2018 Tahun Perdamaian

2018 Tahun Perdamaian
Oleh: Yunidar ZA, Pengurus Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM)  Nasional   Tahun 2018 segera datang, setiap pergantian tahun tentu saja menguatkan harapan dan cita-cita yang ingin dicapai tahun depan, sudah menjadi kodrat manusia untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar bangsa Indonesia mendapat kehidupan yang lebih baik dapat berperan aktif dalam melaksanakan perdamaian dunia. Fenomena kontemporer perkembangan dalam kehidupan interaksi masyarakat sekarang ini kurang harmoni dalam hungan antara masyarakat, penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan ini ditandai dengan berbagai macam konflik sosial dalam masyakat yang muncul kepermukaan, bahkan juga disinyalir adanya konflik laten seperti api dalam sekam. Bagaimana persoalan di atas pada masa yang akan datang hubungan antar masyarakat agar lebih harmonis sehingga terwujudnya penghormatan terhadap sesama manusia, baik dalam budaya, sosial, politik, ekonomi, peradaban dan perdamaian. Oleh karenanya penciptaan hubungan antar masyarakat harus mengarah pada satu tujuan bersama dalam kehidupan yang saling menghargai ‘pluralitas’ bhinneka tunggal ika. Sebagai bangsa yang sangat majemuk dan berbagai kerifan lokal seyogyanya local wisdom menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Saling menghargai dan mengisi untuk penguatan kohesi sosial, kelebihan satu daerah dengan daerah lainnya untuk saling mengisi dan melengkapi, model, corak kehidupan, makanan, permainan, seni, adat istiadat suatu fenomena sosial yang sangat luar biasa. Indonesia raya yang besar sumber daya alam dengan luasnya lautan, beribu pulau dan daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memudahkan untuk bangkit secara sosial budaya, ekonomi, politik, perdagangan, peradaban dan nilai – nilai perdamaian dalam kancah pergaulan dunia. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan juga perhatian pemerintah terhadap masyarakat akan membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan untuk bangkit bersama dalam menghadapi globalisasi pergaulan dengan masyarakat dunia. Apakah tahun depan akan lebih baik kita dapat menebar benih untuk perdamaian terhadap nilai-nilai baru kemanusiaan dimana dunia ini menjadi kehidupan bersama, perpecahan antar kelompok dapat diharmonisasikan, agama menjadikan umat yang religi, ajeng dalam hubungan antar manusia juga taat dala menjalankan ibadah agamanya masing-masing, dan takut terhadap sang penciptanya, etika dan moralitas dapat ditegakkan, para pemimpin bukan hanya untuk menyemarakkan pesta pemilu, namun dia menjadi penggerak sepanjang sejarah, berdiri di atas segala golongan, ras, suku, agama, kepercayaan dan menjadi penggerak untuk kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dapat mememberikan kedamaian sehingga kesejahteraan dan perdamaian abadi terwujudkan. Urgensitas lahirnya pemimpin negarawan untuk dapat membangun bangsa yang berkarakter, beretika, bermoral dan berperadaban kalau pemimpin masih saja mempunyai purbasangka terhadap rakyatnya, tidak peduli terhadap masyarakat yang kurang beruntung, dibelahan pulau sana masih banyak masyarakat hidup dalam kebodohan, kemiskinan, kelaparan, penyakit, masih ada masyarakat yang tidak mendapatkan air minum, air besih yang cukup, menderita kekurangan gizi dan kelaparan. Persoalan ini harus diselesaikan pada tahun yang akan datang, pembangunan fisik juga harus ada ukurannya jangan sampai “besar pasak daripada tiang” sehingga persoalan kebutuhan dasar masyarakat tidak terabaikan. Pemerintah diharapkan agar mengoptimalkan kinerja, kerja yang cerdas dan menjadi tanggung jawab pemimpin untuk memberikan fasilitasi pelayanan terhadap berbagai kebutuhan masyarakat, bukan hanya untuk orang – orang yang dekat dengannya (kroni) saja namun juga masyarakat yang jauh disana bahkan belum mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP) sekalipun harus difasilitasi dipastikan terjamin hidup layak dan mendapatkan akses pelayanan publik dari pemerintah. Permasalahan lainya, masyarakat Indonesaia tidak menutup mata sebagai warga masyarakat dunia kita prihatin terhadap berbagai konfilk dengan kekerasan mulai dari Myanmar kasus Rohingya hingga pergolakan di Timur Tengah yang menguras pikiran, tenaga juga bantuan material. Dukka terhadap kemanusian sepertinya terus diciptakan dan diproduksi oleh manusia. Belajar dari sejarah bagaimana manusia telah menghancurkan dirinya sendiri dalam perang, perebutan kekuasaan, penindasan, penjajahan bahkan penggunaan bom atom untuk memusnahkan manusia yang dijuluki little boy yang dijatuhkan di Kota Hiroshima merupakan monumen yang memperingatkan manusia bahwa ia mampu menghancurkan dirinya sendiri, sehingga perlu adanya ethik dan moral untuk mengekang dirinya agar tidak saling menghancurkan. (Teuku Jacob, Palemologi 1994, hal 16) Perang dan kekerasan sepanjang tahun 2017 telah berkecamuk dan terus diciptakan, diproduksi berbagai macam konflik dan konflik degan kekerasan yang difasilitasi oleh Amerika Serikat antara Israel dengan Palestina terus bekecamuk, mengganggu kawasan bahkan sampai menguras energi masyarakat dunia. Kita mengganggap bahwa perang tidak dapat dielakkan oleh manusia, bahwa perang adalah kebutuhan manusia. Manusia sebagai pencipta masalah seharusnya juga dapat memikirkan menyelesaikan masalah, menghentikan perang, dan mencegahnya, mungkin ada makhluk lain yang dapat memecahkan persoalan sederhana namun tidak ada yang dapat menciptkan soal-sola baru. Ketimpangan, konflik kekerasan, penyakit baru dan lama yang belum ditemukan obat penawarnya pada tahun 2017 manjadi harapan agar pada tahun 2018 dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang tersisa tahun lalu. Kita punya harapan yang sangat bersar agar kedepan demokrasi, pemuliaan terhadap hak asasi manusia juga pelayanan pemerintah terhadap layanan kebutuhan masyarakat dapat terealisai sebagaimana harapan bersama. Kekuatan dalam masyarakat sebagai sebuah bangunan yang kokoh harus menjadi modal untuk membangun fisik dan mental kebangsaan, bebagai konflik suku, ras, agama, dan bahasa juga konflik musiman dalam menyambut pemilihan umum tidak memilukan masyarakat sehingga dapat diselaikan dan dicarikan model, juga metoda baru dalam perhelatan demokrasi. Sebentar lagi pergantian tahun, sebagai makhluk yang tercerahkan tentu kita dapat merenung dan berfikir kembali untuk melakukan evaluasi bersama apakah sebagai anak bangsa dapat berperan aktif dalam melaksanakan peran sebagai agen perdamaian dunia dan mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera bersama. Semoga Tahun 2018 menjadi tahun perdamaian.