dirancang. Hal ini bisa dilihat dari merajalelanya mie instan berlogo Indofood yang menguasai pasar di Indonesia. Produk mie instan yang dihasilkan pun menjadi mie unggulan yang disukai oleh masyarakat. Terbukti dari tingginya jumlah pembelian mie instan tersebut yang memiliki presentase 65 persen dari hasil penjualan. Varian rasa yang dimiliki mie instan produksi Indofood jelas terlihat berbeda dengan yang lain. Hal ini menjadi bukti nyata tingginya kreativitas yang ditunjukkan oleh Indofood sebagai penghasil mie instan. Bentuk kemasan yang dimiliki pun cukup beragam, mulai dari kemasan plastik, box, hingga cup noodles. Selain merambah dunia makanan untuk orang dewasa, Indofood juga menciptakan makanan khusus untuk bayi di bawah lima tahun seperti Sun dan Promina. Biskuit yang mengandung vitamin seperti Govit juga diproduksi oleh perusahaan yang satu ini. Sukses kinerja Indofood kembali ditorehkan pada sembilan pertama tahun 2016. Perusahaan yang didirikan Sudono Salim pada 14 Agustus 1990 ini membukukan pertumbuhan laba yang positif bagi perkembangan bisnis Perusahaan. Tercatat, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 92,5 persen menjadi Rp3,24 triliun dari Rp1,68 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Faktor utama yang membuat kenaikan tersebut adalah laba selisih kurs pada tahun ini dibandingkan dengan rugi selisih kurs pada tahun sebelumnya. Anthony, mengungkapkan rasa gembira dengan pencapaian di periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 september ini. Menurutnya, kinerja perusahaan secara umum terus meningkat sebagaimana tercermin pada core profit perusahaan. Begitupun dengan laba usaha yang tumbuh 9,4 persen menjadi Rp5,93 triliun dari Rp5,42 triliun tahun sebelumnya. Di mana marjin laba usaha naik menjadi 11,9 persen dari 11,4 persen (yoy). Bahkan, perseroan juga mencatat kenaikan di marjin laba bersih menjadi 6,5 persen dari 3,5 persen. Dengan tidak memperhitungkan akun nonrecurring dan selisih kurs, core profit yang mencerminkan kinerja operasional tumbuh 15,3 persen menjadi Rp3,12 triliun dari Rp2,71 triliun. Salah satu penopang pertumbuhan laba ini karena penjualan neto konsolidasi naik menjadi Rp49,87 triliun, dari periode sebelumnya yang sebesar Rp47,56 triliun. “Kelompok Usaha Strategis Konsumen Bermerek (CBP), Bogasari, Agribisnis dan Distribusi masing-masing memberikan kontribusi sekitar 52 persen, 23 persen, 17 persen, dan 8 persen terhadap total penjualan neto konsolidasi,” imbuh pria berkacamata itu. Kesuksesan Indofood bukan hanya terlihat dari angka penjualan yang fantastis dan varian produk. Tapi juga penghargaan yang diraih atas kinerja positif yang terus dilakukan. Di tahun 2015, perusahaan ini berhasil meraih penghargaan Badan POM Awards 2015 oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Indonesia WOW Brand oleh MarkPlus, Inc., dan Indonesia Original Brand 2015 oleh SWA Magazine. Perusahaan yang berkonsentrasi pada produk pangan ini juga mendapat penghargaan Halal Awards 2015. Penghargaan tersebut diberikan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), berkat konsistensi Indofood menjaga kehalalan produk buatan mereka. Untuk sertifikasi, Indofood telah mengantongi beberapa sertifikat seperti sertifikat Halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan Good Manufacturing Practices (GMP). Kinerja perusahaan ini tidak hanya bergelut di proses produksi, tapi juga pembuatan bahan baku, pengemasan hingga distribusi ke seluruh wilayah Indonesia. Dengan catatan bisnis yang apik dan mampu bertahan dengan krisis yang ada, Indofood kini terus mengembangkan diri untuk lebih maju. Memiliki visi “Perusahaan Total Food Solution” membuat perusahaan yang berpusat di Jakarta ini senantiasa meningkatkan kualitas produk. Selain itu, peningkatan proses produksi dan kompetensi karyawan juga menjadi bentuk perwujudan dari visi mereka. (Men’s Obsession)Artikel ini dalam versi cetak dapat dibaca di Majalah Men’s Obsession edisi Februari 2017.