Skandal Dimas Kanjeng, Marwah Intelektual, dan ICMI

Skandal Dimas Kanjeng, Marwah Intelektual, dan ICMI
Jakarta, Obsessionnews.com - Berbagai skandal penipuan atau kriminalitas terkait dengan uang bukanlah sesuatu yang mengherankan atau mengagetkan. Sudah sangat sering kita mendengar, membaca, dan melihat di tayangan media informasi yang serupa sepanjang sejarah. Dan tampaknya praktik penipuan yang menggunakan iming-iming uang, tak pernah sepi dari peminat. Demikian pula modus operandi  yang dikembangkan oleh para penipu dan kriminal itu terus berkembang dan tak kalah kreatif dibanding dengan para inventor dan inovator di segala bidang. [caption id="attachment_154489" align="alignleft" width="252"]Mujammad AS Hikam. Mujammad AS Hikam.[/caption] Pengamat politik Muhammad AS Hikam menuturkan, bukti dari kehebatan inovasi para penipu tersebut antara lain adalah para pihak yang menjadi korban penipuan bukannya kecewa, marah, atau melakukan upaya penuntutan. “Tetapi sebaliknya mendukung si penipu, memuji dan mengagung-agungkannya. Kalau perlu malah menganggap sebagai oang sakti, orang suci, dan entah apa lagi!” tandasnya seperti dikutip Obsessionnews.com dari blog The Hikam Forum, Jumat (30/9/2016). Kalau hal itu terjadi pada orang awam, lanjutnya, mungkin hal itu masih bisa dipahami secara nalar biasa. Karena kecanggihan para penipu memang seringkali di luar kapasitas orang awam untuk  menalarnya. Apalagi jika orang fokus kepada "hasil" yang  ditawarkan si penipu yang  biasanya juga di luar nalar. “Misalnya Anda memberi uang seratus ribu, Anda dalam tempo singkat mendapat seratus juta. Dengan sedikit manipulasi informasi dan kecanggihan teknologi, maka orang awam akan mudah kepincut dan melakukan apa yang  dikehendaki si penipu sampai kemudian ternyata uangnya ludes, dan janji pun menguap,” kata dosen Universitas Presiden ini. Hikam menambahkan, yang sangat sulit dipahami nalar adalah jika seorang tokoh yang  memiliki gelar akademis tertinggi, yakni Doctor of Philosophy (PhD), berpengalaman internasional dalam politik dan sosial. Serta yang  lebih dahsyat lagi adalah pimpinan salah satu sebuah organisasi kemasyaraktan (ormas) cendekiawan Islam paling terkemuka di Indonesia.  Juga menjadi mendukung dan memuja-muji orang si tersangka praktik penggandaan uang dengan kedok keahlian spiritual. Bukan saja mendukung dengan menjadi ketua yayasan yang  didirikan sang tersangka itu, sang tokoh itu juga terkesan rela mempertaruhkan nama dan reputasinya yang luar biasa itu untuk membela sang tersangka ketika ia dinyatakan terlibat kasus pembunuhan, selain penggandaan uang berjumlah miliaran rupiah. [caption id="attachment_154490" align="alignright" width="271"]Marwah Daud Ibrahim. Marwah Daud Ibrahim.[/caption] Sang intelektual dan pemimpin ormas cendekiawan berbasis agama tersebut tak lain adalah Marwah Daud Ibrahim, Sedangkan si tersangka penggandaan uang dan pidana pembunuhan adalah Dimas Kanjeng Taat Pribadi dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Marwah adalah Ketua Presidium Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), politisi Golkar, dan sederet lagi keterlibatan dalam organisasi terkemuka di negeri ini. Tak terlalu berlebihan jika Marwah disebut sebagai salah satu dari tokoh perempuan Indonesia saat ini yang  memiliki reputasi intelektual dan nama besar pada tataran internasional. Ia juga menjadi salah satu orang paling dekat dekat dengan Presiden ke-3 RI BJ. Habibie, sekaligus kepercayaan Habibie dalam mengelola ICMI sampai saat ini. Marwah bukanlah salah satu "korban" seperti ribuan orang yang kini terancam kehilangan uang yang  sudah disetorkan sebagai 'mahar' kepada Dimas. Marwah adalah pihak yang secara sadar menjadi pendukung dan pembela Dimas dengan argumentasi Dimas adalah seorang manusia luar biasa yang  diberi Tuhan kemampuan super natural. Atau yang  dalam istilah populer disebut 'karomah', kemampuan yang  di luar nalar yang  dimiliki para Waliyullah dan orang-orang suci. Selain itu, masih bagi Marwah, Dimas bisa dibandingkan dengan BJ Habibie dalam kapasitasnya yang  luar biasa di bidang iptek. Oleh karena itu Marwah memprotes keras penangkapan terhadap Dimas oleh Polres Probolinggo dan Polda Jatim. Marwah menilai penangkapan Dimas seperti teroris. "Kami datang sampaikan surat dari kuasa hukum kami Isa Yulianto, surat yang sama kami layangkan ke Presiden RI, Menko Polhukam, Kapolri dan Kompolnas. Case tentang yayasan pimpinan kami yaitu kami sebut yang mulia Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang ditangkap begitu dramatis seperti teroris," kata Marwah di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (26/9). Dimas ditangkap oleh polisi di padepokannya  terkait kasus pembunuhan seorang santrinya, Kamis (22/9) lalu. Menolak Sikap Marwah Hikam mengungkapkan dilihat dari perspektif hak asasi, tentu orang tak bisa melarang Marwah untuk bergabung dengan  ormas manapun atau memiliki keyakinan apapun. Termasuk keyakinannya seabsurd apapun terhadap kemampuan super natural yang  dimiliki Dimas. Namun, jika dilihat dari perspektif posisi sebagai intelektual dan perannya dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat, Marwah telah mempertaruhkan posisi kecendekiawanannya sedemikian rupa yang bisa berakibat buruk bagi organisasi yang  dipimpinnya. Dan juga kiprah kecendekiawanan yang selama ini diperjuangkan organisasi tersebut. “Secara pribadi saya menolak keras sikap Marwah membela Dimas dan kiprahnya dalam komunitas tersebut. Termasuk argumen Marwah yang  membandingkan kapasitas Dimas dengan  BJ Habibie,” kata Hikam. Mantan Menteri Riset dan Teknologi ini menilai statemen Marwah tersebut merupakan sebuah denigrasi terhadap reputasi, kredibilitas, dan capaian-capaian BJ Habibie. “ICMI harus mengambil jarak dan sikap yang  tegas terhadap pemimpinnya itu, agar peristiwa ini tidak menjadi polemik dan berbagai efek negatif yang  diakibatkannya terhadap ormas terkemuka dan berpengaruh tersebut,” tandasnya. Menurutnya, sikap diam para petinggi ICMI terhadap perilaku Marwah bukan hal yang menunjukkan kearifan, tetapi bisa disebut pembiaran. Dan marwah kecendekiawanan, khususnya yang  menggunakan nama Islam, pun akan ikut dipertaruhkan. (@arif_rhakim)