Pengaruh Tokoh Penting dalam Pilkada

Pengaruh Tokoh Penting dalam Pilkada
Jakarta, Obsessionnews.com - Dunia politik tanah air kerap kali diidentikkan dengan politik ketokohan, di mana seseorang yang memiliki kharisma tinggi akan menjadi sorotan tersendiri dalam menarik apresiasi dan dukungan dari rakyat. Dalam faktanya pilkada misalnya tak lepas dari peran serta figur tokoh yang membangun pencitraan untuk mendongkrak suara pasangan calon kepala daerah yang diusung. [caption id="attachment_176189" align="alignnone" width="640"] Tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan, Sylviana Murni, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tajahaja Purnama atau Ahok, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat.[/caption] Hal ini dibuktikan dengan kemunculan sosok-sosok seperti Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri maupun Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pertarungan figur tokoh partai politik sebagai strategi pemenangan pilkada. Pilkada DKI Jakarta tinggal 15 hari lagi, Prabowo Subianto pun ikut turun gunung di tengah kampanye pasangan cagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Prabowo ikut di tengah ribuan ibu-ibu yang memadati kampanye terbatas Anies-Sandi di Gedung Olahraga (GOR), Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara. Prabowo merasa perlu turun gunung karena, baginya, memenangi Pilgub DKI sama dengan menyelamatkan Indonesia. "Pemilihan gubernur di DKI kali ini punya arti yang khusus, arti yang lebih daripada pemilihan-pemilihan gubernur yang lain. Pemilihan tahun ini telah menjadi pertarungan, pertarungan antara nilai yang baik melawan nilai yang tidak baik," kata Prabowo. Tak hanya Prabowoyang turun gunung ke arena kampanye Pilgub DKI. Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri juga akan turun ke arena kampanye akbar pasangan cagub-cawagub nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat pada 4 Februari 2017 mendatang. "Bu Mega, insya Allah, nanti pada kampanye akbar akan hadir. Kampanye terbukanya tanggal 4, kemudian ada acara tanggal 4, apa itu, 'Konser Gue Dua'," kata Djarot. Sementara itu SBY terus melakukan manuver politik. Namun, menurut calon gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono, pihaknya belum dapat memastikan apakah SBY akan ikut turun gunung berpartisipasi mendukungnya. Akan tetapi Agus menyatakan tidak pernah meminta ataupun memaksa Presiden ke-6 RI itu untuk ikut berpartisipasi mendukung kegiatannya selama ini. Sebab Agus merasa tak mau membebankan SBY untuk ikut sama-sama melakukan kegiatan kampanye. "Itu hak sepenuhnya beliau (SBY). Beliau tidak punya kewajiban untuk turun, tetapi ya selalu punya hak untuk aktif dalam kegiatan politik di Indonesia," kata Agus. Aksi turun gunung yang dilakukan sejumlah tokoh penting dalam Pilkada DKI Jakarta dianggap manuver politik untuk mempertaruhkan harga diri partai politik. Menurut pengamat politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, meski mayoritas ketum parpol ikut turun gunung, namun gaung politiknya tak sedahsyat tiga tokoh nasional tersebut. Pangi mengatakan, pada akhirnya kehadiran ketiganya mengindikasikan adanya irisan skema dan peta politik pemilu 2019‎. Pangi menilai, kehadiran Mega, SBY dan Prabowo sebagai ‘wasit akhir’ dalam Pilkada DKI merupakan miniatur kekuatan politik, yang mengandaikan pilkada rasa pemilu presiden. "Bagi pemenang pilkada DKI (fenomena turun gunung) ini menjadi batu loncatan untuk pilpres 2019," ujar Pangi. Namun, tanpa kita sadari fenomena pertarungan figur tokoh sebagai strategi pemenangan di pilkada 2017 ini, mengindikasikan iklim yang tidak sehat bagi perpolitikan tanah air. Sebuah persoalan lokomotif di gerbong partai politik akan menjadi tidak sehat apabila hanya mengandalkan gerbong-gerbong tertentu saja, sehingga budaya politik dalam partai tidak dapat mapan dan berkembang. Padahal dalam menjalankan fungsinya, partai tidak hanya dapat mengandalkan suara lewat figuritas tokoh sebagai lokomotif partainya. (Has)