Mapala Unisi Paparkan Tragedi The Great Camping XXXVII

Mapala Unisi Paparkan Tragedi The Great Camping XXXVII
Mapala Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar jumpa pers terkait peristiwa wafatnya tiga peserta diksar The Great Camping (TGC) XXXVII, yakni Syaits Asyam (19), Muhammad Fadli (19), dan Ilham Nur Padmy Listia Adi (20). Jumpa pers digelar di Hall UII Jalan Cikditiro, Yogyakarta, Jumat (27/1/2017). Hadir sebagai narasumber salah seorang senior Mapala Unisi UII Achiel Suyanto, Ketua Mapala Unisi UII Imam Noorizky, dan Ketua Panitia TGC XXXVII Wildan Nuzula. Puluhan pencinta alam di Yogyakarta juga turut hadir. Mengawali jumpa pers Wildan melaporkan rangkaian acara TGC ke XXXVII Mapala Unisi 2017. Tanggal 14, peserta TGC ke XXXVII ini berangkat ke lapangan TGC ke XXXVII di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dari awal memang rencana untuk materi lapangan itu pada tanggal 14-22 Januari 2017, namun karena ada musibah, yakni kepergian Fadli pada tanggal 20 Januari 2017, maka panitia memberhentikan segala kegiatan TGC ke XXXVII, yaitu dengan menarik seluruh peserta TGC XXXVII ini ke Yogya. Berikut tanya jawab wartawan dengan Panitia TGC XXXVII: Wartawan: Seperti apa survival materi survival di TGC Mapala Unisi UII?Wildan: Materi survival ini dilaksanakan pada tanggal 18-20 Januari 2017, kita punya SOP, jadi sebelum masuk ke materi survival, siswa di cek lagi kesehatannya, Di sini kami Mapala Unisi dan panitia bekerjasama dengan Mapala Fakultas Kedokteran UNS untuk memeriksakan seluruh kesehatan seluruh peserta. Jadi pemeriksaan kesehatan dilakukan pada tanggal 17 malam, sebelum besok harinya masuk materi survival. Setelah pemeriksaan, keesokan harinya, peserta diarahkan ke tempat materi survival. Setelah diarahkan, logistik yang mereka bawa itu dititipkan ke panitia, sebagai salah satu mekanisme memasuki materi survival ini. Jadi peserta hanya diperbolehkan membawa air satu drigen, peralatan masak di situ ada nesting, kompor, bahan bakar, garam, benda tajam untuk memotong-motong, beserta alat makan. Setelah itu peserta diarahkan ke lokasi flying camp, materi survival, lalu diarahkan untuk mencari makanan yang ada di sekitar situ, makanan alam berupa tumbuh-tumbuhan dan fauna yang bisa dimakan. Sebelumnya mereka juga telah mendapatkan materi survival di kelas untuk contoh-contoh flora dan fauna yang bisa dimakan ketika kondisi mendesak. Wartawan: Apa ada tindak kekerasan saat TGC Mapala Unisi UII?Achiel: SOP-nya adalah kita tidak boleh melakukan kekerasan. Bahkan memukul pun tidak boleh itu di dalam SOP-nya, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam operasional ada yang berlebihan itu mungkin saja. Itu nanti menjadi tugas penyidik, siapa yang melakukan itu, jadi kita tidak bisa menunjuk si A, si B, nanti mendahului penyidikan. Tapi dalam praktek ada tindakan dari panitia yang berlebihan, ya kita temukan. Tapi soal bagaimana bentuknya dan sebagainya itu menjadi ranahnya kepolisian dalam penyelidikan. Wartawan: Salah satu peserta saat itu ingin mengundurkan diri di tengah kegiatan, kenapa panitia tidak mengizinkan?Wildan: Untuk almarhum yang memberi keterangan ingin mengundurkan diri, jadi memang ada salah satu dari almarhum tersebut meminta untuk mengundurkan diri, tetapi kami dari panitia menginginkan memang berangkat 37, balik juga 37. Jadi memang diusahakan mereka bersama teman-temannya terus dari awal hingga akhir. Wartawan: Kenapa saat itu ada peserta yang ingin mengundurkan diri?Wildan: Jadi yang ingin mengundurkan diri itu karena cuaca di situ sangat buruk sekali, jadi mungkin karena pengaruh cuaca tidak terbiasa, pada saat itu, cuaca sangat buruk, hujan terus. Wartawan: Adakah peserta yang tidak lolos saat cek kesehatan sebelum kegiatan?Wildan: Ada, almarhum saudara Syaits Asyam, itu memang tidak diperbolehkan lagi untuk lanjut jadi memang kami tarik waktu itu. Achiel: Jadi Syaits ditarik ke basecamp untuk tidak ikut survival. Saat di basecamp, almarhum Syaits Asyam diistirahatkan full, tidak ada kegiatan sama sekali, dari tanggal 18-20, dan didampingi langsung oleh panitia. Wartawan: Untuk menggali Syaits Asyam yang di Basecamp, tidak ada kegiatan apapun, tapi diagnosa dari RS Bethesda Yogyakarta mengatakan Syaits mengalami patah tulang di tangan, kaki, punggung, dan torax. Kegiatan apa sih yang terjadi saat itu? Achiel: Tadi dijelaskan selama di basecamp tidak ada kegiatan, karena diistirahatkan. Jadi teman-teman juga belum mengerti kalau ada patah dan sebagainya. Wartawan: Siapa yang mengantar Asyam ke RS karena dari keterangan pihak keluarga Asyam ditinggal di RS, jadi mereka tidak tahu siapa yang mengantarkan? Mohon dijelaskan. Wildan: Ada anggota dari kami pak yang mengantarkan Asyam ke RS. Wartawan: Tapi tidak memberitahukan ke keluarganya?Wildan: Jadi kondisinya waktu itu, berkas-berkas almarhum Asyam ini memang tertinggal di basecamp, soalnya ini didahulukan untuk peserta dan panitia operasioanal yang dipulangkan ke Yogya. Jadi, memang tertinggal pada saat itu, berkas nomer keluarga. Wartawan: Tapi keluarganya dihubungi tidak setelah itu?Wildan: Ya, kami dibantu dengan teman-teman jurusannya berusaha mencari nomor keluarganya untuk kami hubungi, cuma memang agak terlambat untuk mendapatkan nomor tersebut. Wartawan:Siapa panitia pendamping regu korban meninggal?Wildan: Pendampingnya 3 orang, ada saudara Angga, saudara Wahyudi, dan saudara Tu Bagus. Achiel: Jadi 3 orang itu yang dampingi untuk kelompok 1. Wildan: untuk almarhum Syaits Asyam dan Almarhum Ilham itu berada di regu 5 dengan pendamping saudara Tan, kemudian Diki Kurniawan, dan Hasrul Sandi. Tapi kita punya SOP dan SOP nya sama semua. Cuma memang kalau ada berlebihan itu di luar dari SOP. Memang ada hukuman fisik, tapi berupa push up, squad jump, jalan jongkok, tapi tidak menutup kemungkinan memang ada beberapa panitia yang berlebihan dalam memberikan hukuman. Ini menjadi ranahnya pihak berwajib untuk menyelidiki. (Gia)