Parpol Islam Miskin Imajinasi Politik di Pilkada DKI 2017

Parpol Islam Miskin Imajinasi Politik di Pilkada DKI 2017
Jakarta, Obsessionnews.com - Dalam membangun suatu sistem politik demokrasi diperlukan bukan saja kekuatan secara fisik, tetapi juga kekuatan dalam imajinasi, atau yang disebut imajinasi politik (political imagination). Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengatakan, kekuatan suatu imajinasi politik ikut berkontribusi kepada munculnya daya tarik, greget (ghirah), serta kreativitas dari partai politik (parpol), para pemimpin dan pendukungnya. Dan tentu saja bagi publik secara umum, bahkan meluas kepada bangsa. [caption id="attachment_128576" align="alignright" width="331"]Muhammad AS Hikam. Muhammad AS Hikam.[/caption] “Para pemimpin unggulan dalam sejarah politik suatu bangsa biasanya berangkat dengan modal kekuatan fisik yang acapkali tak begitu besar. Tetapi mereka berhasil melakukan perubahan-perubahan besar, karena mereka memiliki imajinasi yang kuat dan inspiratif,” kata dosen Universitas Presiden, Cikarang, Jawa Barat, seperti dikutip Obsessionnews.com dalam tulisannya di blog The Hikam Forum. Senin (26/9/2016). Di Indonesia, lanjutnya,  model pemimpin imajinatif tidak kurang. Sebut saja para pendiri bangsa seperti Proklamator Bung Karno dan Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Sudirman, dan lain-lain. Mereka bukan tokoh-tokoh yang punya modal fisik (kekayaan, parpol besar, dukungan internasional) yang besar, namun berhasil menorehkan warisan besar (legacy) yang luar biasa bagi bangsa dan negara. Khususnya dalam umat Islam, sebagai bagian integral dalam NKRI, pun memiliki tokoh-tokoh besar yang memiliki imajinasi politik luar biasa, seperti HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Wahid Hasyim, dan lain-lain, yang menjadi referensi bagi para pemimpin generasi setelah mereka. [caption id="attachment_153469" align="alignnone" width="640"]Keakraban tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan, Sylviana Murni, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tajahaja Purnama atau Ahok, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat. Keakraban tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan, Sylviana Murni, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tajahaja Purnama atau Ahok, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat.[/caption] Hikam menilai di era pasca-reformasi imajinasi politik parpol dan elite parpol Islam makin kering.Oleh karena itu tidak lagi mampu memproduksi gagasan dan langkah-langkah strategis yang unggulan dalam menghadapi dinamika politik nasional. Kaum muslimin di negeri ini pernah menyaksikan sosok-sosok yang memiliki imajinasi politik yang diakui dunia dan menjadi pelopor gerakan pro-demokrasi melawan rezim Orde Baru (Orba), seperti almarhum Gus Dur. Di era pasca-reformasi, ketika parpol Islam ikut menikmati kekuasaan secara lebih bebas dan mandiri, yang terjadi justru letargi dalam pemikiran, gagasan besar, dan imajinasi politik para elitenya. Mantan Menteri Riset dan Teknologi ini mengatakan, Pilkada DKI Jakarta 2017 bisa menjadi salah satu indikasi terjadinya kemiskinan imajinasi politik parpol Islam dan elitenya. Di ibukota RI  ini ada empat parpol yang bisa disebut mewakili konstituen muslim, yakni PPP, PKB, PAN dan PKS. Jakarta juga dikenal sebagai kota metropolitan yg memiliki basis massa Islam sangat besar. Demikian pula kiprah organisasi masyarakat sipil (OMS) berbasis Islam yang sangat aktif. Namun demikian, ujar Hikam, fakta politik menunjukkan bahwa kekuatan parpol Islam dalam menentukan pasangan calon (paslon) Pilkada bisa dikatakan lemah. PKS, parpol Islam yang  paling berhasil dalam pengaderan dan memiliki sistem manajemen politik paling baik pun dibuat "tak berkutik." Sebab partner koalisinya, Gerindra, menjadikan Sandiaga Uno sebagai calon wakil gubernur (cawagub) mendampingi Anies Baswedan  yang non-partisan. Apalagi PPP, PKB, dan PAN. Mereka cukup puas dalam posisi "mengamini" paslon yang ditentukan Partai Demokrat, Agus Harimurti-Sylviana Murni. “Kegagalan empat  parpol berbasis konstituen Islam ini bukan hanya karena mereka tidak memiliki kekuatan basis massa atau kursi di DPRD. Tetapi lebih karena para elite parpol tersebut tidak memilki imajinasi politik yang mampu membuat mereka menerobos sekat-sekat partikularisme, dan menawarkan gagasangagasan yang inklusif sehingga menarik utk ‘dijual' kepada rakyat Jakarta yang jelas berperspektif politik yang inklusif dan bukan sektarian. PKS, yg notabene memiliki kapasitas manajemen dan kaderisasi paling baik pun, masih tetap belum mampu meretas sekat-sekat tersebut. Parpol Islam di DKI masih belum move on dan tetap menggunakan formula-formula jadul partikularisme,” tutur mantan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini. Lebih jauh Hikam mengatakan, PKB sebagai parpol yang lahir dari gagasan besar Gus Dur dengan ciri anti-sektarian dan kebangsaan, malah terjebak dalam pragmatisme. Sama juga halnya dengan PAN yang sebelumnya diberitakan akan mengusung mantan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, tokoh inklusif dan merakyat serta berkarakter pengubah permainan (game changer) itu. “Elite PAN tampaknya juga tidak berdaya menghadapi tekanan pragmatisme. Apalagi sejak awal partai ini sudah diingatkan oleh sesepuhnya, Amien Rais, agar tidak mendukung petahana! Sementara itu PPP saya kira memang tetap menjadi partai Islam konservatif, sehingga tak bisa diharapkan untuk meninggalkan 'pakem' lamanya,” katanya. Sejarah adalah sebuah gerak dialektik menuju ke depan. Kendati aktor-aktor sejarah berkesempatan ikut membuat sejarah, tetapi hanya mereka yang memiliki imajinasi kreatif dan berorientasi ke depan saja yang survive dan berjaya. Jika kondisi parpol Islam masih seperti saat ini sebagaiman terlihat di DKI, Hikam khawatir apakah di masa depan kekuatan Islam ini akan mampu menjadi salah satu penentu perpolitikan bangsa atau hanya menjadi pelengkap saja. (@arif_rhakim)