Kisah Sukses Rumah Makan Adem Ayem

Kisah Sukses Rumah Makan Adem Ayem
Oleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute Di Solo, ada rumah makan yang betul betul mewakili cita rasa khas Solo, namanya Rumah Makan Adem Ayem. Ini rumah makan tua, lokasinya cukup strategis di jalan protokol, Jl Slamet Riyadi. Sejak masa kecil saya, era 1970-an sampai sekarang tetap berdiri tegak dengan penuh karakter, melayani para pelanggan maupun tamu-tamu yang bertandang ke Solo dari luar kota. Kekuatan dan keberhasilan Adem Ayem sehingga berjaya sampai sekarang, bukan semata karena menunya menyediakan aneka menu khas Solo, dan lezat. Itu memang benar tapi tetap saja itu relatif. Kekuatan Adem Ayem karena mampu membaca karakter dan psikologi warga setempat maupun warga pendatang model saya sekeluarga. Khususnya buat warga kota lain seperti saya yang dari kota lain tapi pernah mengalami masa kecil di Solo, Adem Ayem seakan memberi short cut atau jalan pintas buat saya sekeluarga untuk terhubung dengan apa saja yang serba Solo. Sementara oleh berbagai kendala, tidak bisa menelusuri dengan telaten dan penuh kesabaran seperti Mas M Djoko Yuwono atau mbak Wiwiek D Yuwono ketika berkunjung ke Solo atau ke kota-kota lain yang kaya aneka kuliner khas daerah bersangkuta. Kedua, terasa sekali kemurahan hati pemilik Adem Ayem dari sejak generasi pertama hingga generasi kedua yang mengelola rumah makan ini. Yaitu selalu menghidangkan porsi menu yang dipesan melebih porsi pas-pasan, namun tidak berlebihan. Porsi itu bisa saja untuk sepenuhnya satu orang, bilamana si pemesan lapar berat. Namun jika tidak, teman atau keluarga yang ikut menemaninya, bisa ikut pula menikmati, tanpa harus mengganggu porsi dari si pemesan utama. Inilah rahasia keberhasilan sebuah dunia usaha kuliner, yang mana melalui kisah sukses Adem Ayem, telah mengirim sebuah pesan penting bagi kita. Mengelola sebuah rumah makan atau kuliner, tetaplah pada sebuah visi: Melayani dan bukan untuk dilayani. Dan kalau ingin mendapat banyak, jangan ragu-ragu untuk memberikan dan mencurahkan segala milik kita buat kemanfaatan banyak orang. Sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat buat sesama. Bergerak di dunia bisnis, khususnya kuliner, agaknya falsafah dan ajaran agama kita, kiranya sangat menginsipirasi dan bahkan menjadi sumber inspirasi. (*)