Erajaya Swasembada Tetap Terpercaya

Jakarta - Menjadi perusahaan ritel dan distribusi perangkat elektronik terbesar di Indonesia memang tidak mudah. Pencapaian ini membutuhkan seorang pemimpin yang pekerja keras, disiplin dan berani seperti Hasan Aula CEO PT. Erajaya Swasembada Tbk, yang berhasil meneruskan perjuangan Presiden Direktur Erajaya sebelumnya Budiarto Halim. Banyaknya handset, kartu SIM, kartu voucher prabayar, aksesoris, komputer, dan segala jenis gadget elektronik di Indonesia, tidak lain karena peran Erajaya sebagai perusahaan distribusi perangkat elektronik yang terpercaya. Erjaya berhasil memasarkan produk perangkat elektronik dengan baik di seluruh Indonesia. Beberapa perangkat elektronik yang dipasarkan Erajaya antara lain, Acer, Apple, Asus, BlackBerry, Dell, HTC, Huawei, Lenovo, LG, Motorola, Nokia, Samsung, Sony dan Xiaomi. Selain itu kerjasama juga digalakan dengan operator telekomunikasi Indonesia seperti Axis, Esia, Indosat, Telkomsel dan XL Axiata untuk mendistribusikan produk mereka. Produk-produk ini umumnya dipakai oleh masyarakat Indonesia. Hasan menargetkan Erajaya memiliki 89 titik distribusi dan 509 gerai Erafone, iBox dan Switch. Bahkan, di tahun 2016 target penjualan Erajaya mencapai Rp 22 triliun naik 10 persen dari tahun 2015 yang mencapai Rp 20 triliun. Ini merupakan pencapaian yang luas biasa. Peningkatan penjualan setiap tahunnya tidak lain karena Erjaya mampu menyediakan portofolio brand partnership terlengkap baik dalam distribusi maupun ritel serta perluasan jaringan distribusi dan inovasi ritel Erajaya Group. Tidak lupa, Erajaya juga selalu melakukan pengembangan konsep pameran baru, dan berpartisipasi aktif dalam berbagai event pameran besar, serta ditambah dengan elakukan kerjasama pembentukan usaha patungan di dalam negeri maupun di luar negeri. Dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang semester pertama 2016 pendapatan yang diraih Erajaya sebesar Rp 10,362 triliun naik 19,3% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 8,683 triliun. Dengan begitu keuntungan Erajaya di semester pertama Rp 127,518 miliar. Tidak puas membuka gerai ritel elektronik Erafone di Indonesia dan Malaysia, Erajaya juga mengembangkan sayap bisnisnya dengan membuka toko yang sama di Singapura. Ini adalah capaian yang luar biasa yang ingin disasar oleh Hasan Aula bersama seluruh tim. Survei pasar internal mereka menyebutkan, potensi pasar dua Negeri Jiran menjanjikan. Dus, mereka memperkirakan bisa tumbuh 6%-7% per tahun di sana. Dalam mengarungi bisnis di luar negeri Erajaya tak melaju sendiri melainkan menggandeng perusahaan lokal. Di Singapura, Erajaya menggandeng AlphaBright Distribution Pte. Ltd sebagai mitra bisnis mereka. Keduanya lantas membikin perusahaan patungan bernama Era International Network Pte Ltd. Sementara di Malaysia, Erajaya membentuk perusahaan patungan bernama Era International Network Sdn. Bhd. Erajaya mengempit 95% saham di perusahaan patungan itu. Lalu 5% sisanya adalah milik Li Chau Ging. Sepanjang tahun ini, Erajaya membidik pertumbuhan penjualan neto sebesar 10%. Tahun lalu, perusahaan itu mencatatkan penjualan neto Rp 20 triliun. Belakangan, Hasan Aula mengonfirmasi telah mengajukan sertifikasi Postel untuk beberapa jenis iPhone. Sertifikasi tersebut diajukan sebagai persiapan melakukan impor. Pengajuan yang dilakukan oleh Erajaya adalah sertfikasi Postel B, berbeda dengan sertifikasi yang diajukan oleh Apple beberapa bulan lalu. Sertifikat Postel B ini nantinya akan dipakai untuk mengajukan tanda pendaftaran produk (TPP) pada Kementerian Perindustrian dan dilanjutkan dengan Permohonan Persetujuan Impor pada Kementerian Perdagangan.Setelah semua perizinan itu selesai, maka Erajaya tinggal menunggu kedatangan iPhone yang diimpor dan bersiap menjualnya. Setidaknya ada empat jenis iPhone yang diajukan oleh Erajaya (PT Erajaya Swasembada), yakni iPhone 6s (A1688), iPhone 6s Plus (A1687), iPhone 7 (A1778) dan iPhone 7 Plus (1784). Mengingat Erajaya sudah bisa mengajukan sertifikat Postel B untuk produk yang sama, dapat diartikan bahwa Apple telah memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Mengutip wikipedia, Perusahaan ini dibangun pada tahun 8 Oktober 1996. Selanjutnya pada tahun 2011, perusahaan ini mengakuisisi Teletama Artha Mandiri (TAM). Berkat kerjasama ini, di akhir tahun 2012 Erajaya memperoleh memperoleh profit sebesar 300%. Di akhir tahun 2011, perusahaan ini mengubah statusnya menjadi perusahaan terbuka. Pada tahun ini pula Erajaya Group membangun delapan outlet dengan nama Erafone Megastore. Pada Agustus 2012, melalui anak perusahaanya, PT Data Citra Mandiri (DCM) mengakuisis iBox yang merupakan perusahaan ritel untuk produk Apple di Indonesia.[4] Jumlah akuisis yang dibayarkan untuk iBox senilai US$ 18 juta. Pada tahun ini pula Erajaya meluncurkan situs e-commerce bernama erafone.com. Pada Juni 2013, Erajaya Group telah mengoperasikan 88 pusat distribusi dan 423 pusat ritel di 17 provinsi di Indonesia serta telah membangun sebanyak 18000 penjual pihak ketiga. Pada 15 November 2014, Erajaya Group melalui anak usaha Erajaya Swasembada, PT Teletama Artha Mandiri (TAM) menjadi distributor dan importir telepon seluler asal Tiongkok, Xiaomi. (Albar)





























