Kaos 'Penjarakan Penista Agama' Selalu Dipakai dalam Aksi Parmusi

Jakarta, Obsessionnews.com - Pengusutan kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat pengawalan dan sorotan dari berbagai ormas Islam. Ini dilakukan agar penegakan hukum terhadap Ahok berjalan adil, dan transparan. Pengawalan kasus Ahok dilakukan terus-menerus dengan melakukan aksi pada sidang yang berlangsung setiap hari Selasa, dimulai pada sidang pertama Selasa 13 Desember 2016 di gedung bekas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, sampai sidang dipindah ke Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) adalah salah satu ormas yang konsisten melakukan aksi mengawal sidang kasus Ahok. Dalam setiap aksinya itu, Parmusi selalu menggunakan atribut terlengkap, seperti bendera, kaos bertuliskan "Penjarakan Penista Agama" dan juga poster-poster bertuliskan sama. "Permusi sejak awal sudah memandang apa yang dilakukan Ahok telah membahayakan kebhinnekaan Indonesia, karena ucapanya yang menghina agama Islam sejatinya ia telah merusak NKRI," ujar aktivis Pengurus Pusat (PP) Parmusi, Suhendra, kepada Obsessionnews.Com di Jakarta, Rabu (8/2/2017). Untuk itu, sebagai sikap nyata mendukung pengusutan kasus ini, Parmusi bersama ormas yang lain bersatu turun ke jalan melakukan unjuk rasa. Menurut Suhendra, dalam setiap aksi itu dibutuhkan simbol yang kuat tentang tuntutan atau target yang ingin dicapai. "Simbol itu kemudian kita gambarkan dalam bentuk pemakaian kaos, poster dan bendera. Tuntutannya kita memang jelas Ahok harus dihukum dan dipenjara, dan mestinya sejak ditetapkan sebagai tersangka," tuturnya. Kaos "Penjarakan Penista Agama" selalu dipakai sejak sidang perdana Ahok dimulai di Jalan Gajah Mada. Suhendra bahkan mengungkapkan, pada sidang perdana itu Parmusi menjadi ormas yang menyediakan panggung orasi bagi ormas lain untuk menyerukan tuntutan dan perlawanan. Suhendra mengungkapkan, beberapa simbol dan ekspresi dituangkan dari Sekretaris Lembaga Dakwah Parmusi. Selain kaos, dan poster aksi-aksi Parmusi juga sudah menghadirkan sesuatu yang unik dan menarik perhatian masyarakat. Misalnya, Parmusi menampilkan tiga kali aksi seni. Pertama, drama teatrikal tentang "Indonesia Tanpa Penista Agama". Kedua, menghadirkan 13 seniman menggelar aksi seni lukis bertajuk "Melukis Negeri Tanpa Penista Agama". Ketiga, adalah pembacaan puisi oleh penyair dan sastrawan Taufiq Ismail. Dengan menggunakan jaket Parmusi, Taufiq naik panggung komando dengan membacakan dua puisi. Pertama, berjudul "Di Laut Mana Tenggelamnnya, dan kedua, "Perang ini Harus Kita Menangkan" "Aksi seni ini juga bagian dari simbol tentang apa yang selama kita tuntut dari penegak hukum atau pemerintah terhadap seorang penista agama," tuturnya. Suhendra mengatakan, ke depan Parmusi akan tetap mengawal proses hukum kasus penistaaan agama sampai benar-benar Ahok dihukum dan dipenjara. Sikap tegas ini penting dan diperlukan sebagai bentuk pelajaran bagi Indonesia agar tidak lagi ada penistaaan agama di negeri ini. "Parmusi menolak penistaan agama, bukan hanya Islam tapi semua agama , karena itu mengancam kebhinekaan Indonesia," jelasnya. (Albar).





























