Pengorbanan AHY dan Teladan yang Ditunjukkannya

Pengorbanan AHY dan Teladan yang Ditunjukkannya
Oleh:  Rinaldi Munir, dosen Teknik Informatika ITB Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran pertama sudah berlalu. Paslon nomor 1, yaitu Agus Harymurti Yudhoyono, atau disingkat AHY, dengan pasangannya Sylviana tersingkir dari putaran pertama. Paslon nomor 2, Ahok-Djarot dan Paslon nomor 3, Anies-Sandi, melaju ke putaran kedua. AHY sebenarnya adalah bintang yang cemerlang, di awal-awal kampanye elektablitas AHY naik cepat di atas  30%, namun cepat pula merosot hingga akhirnya hanya dapat suara 17% sesuai hasil quick count kemarin. Penurunan itu akibat banyak faktor, mulai dari performa yang kurang memuaskan pada acara debat, hingga serangan-serangan yang berbau politis yang ditujukan untuk menjatuhkan elektabilitasnya. OK, saya tidak akan membicarakan lagi mengenai hasil Pilkada putaran pertama itu. Saya ingin menyoroti satu sisi lain, yaitu fenomena AHY. Menurut saya,  Mas Agus, panggilan AHY, adalah fenomena baru perpolitikan di negeri ini. Dia adalah bintang yang bersinar. Dia anak mantan Presiden (SBY). Karier militernya sangat bagus, tidak lama lagi akan menjadi Letkol.  Dia sepi dari pemberitaan, tidak pernah ada gosip negatif  tentang dirinya. Hal itu ditunjang dengan penampilan fisiknya yang tampan dan postur tubuh yang bagus (atletis). Di tengah karier militernya yang cemerlang, tiba-tiba dia dipanggil (entah oleh bapaknya atau entah oleh parpol yang dihimpun SBY) untuk maju ke gelanggang percaturan politik Pilkada DKI. Sebagai anak yang taat kepada orang tua, dia mematuhi permintaan itu, meskipun risikonya sangat besar: dia harus mundur dari TNI, dan jika dia gagal dalam Pilkada DKI, dia tidak bisa kembali lagi ke TNI. Pengorbanan yang sangat berat bagi seorang muda seperti AHY. Selama proses kampanye Mas Agus dielu-elukan rakyat kecil. Dia menjadi pilihan alternatif di antara  Ahok (yang dipersepsikan berperilaku kasar) atau Anies (yang dipersepsikan saat itu belum punya program terobosan). Perlahan-lahan Mas Agus yang tidak begitu dikenal tiba-tiba menjadi idola baru. Elektabilitasnya naik bahkan mengalahkan Ahok dan Anies. Tetapi, politik itu sangat kejam. Mulailah berbagai cara yang dilakukan lawan untuk menjatuhkan citra Mas Agus. Mula-mula suami pasangannya, Mpok Sylvi, dikaitkan dengan isu makar. Selanjutnya Mpok Sylvi dikaitkan dengan isu korupsi pembangunan masjid. Kedua kasus tersebut tidak terdengar lagi perkembangannya, kemungkinan memang disengaja dibuka pada masa Pilkada. Dua pemberitaan tersebut perlahan mulai menurunkan elektabilitas Mas Agus, di samping karena performa debatnya yang agak mengecewakan. AHY dan bapaknya, SBY, menjadi sasaran buli netizen kubu sebelah yang tidak habis-habisnya untuk mencerca dirinya. Penurunan elektabilitas tidak berhenti sampai di situ. Pak Beye tidak dapat menahan perasaannya untuk sering “curhat” di Twitter mengenai  kasus-kasus yang mengaitkan dirinya dengan berbagai tudingan miring. Puncaknya adalah “serangan fajar” yang dilakukan oleh mantan ketua KPK, Antasari Azhar, sehari sebelum pencoblosan, yang menuding SBY berada di balik kriminalisasi dirinya. Lengkaplah sudah berbagai sebab itu membuat pemilih AHY lari ke Paslon lain. Dia tersingkir dari gelanggang Pilkada. Namun lihatlah bagaimana reaksi AHY. Setelah mengetahui hasil quick count yang tidak memenangkan dirinya, AHY mengakui kekalahan secara ksatria. Dia tidak perlu ngeles segala atau menuding ada kecurangan, atau mencari-cari alasan dengan menyalahkan pihak lain, namun dia terima hasilnya dengan lapang dada. Mas Agus telah memberi contoh teladan yang baik dalam berkompetisi. Sportivitas prajurit benar-benar dia laksanakan, tidak hanya retorika belaka. Barangkali ini semua adalah hasil jerih payah orang tuanya yang berhasil mendidik anak-anaknya. SBY boleh kecewa karena AHY terlempar, tapi menurut saya Indonesia butuh orang-orang seperti AHY yang telah memberikan contoh yang baik dalam berkompetisi. Jangan melihat pada hasil akhir saja, tetapi lihat pulalah prosesnya. Meskipun saya tidak memilih Mas Agus (bukan warga DKI), namun terus terang saya bangga dan terharu dengan Mas Agus. Mas Agus masih memiliki harapan untuk nanti tampil kembali menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Dia masih muda, mungkin sekitar sepuluh tahun lagi, ketika para jago-jago tua sudah tiada atau sudah  undur diri dari gelanggang, dia dapat maju ke gelanggang dengan performa yang lebih matang. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kepada Pak Beye, selamat, Pak, anda memiliki anak yang taat kepada orangtua, bangsa, dan agama. Semoga Allah SWT selalu menjaga Mas Agus. (*)