Usia 70 Tahun, HMI Dituntut Mereposisi Diri

Usia 70 Tahun, HMI Dituntut Mereposisi Diri
Jakarta, Obsessionnews.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri hanya berselang 18 bulan pasca-kemerdekaan RI, kini sudah memasuki usia ke-70 tahun. Usia yang tak lagi muda jika diibaratkan seorang manusia, fisik semakin lemas, daya tahan tubuh berkurang, dan produktivitas yang terbatas. (Baca Juga: HMI dalam Sejarah Kebangsaan) Sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia, tak diragukan lagi pengabdian HMI terhadap bangsa ini. HMI mampu berkiprah dalam dunia intektualitas dan telah melahirkan cendekiawan-cendekiawan bangsa dalam pertarungan pemikiran. HMI juga telah memberikan kontribusi besar untuk bangsa ini, sampai -sampai pemerintahan yang zalim terhadap rakyat pun dapat ditumbangkan. Bahkan di awal-awal berdirinya organisasi ini, HMI ikut turun ke medan perang dan mengangkat senjata demi keutuhan negara tercinta Indonesia Raya. Andri Fitri Yanto, Sekretaris Umum Badko HMI Riau-Kepri 2016-2018, mengatakan, dengan usia yang sudah menua ini mengharuskan HMI mereposisi diri. Melihat kondisi kekinian yang terjadi di HMI, maka sudah waktunyalah HMI mereposisi diri, sehingga rakyat bisa merasakan keberadaan HMI. "HMI harus menentukan sikap keberadaannya saat ini, apakah masuk golongan pejabat? Apakah masuk golongan mahasiswa elit/apatis yang hanya berkumpul di mal-mal, atau apakah HMI masih bersama rakyat untuk selalu memberikan kenyamanan dan membela kesejahteraan yang diidam-idamkan rakyat," tukas Andri seperti dikutip dari sebuah media online, Minggu (5/2/2017). Pada kenyataannya, lanjut dia, saat ini HMI bak pejabat dan mahasiswa elite. Keberadaan inilah yang menurut Andri harus direposisi sehingga tidak berkepanjangan dan membuat HMI kehilangan jati diri dan segera mungkin HMI kembali pada posisi sesungguhnya. "HMI juga bukanlah barang dagangan senior atau alumninya. HMI harus punya tempat sendiri yang memang diakui keberadaannya. Sesungguhnya perjuangan dan pengabdian kita akan selalu tercatat oleh sejarah, apakah keberadaan kita saat ber-HMI masuk dalam sejarah pro-status quo, sejarah tinta emas perjuangan HMI, atau justru dosa sejarah yang kita torehkan," tutur Andri. Selain itu, HMI juga harus direjuvenasi. Rejuvenasi kata dia bukan dari hitungan usianya, akan tetapi dari kekaryaan HMI, daya saing HMI, nilai juang HMI yang saat ini semakin melemah. "Oleh karenanya, rejuvenasi sangat dibutuhkan HMI dengan cara merekulturisasi budaya-budaya intelektual HMI, terus-menerus berkarya dalam setiap bidangnya, menanamkan dasar perjuangan kepada setiap kader dengan penuh pemahaman, sehingga pergerakan HMI bisa bangkit kembali," kata Andri. Yang tidak kalah penting harus dilakukan juga ruwatan HMI. Menurut Andri, di beberapa beberapa pesantren,masyarakat/santrinya sampai kini masih ada yang melaksanakan "ngerowot", yakni menghindari atau tidak memakan makanan yang berpotensi menyebabkan penyakit dalam tubuh. HMI pun sudah saatnya meruwat diri dengan menghilangkan segala energi negatif yang ada dalam tubuhnya. "Dengan ruwatan tersebut, diharapkan bisa menyadarkan HMI untuk kembali kepada khittahnya, yakni membela segala kebenaran dan melawan segala keburukan serta menyadarkan setiap kadernya untuk tidak terlibat dalam konflik ataupun niat pragmatis," katanya. (Has)