Berita KH Said Aqil Terlibat Kasus Tanah Seminari Dinilai Hoax

Berita KH Said Aqil Terlibat Kasus Tanah Seminari Dinilai Hoax
Jakarta - Notaris Benediktus Bosu SH, Notaris di Kota Malang menyayangkan berkembangnya berita soal kepemilikan tanah di Desa Karangbesuki, Kota Malang, yang diributkan telah dibangun gedung Seminari. Padahal, menurutnya, ini berita bohong alias hoax. Kenyataannya, kata dia, di lokasi tersebut tidak ada gedung sama sekali, yang ada tanah kosong  ditumbuhi banyak  pohon kayu besar, dan tempatnya bersebelahan dengan pemakaman umum (kuburan). Sebagai notaris yang ikut bertanggungjawab atas pelepasan hak tanah yang diributkan itu, Benediktus menjelaskan berita yang berkembang yang beredar luas itu tidak valid dan bohong melibatkan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) Prof KH Said Aqil Siradj mengenai masalah penjualan tanah di Desa Karangbesuki, Kota Malang yang menurut berita telah dibangun seminari. Sementara, kata Benediktus yang dibangun untuk Seminari, itu terletak di Candi Bendar Menurutnya ada beberapa item yang harus disampaikan;pertama sekitar tahun 2002 yaitu H Denny Syaifullah membeli tanah dari H. Qosim di desa Karangbesuki, Kota Malang,  kemudian menjual kembali kepada Ibu Liza Megawati, lalu dijual lagi kepada pihak lain. Situasi tanah ini masih kosong tidak ada bagunan. Sekarang ditumbuhi banyak pohon kayu,  disebelah ada lahan pemakaman (kuburan) Kedua;Kalau proses pengalihan tanah itu dikaitkan dengan KH Said Aqil Siradj itu sama sekali tidak benar. Karena sebagai pihak notaris yang ditunjuk oleh Ibu Liza, setiap transaksi siapa penjual dan pembeli itu pasti diketahui. Sementara Benediktus Bosu, SH, tahu dengan KH Said Aqil Siradj itu sekitar tahun 2004 saat dia menjadi ketua tim  sukses Capres dan Cawapres Ibu Megawati dari KH Hasyim Muzadi, dimana dirinya juga ikut menjadi tim sukses dari KH Hasyim Muzadi. "Jadi urusan tanah di Candi Bandur, yang sekarang telah dibangun Seminari singkatnya bisa dikatakan tidak  ada campur tangan sama sekali dengan Pak Prof. KH Said Aqil Siradj," katanya, Jumat (13/1/2017). Jadi bila ada isu isu yang beritanya beredar luas bahwa Prof. KH Said Aqil Siradj memiliki tanah di Candi Bandur dan  bekerjasama dengan H Denny tidak benar. Informasi yang seperti itu tidak akurat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Benediktus Bosu, SH, dirinya berani bicara seperti ini, karena ada beberapa pihak yang menghubungkan dirinya. Pertama, dari wartawan yang banyak mempertanyakan masalah ini. Kedua, dari unsur aparat kepolisian yang meminta klarifikasi masalah ini. Sementara di lapangan sampai hari ini pun, banyak orang tidak tahu, bahwa lokasi itu dikaitkan dengan Pak KH Said Aqil Siradj. Itu  tidak benar. "Ini semua isu isu yang muncul, dimana saya sendiri tidak tahu dari mana sumbernya," ungkap dia di kantornya di Kota Malang,  Jatim (12-1-17). Tapi prinsipnya,  klarifikasi yang diungkapkan Benediktus Bosu,SH berani mempertanggungjawabkan kebenarannya. "Informasi dan berita yang berkembang saat ini tidak benar. Semua berita bohong. Saya berani dunia akhirat  mengatakan bahwa Prof. DR. KH Said Aqil Siradj sampai hari ini tidak ada urusan dengan tanah itu," tegasnya. Ia pun berharap, jangan sampai mengorbankan posisi Prof Dr KH Said Aqil Siradj dengan cara yang tidak benar dan tidak beretika. [caption id="attachment_173732" align="aligncenter" width="640"] Tanah diributkan di Desa Karangbesuki, Kota Malang, masih tanah kosong[/caption] Sementara menyangkut janji dari Prof. DR. KH Said Aqil Siradj akan membangun Islamic Center di desa Karangbesuki, Kecamatan Sukun Kota Malang. Itu juga Benediktus Bosu, SH tidak pernah tau. "Malah saya baru mendengar  diakhir  tahun 2016 setelah berita ini ramai di beritakan," tegasnya. Melihat situasi ini, Benediktus Bosu, SH kembali menegaskan mudah-mudahan jangan mengembangkan berita ini hanya untuk kepentingan tertentu. "Kasihan saya dengan Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, sebagai pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia. Karena saya tidak ingin suhu ketenangan di dalam tubuh PB NU terganggu. Dimana orang boleh mempolitisasi. Tapi jangan sampai merusak dan merugikan kebenaran. Seharusnya orang bicara kebenaran itu di lembaga manapun kalau itu kebenaran harus kita pertahankan. Tapi sekarang ini yang muncul satu berita kebenaran ditutupi dengan berita kebohongan.  Ini yang salah," ujarnya. Benediktus menilai berita yang muncul sekarang ini adalah berita kebohongan. Berita yang tidak valid dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.  Jadi peryataan peryataan itu menimbulkan suasana kebathinan yang tidak mengenakan. Ini sangat keji sekali memberitakan persoalan ini untuk satu posisi Prof. DR. KH Said Aqil Siradj sebagai tokoh agama juga pemimpin bangsa. Karena menurutnya,   PB NU ini harus kita jaga. Karena bila terjadi hal yang tidak baik, akan mengakibatkan dampak buruk bagi umat Islam dan NU khususnya dan berbahaya  bagi seluruh masyarakat Indonesia yang beragam ini. Sementara berita yang berkembang dari peryataan KH Lutfi Abdul Hadi,  mengenai lokasi tanah yang diributkan sekarang ini telah dibangun gedung seminari, bagi Benediktus Bosu, SH, sebagai notaris pelepasan hak atas tanah menyatakan juga tidak benar. Seminari terletak di Candi Bendar, sudah lama dibangun. Sedangkan tanah yang diributkan itu terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Sukun Kota Malang, yang dibeli dari H Qosim olehi H Denny  dan sudah dijual kepada Ibu Liza Megawati. Yang sampai saat ini kondisi dilapangan masih berupa lahan kosong yang ditumbuhi bayak pohon kayu, sebelahnya ada lahan pemakaman umum (kuburan)  dimana oleh Ibu Liza Megawati juga sudah dialihkan kepemilikannya. "Oleh karena itu saya menilai berita  bohong yang berkembang ini sangat keji. Dimana disebutkan tanah yang diributkan itu telah  dibangun Seminari untuk umat kristen, dan oleh Prof. DR. KH Said Aqil Siradj janjinya akan dibangun Islamic Center, sementara, tanah yang diributkan juga salah lokasinya. Ini berita tidak benar. Justru saya kuatir berita yang berkembang sekarang ini akan cendrung pada infiltrasi mengancam tolerensi antar umat beragama. Makanya saya berharap berita ini jangan berkembang lagi," tegas Benediktus,  yang juga tokoh umat Katolik di Malang. (wan)