Jokowi Optimis dengan Ekonomi Indonesia

Jokowi Optimis dengan Ekonomi Indonesia
Jakarta, Obsessionnews.com - Presiden Jokowi menyampaikan optimisnya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik. Presiden menyampaikan, dalam situasi sesulit apa pun, semua pihak harus optimis bahwa Indonesia akan dapat menjadi lebih baik. "Saya hanya ingin menyampaikan satu kata, yaitu optimisme. Jangan sampai kita kehilangan satu kata yang tadi saya sampaikan meskipun faktor-faktor eksternal tidak mendukung ke arah sana," ujar Jokowi di Jakarta, Kamis (24/11/2016. Menurut presiden, modal besar yang harus dimiliki bangsa Indonesia adalah optimisme untuk menghadapi segala tantangan. Sesulit apa pun situasi yang dihadapi, pasti ada peluang yang dapat dimanfaatkan. "Jangan kita membesar-besarkan sesuatu yang menyebabkan kita pesimis. Entah pengamat, entah ekonomi, entah media, tidak," imbuhnya. Bukan tanpa sebab dirinya menyerukan rasa optimisme ini. Di tengah kelesuan ekonomi global, Indonesia masih mampu memperoleh sejumlah capaian positif. Pertama ialah pencapaian di bidang kebijakan pengampunan pajak. "Tax amnesty kita sudah menjadi program tax amnesty yang paling sukses. Datanya ada," terangnya. [quote font="verdana" font_size="18" bgcolor="#" color="#000000" bcolor="#" arrow="no"]"Tax amnesty kita sudah menjadi program tax amnesty yang paling sukses. Datanya ada," terangnya.[/quote] Presiden melanjutkan, kebijakan pengampunan pajak periode pertama yang telah selesai pada beberapa waktu lalu kini akan dilanjutkan pada periode kedua. Untuk periode kedua sendiri, presiden memandang masih terdapat sejumlah potensi bagi penerimaan negara dari pelaksanaan kebijakan tersebut. "Sebetulnya pada pertengahan bulan November ini saya akan memulai lagi untuk sosialisasi pada periode yang kedua. Karena dari angka-angka yang kita lihat, terutama repatriasi ini masih mempunyai peluang yang sangat besar," ucapnya. Capaian berikutnya yang disinggung presiden ialah mengenai cadangan devisa Bank Indonesia. Sebagaimana diketahui, negara memerlukan devisa untuk melakukan transaksi pembayaran dengan luar negeri. Dengan kata lain, cadangan devisa adalah kekayaan suatu negara yang diperoleh dari perdagangan dengan luar negeri. Bank Indonesia, sebagai bank sentral di Indonesia, tahun ini berhasil meningkatkan cadangan devisanya. "Bisa kita lihat, melonjak dari kira-kira 100 (dalam juta USD) di awal tahun, sekarang sudah menjadi 115. Ini sebuah lonjakan yang cukup tajam dan antara lain berkat arus uang masuk karena tax amnesty," ungkap presiden. Demikian pula dengan transaksi perdagangan antar negara. Meski saat ini permintaan mengalami tren penurunan, Presiden Jokowi melihat adanya peluang yang dapat dimanfaatkan. Peluang tersebut di antaranya ialah dengan menyasar pada pasar-pasar baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dijajaki oleh Indonesia. "Masih banyak sekali sebetulnya negara-negara yang bisa dijadikan tujuan utama bagi ekspor kita yang berpuluh-puluh tahun tidak pernah kita lirik. Terutama negara-negara yang memiliki penduduk lebih dari 78 juta. Justru produk-produk yang bisa masuk ke sana adalah produk-produk UMKM kita," terangnya. Selama ini, Indonesia hanya berfokus untuk menjajaki pasar-pasar "tradisional" seperti Eropa, Amerika, dan juga Tiongkok. Padahal sejumlah negara lain seperti India, Sri Langka, dan Bangladesh merupakan pasar potensial yang dapat dituju oleh Indonesia. "Saya kira semakin banyak negara tujuan pasar yang bisa kita buka, berarti kita tidak menempatkan telur dalam keranjang-keranjang tertentu saja. Makin banyak negara yang kita garap, akan semakin aman ekonomi kita," ujar presiden. Selain capaian-capaian tersebut di atas, Presiden Jokowi juga sempat menyinggung capaian lainnya seperti pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan jadwalnya, jumlah investasi yang melampaui target, hingga soal penurunan harga gas industri. (Has) Area lampiran